Juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2016-2020, Febri Diansyah menilai, saat ini KPK berada dalam kondisi paling kelam. Ketika dipimpin Firli Bahuri. Menurutnya, hanya ada kontrovesi yang diciptakan, dibandingkan prestasi.
"Saat ini merupakan masa paling kelam bagi KPK selama ada, kita enggak tahu besok atau tahun depan. Tapi ini paling kelam. Pada 20 bulan lebih tepatnya dari Desember-Agustus 2021 'KPK Era Baru' cenderung memunculkan kontroversi dibandingkan prestasi," kata Febri saat diskusi vitrual Weekend Talk 9: 'Kontroversi Firli Bahuri: Pelemahan Pemberantasan Korupsi dan Regresi Demokrasi', Minggu(15/8).
Dia membeberkan kontroversi yang diciptakan saat kepemimpinan Firli. Mulai dari polemik Harun Masiku, pelanggaran etik ketua KPK terkait helikopter, revisi peraturan perjalanan dinas, dan dewas KPK gagal meyakinkan publik lakukan pengawasan terhadap pimpinan.
"Kebijakan TWK dan 'penyingkiran'57 pegawai kpk berkontribusi semakin merusak kredibilitas kpk, kebijakan pimpinan tentu saja," ungkapnya.
Tidak hanya itu, pelemahan KPK juga dinilai dari hasil rendahnya komitmen politik hukum dan problematika kepemimpinan kpk era baru saat ini. Dia juga menilai OTT KPK saat ini pun mulai berkurang dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
"Tidak dapat diharapkan dewan pengawas KPK menjalankan fungsinya," ungkapnya.
Sementara itu, dia menilai penyelematan KPK hanya dapat dilakukan dengan cara membatalkan UU KPK hasil revisi. Serta mengembalikan aturan UU 30 tahun 2002 tentang Komisi Tindak Pidana Korupsi.
"Merombak total pimpinan KPK," ucapnya.