Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit, Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, baru-baru ini mengambil keputusan penting. Mereka melepasliarkan seekor lutung abu-abu (Trachypithecus cristatus) kembali ke habitat aslinya. Satwa primata ini sebelumnya ditemukan dalam kondisi luka parah, diduga kuat akibat menjadi korban tabrak lari.
Pelepasliaran lutung abu-abu tersebut dilakukan pada Kamis malam, 16 Oktober, di wilayah hutan Kabupaten Kotawaringin Timur. Keputusan ini diambil meskipun kondisi lutung belum pulih sepenuhnya dari luka yang dideritanya. BKSDA Sampit dibantu oleh Komunitas Pecinta Satwa Liar Sampit dalam memastikan proses pelepasliaran berjalan aman.
Langkah cepat ini didasari oleh kekhawatiran akan kondisi psikologis lutung jika terlalu lama berada di penangkaran. Satwa liar, terutama primata, sangat rentan mengalami stres. Stres yang berlebihan dapat berdampak fatal bagi kelangsungan hidup mereka.
Advertisement
Advertisement
Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, menjelaskan alasan di balik keputusan pelepasliaran yang terkesan terburu-buru ini. "Walaupun belum 100 persen sehat, kami putuskan untuk segera dilepasliarkan," ujarnya di Sampit pada Sabtu (18/10). Ia menambahkan bahwa lutung abu-abu tersebut sudah bisa makan dan minum secara mandiri, serta memiliki kemampuan alami untuk mengobati dirinya di alam.
Observasi yang dilakukan menunjukkan bahwa kondisi lutung abu-abu telah membaik secara signifikan. Luka sobek di tubuhnya sudah dijahit dan menunjukkan proses penyembuhan. Perilaku satwa ini juga mulai aktif kembali, dengan nafsu makan yang terus meningkat setelah perawatan awal.
Meskipun demikian, hasil observasi juga menunjukkan adanya patah tulang ringan pada tangan lutung tersebut. Namun, setelah mempertimbangkan berbagai aspek, BKSDA Sampit tetap memutuskan untuk mengembalikan lutung abu-abu ke habitat aslinya. Prioritas utama adalah mencegah stres berkepanjangan yang bisa mengancam nyawa satwa.
Advertisement
Muriansyah menegaskan, "Satwa liar seperti ini sangat rentan stres saat ditangkarkan terlalu lama. Jika stres, dampaknya bisa fatal hingga menyebabkan kematian." Pernyataan ini menjadi dasar kuat bagi BKSDA untuk tidak menunda pelepasliaran lebih lama lagi.
Advertisement
Rehabilitasi satwa liar, khususnya primata seperti lutung abu-abu dan bekantan, seringkali menghadapi tantangan besar. Muriansyah menjelaskan bahwa spesies ini tergolong sulit untuk direhabilitasi. Hal ini karena mereka sangat sensitif terhadap kondisi penangkaran dan lingkungan buatan manusia.
Ketika berada di dalam kandang terlalu lama, bahkan dengan pasokan makanan yang cukup, satwa-satwa ini sering menunjukkan perilaku murung. Mereka cenderung tidak bersemangat dan kehilangan insting alami mereka. Kondisi ini dapat menghambat proses pemulihan fisik dan mental mereka secara keseluruhan.
Sensitivitas tinggi ini membuat upaya penangkaran jangka panjang menjadi kontraproduktif bagi kesejahteraan satwa. Oleh karena itu, keputusan untuk melepasliarkan lutung abu-abu lebih awal dari perkiraan adalah demi kebaikan satwa itu sendiri. Ini merupakan upaya untuk menjaga kelangsungan hidup dan adaptasinya di alam liar.
Advertisement
Pelepasliaran yang cepat memungkinkan lutung abu-abu untuk kembali beradaptasi dengan lingkungan alaminya. Ini juga memberikan kesempatan bagi satwa tersebut untuk memanfaatkan kemampuan penyembuhan diri dan perilaku alami yang dimilikinya. Dengan demikian, peluang kelangsungan hidupnya di alam liar menjadi lebih besar.
Sumber: AntaraNews