Menag Ajak Teladani KH Sanusi Baco, Ulama Pendiri Pesantren NU yang Disayangi Semua Kalangan

Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengajak santri meneladani akhlak mulia KH Sanusi Baco, ulama pendiri Pesantren NU Soreang yang dikenal rendah hati dan dicintai banyak pihak.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Menag Ajak Teladani KH Sanusi Baco, Ulama Pendiri Pesantren NU yang Disayangi Semua Kalangan
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengajak santri meneladani akhlak mulia KH Sanusi Baco, ulama pendiri Pesantren NU Soreang yang dikenal rendah hati dan dicintai banyak pihak. (AntaraNews)

Menteri Agama (Menag) RI, Nasaruddin Umar, baru-baru ini menyerukan kepada seluruh santri untuk meneladani sosok ulama besar, Anregurutta Haji (AGH/KH) Sanusi Baco. Beliau merupakan pendiri Pesantren Nahdlatul Ulum (NU) Soreang yang berlokasi di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Ajakan ini disampaikan Menag saat bersilaturahmi dengan para pengelola dan santri Pondok Pesantren NU Soreang pada Sabtu lalu. Nasaruddin Umar menekankan pentingnya mencontoh karakter dan falsafah hidup AGH Sanusi Baco yang dinilai sangat istimewa dan relevan untuk masa kini.

Menurut Menag, AGH Sanusi Baco adalah figur langka yang memiliki akhlak terpuji dan patut dipertahankan oleh generasi penerus, khususnya para santri. Sosoknya yang tidak banyak bicara namun mampu memberikan kepuasan bagi umat menjadi inspirasi utama bagi pendidikan karakter di pesantren.

AGH Sanusi Baco dikenal sebagai ulama besar asal Sulawesi Selatan yang memiliki akhlak sangat baik. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan bahwa selama mengenalnya, AGH Sanusi Baco jarang sekali tersinggung dan sosoknya sangat disayangi oleh semua kalangan di Sulawesi Selatan.

“Anregurutta (AGH) Sanusi Baco, sosok manusia langka. Beliau tidak banyak ngomong. Dia puas sekali melihat, santri dan umatnya puas,” ujar Nasaruddin Umar. Pernyataan ini menunjukkan betapa dalamnya kesan yang ditinggalkan oleh sang ulama.

Menag juga meminta agar madrasah dan santri belajar langsung dari pendiri pondok, AGH Sanusi Baco, sebagai teladan utama. “Saya minta kepada semua, madrasah yang paling utama adalah belajar kepada pendiri pondok, AGH Sanusi Baco. Jangan menyesal masuk di pesantren, apalagi di Pesantren NU ini,” katanya.

Meskipun Pondok Pesantren ini adalah Nahdliyin, AGH Sanusi Baco dikenal sebagai sosok yang hadir untuk semua golongan. Karakter ini menjadikan beliau panutan dalam membangun persatuan dan toleransi di tengah masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, Menag Nasaruddin Umar mengajak pembina, pengelola pondok, serta para santri untuk mengutamakan keberkahan hidup. Hal ini merupakan salah satu falsafah penting yang diajarkan oleh AGH Sanusi Baco.

“Yang kita cari bukan besar, banyak, jabatan tinggi sekali, tapi yang kita cari di hidup ini berkah. Apa artinya itu semua kalau tidak berkah malah membebani, tapi kalau berkah, biar kecil, sedikit bisa terasa banyak. Ini falsafah yang diajarkan Anregurutta,” tutur Menag.

Selain itu, Menag juga mendorong para santri untuk belajar beragam ilmu, baik agama maupun pengetahuan umum. Beliau menekankan bahwa pusat dari segala ilmu adalah tauhid, yang menjadi akar utama.

“Jangan hanya mencari ilmu agama, tapi juga pengetahuan umum. Jangan tergila-gila ilmu umum dan meninggalkan ilmu agama. Ibarat pohon, akarnya adalah tauhid, cabangnya ilmu lain. Jadi, belajar ilmu apa pun, tetap jangan lupa akarnya, ilmu agama,” terangnya.

Menteri Agama Nasaruddin Umar juga menyoroti keunggulan pesantren dalam membentuk karakter santri. Menurutnya, pesantren memiliki metode yang efektif dalam mengintegrasikan pendidikan karakter dan intelektual.

Pembentukan karakter di pesantren dilakukan secara intensif pada malam hari melalui kegiatan pengajian. Proses ini dianggap sangat efektif dalam menanamkan nilai-nilai luhur dan akhlak mulia kepada para santri.

Sementara itu, penguatan intelektual para santri dilakukan pada siang hari dengan pembelajaran ilmu pengetahuan. “Hebatnya pesantren karena pembentukan karakter itu di malam hari. Mengaji terus, efektif sekali. Kalau intelektualitasnya di siang hari,” ucap Menag, menjelaskan sinergi antara kedua aspek pendidikan tersebut.

Pendekatan holistik ini menjadikan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang komprehensif. Pesantren tidak hanya mencetak individu yang cerdas secara akademik tetapi juga memiliki integritas moral dan spiritual yang kuat, sesuai dengan teladan KH Sanusi Baco.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi