Loge de Vriendschap Surabaya, tempat ritual menir Belanda

Sabtu, 23 Juni 2012 09:24 Reporter : Moch. Andriansyah
Loge de Vriendschap Surabaya, tempat ritual menir Belanda Loge de Vriendschap Surabaya. merdeka.com/Moch Andriansyah

Merdeka.com - Gedung Loge de Vriendschap di Surabaya, Jawa Timur adalah salah satu cagar budaya. Sayang, tak banyak orang tahu sejarah bangunan yang kini menjadi kantor badan Pertanahan Nasional (BPN) itu. Oleh menir-menir Belanda, gedung ini dijadikan sebagai tempat memanggil roh orang mati.

Ada banyak bangunan sejarah di Surabaya, yang dikenal masyarakat, hanya sekadar peninggalan Belanda. Itu pun dikenali dari bentuk bangunan dan prasasti yang ada di bangunan tersebut. Sebab, Surabaya kini lebih banyak dihuni masyarakat urban. Bahkan, bangunan-bangunan sejarah itu sudah tak terlihat karena dihimpit bangunan pertokoan dan perkantoran berdiri berderet.

Salah satu bagunan sejarah yang ditetapkan pemerintah sebagai cagar budaya adalah Gedung Loge de Vriendschap. Gedung ini berdiri di Jalan Tunjungan 80, tepatnya berada berseberangan dengan Hotel Majapahit yang juga memiliki nilai sejarah perjuangan Arek-arek Suroboyo di zaman penjajahan.

"Loge de Vriendschap itu tempat perkumpulan aliran kebatinan orang-orang Belanda yang sudah ada di Surabaya sejak tahun 1809," kata Sutarji (46), membuka percakapan di sebuah warung kopi yang berada tepat di depan kiri Gedung Loge de Vriendschap (kantor BPN Surabaya).

Di lokasi inilah, para mener Londo berkumpul bersama para pribumi yang mempunyai kedudukan --pejabat-pejabat tinggi waktu itu-- untuk melakukan misi kemanusiaan dan ritual kebatinan. "Proses ritual ini tidak ada kaitannya dengan dogma agama, tapi lebih pada persoalan keyakinan terhadap roh-roh orang mati dan untuk menumbuhkan rasa persaudaraan," lanjut Sutarji, yang melek sejarah karena cerita almarhum orang tuanya juga menjadi saksi perobekan bendera Merah Putih Biru di Gedung Oranje (pada masa pendudukan Jepang diganti nama Yamato dan sekarang menjadi Hotel Majapahit).

Lihat itu logo yang menempel pada atap gedung, sahut Zainal sambil menunjuk ke atas, apa arti lambang jangka dan mistar itu? "Lambang itu memiliki arti khusus berkaitan dengan ritual dilakukan mener-mener Belanda."

Menurut Zainal yang lebih akrab disapa Jack Bro itu, jangka dan mistar yang membentuk empat persegi serta di tengahnya terdapat dua tangan berjabatan itu sama persis dengan lambang dimiliki kaum Freemason. "Logo yang dikelilingi lingkaran warna merah itu mirip dengan aliran yang pernah dilarang keras oleh Pemerintahan Soekarno (presiden pertama RI). Kalau dari buku yang pernah saya baca, di tengah mistar dan jangka itu bergambar huruf G, bukan jabat tangan. Jadi di situlah perbedaannya," terang dia.

Freemason adalah sebuah organisasi persaudaraan yang asal-usulnya antara akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17. Organisasi ini sangat tertutup dan ketat dalam penerimaan anggota barunya. Organisasi ini bukan merupakan organisasi agama dan tidak berdasarkan pada teologi apapun. Tujuan utamanya adalah membangun persaudaraan dan pengertian bersama akan kebebasan berpikir dengan standar moral yang tinggi.

"Freemasonry sendiri adalah simbolisasi dari pengertian pekerja keras yang memunyai kebebasan berpikir. Kata mason berasaldari bahasa Prancis. Maçon artinya tukang batu," katanya.

Menurut Jack Bro, Freemason sendiri berasal dari Bahasa inggris atau dalam Bahasa Belanda Vrijmetselarij, yang mengandung makna sebuah organisasi persaudaraan internasional. "Freemasonry pada zaman modern dimulai dengan berdirinya Grand Lodge di London, Inggris pada tahun 1717."

Sebagian peneliti Barat berkeyakinan bahwa Freemasonry sebenarnya sudah didirikan di Skotlandia pada abad ke-14, saat Ksatria Templar ditumpas oleh Raja Perancis Philipe le Bel dan Paus Klemens V.

"Di tahun 1945-1950an, loge-loge atau loji-loji Freemasonry, oleh kaum pribumi disebut sebagai Rumah Setan,” terang Jack Bro.

Hal ini disebabkan, lanjut dia, ritual kaum Freemason selalu melakukan pemanggilan arwah orang mati. "Seperti halnya ritual yang dilakukan di halaman Gedung Loge de Vriendschap ini. Tapi, lama-kelamaan hal ini mengusik istana. Sehingga pada Maret 1950, Presiden Soekarno memanggil tokoh-tokoh Freemasonry tertinggi Hindia Belanda yang berpusat di Loji Adhucstat (sekarang Gedung Bappenas-Menteng) untuk mengklarifikasi hal tersebut."

Di depan Soekarno, masih menurut dia, tokoh-tokoh Freemasonry ini mengelak dan menyatakan jika istilah “Setan” berasal dari pengucapan kaum pribumi terhadap “Sin Jan” (Saint Jean) yang merupakan salah satu tokoh suci kaum Freemasonry. Walau mereka berkelit, namun Soekarno tidak percaya begitu saja. Akhirnya, Februari 1961, lewat Lembaran Negara Presiden Soekarno membubarkan dan melarang keberadaan Freemasonry di Indonesia .

"Lembaran Negara ini kemudian dikuatkan oleh Keppres Nomor 264 tahun 1962 yang membubarkan dan melarang Freemasonry dan segala derivat-nya seperti Rosikrusian, Moral Re-armament, Lions Club, Rotary Blub, dan Baha’isme. Sejak itu, loji-loji mereka disita oleh negara," kata dia lagi dengan lagak bak sejarawan andal sembari menghisab rokoknya.

Namun, 38 tahun kemudian, Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur mencabut Keppres nomor 264/1962 tersebut, dan mengeluarkan Keppres nomor 69 tahun 2000 tanggal 23 Mei 2000. Sejak itulah, keberadaan kelompok-kelompok Yahudi seperti Organisasi Liga Demokrasi,

Rotary Club, Divine Life Society, Vrijmetselaren-Loge (Loge Agung Indonesia) aau Freemasonry Indonesia, Moral Rearmament Movement, Ancient Mystical Organization Of Rosi Crucians (AMORC) dan Organisasi Baha’i menjadi resmi dan sah kembali di Indonesia.

"Begitu cerita The Secret of Illuminati di Indonesia, termasuk ritual khusus yang dilakukan mener-mener Londo di Loge de Vriendschap Surabaya ini," tegas dia sambil kembali menghisap rokoknya.

Sekarang, kondisi Gedung Loge de Vriendschap cukup memprihatinkan. Tembok-temboknya lapuk dimakan usia, tetapi masih berdiri kokoh. Pinggir kiri, kanan dan belakang bangunan ini terlihat agak kumuh dan ditumbuhi ilalang cukup lebat. Sementara halaman bagian depan, berdiri toko dan perkantoran yang disewakan.

"Kopi-kopi, ngobrol doang sampai mulut berbusa nggak ngopi-ngopi," sergah si Mak pemilik warung dengan logat Suroboyoan sambil terkekeh-kekeh.

Sementara kebetulan, di sekitar lokasi bangunan berdiri di atas tanah seluas 7.310 meter persegi itu, terlihat dua wanita paruh baya asal Belanda sedang asyik memotret gedung. "Kami hanya memotret gedung untuk mengabadikan bangunan-bangunan peninggalan nenek moyang kami di sini (Surabaya)," kata salah satu perempuan Belanda itu dengan Bahasa Inggris. [war]

Topik berita Terkait:
  1. Mistis
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini