Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) justru semakin mempertegas peran matematika sebagai fondasi utama dalam pengambilan keputusan berbasis data dan pengelolaan risiko di berbagai sektor.
Kajian Program Studi S1 Business Mathematics STEM Universitas Prasetiya Mulya menunjukkan bahwa matematika akan menjadi kebutuhan strategis dalam menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari serangan siber, krisis keuangan, perubahan iklim, hingga bencana alam dalam satu dekade mendatang.
Ketua Program Studi S1 Business Mathematics STEM Universitas Prasetiya Mulya, Dr. Yeftanus Antonio, mengatakan masih banyak masyarakat yang memandang matematika sebatas kemampuan berhitung. Padahal, matematika merupakan fondasi utama berbagai inovasi teknologi, termasuk AI yang berkembang pesat saat ini.
“Banyak orang mengira AI akan menggantikan matematika. Faktanya, AI justru dibangun di atas fondasi matematika yang kuat. Tanpa matematika, tidak akan ada machine learning, analitik data, maupun berbagai teknologi cerdas yang kini digunakan di berbagai sektor industri,” ujar Yeftanus.
Menurutnya, meningkatnya penggunaan teknologi digital juga diikuti oleh bertambahnya risiko bisnis, termasuk ancaman keamanan siber. Berbagai kasus kebocoran data yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pentingnya pendekatan berbasis matematika untuk mengukur dan mengelola risiko.
Melalui teori peluang, teori jaringan, dan pemodelan risiko, matematika membantu perusahaan menghitung probabilitas serangan siber, memperkirakan dampak finansial yang ditimbulkan, hingga menyusun strategi mitigasi yang lebih efektif, termasuk dalam pengembangan produk asuransi siber.
Di sektor keuangan, matematika juga berperan penting dalam mengidentifikasi risiko sistemik. Pengalaman krisis keuangan global 2008 menjadi pelajaran bahwa kegagalan satu institusi dapat memicu efek domino terhadap sistem keuangan secara keseluruhan.
Dengan model matematika risiko sistemik, regulator dan bank sentral dapat mendeteksi potensi kerentanan lebih awal sehingga kebijakan yang diambil menjadi lebih tepat sasaran.
Peran matematika juga semakin penting dalam menjawab tantangan perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan. Pemanfaatan data satelit dan machine learning memungkinkan peneliti memodelkan kemampuan mangrove dalam menyerap karbon, sementara model spasial-temporal digunakan untuk memetakan titik api lahan gambut dan menghitung dampak ekonomi maupun kesehatan yang ditimbulkannya.
Selain itu, matematika turut digunakan dalam pemetaan risiko banjir, simulasi pergerakan air, hingga estimasi kerugian ekonomi akibat bencana yang semakin sering terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
“Ke depan, isu seperti kota cerdas berkelanjutan, ketahanan terhadap perubahan iklim, transformasi digital, dan perkembangan AI membutuhkan kemampuan kuantifikasi yang kuat. Matematika menjadi bahasa yang membantu kita memahami risiko, membuat prediksi, dan menghasilkan keputusan yang lebih baik,” tambah Yeftanus dikutip Kamis (25/6).
Ia menilai kemampuan mengintegrasikan matematika, analitik data, kecerdasan buatan, manajemen risiko, dan pengambilan keputusan bisnis akan menjadi kompetensi penting yang dibutuhkan dunia kerja di masa depan.
Seiring meningkatnya pemanfaatan data dan AI di berbagai bidang, matematika dinilai tidak hanya tetap relevan, tetapi semakin berperan sebagai instrumen utama dalam memahami kompleksitas, memprediksi risiko, dan mendukung pengambilan keputusan yang lebih akurat.