Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) telah menyelenggarakan program pelatihan komprehensif bagi tiga pilar aparat pemerintah di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kegiatan ini berlangsung dari Selasa (9/9) hingga Kamis (11/9), dengan tujuan utama membangun sistem deteksi dini serta pencegahan efektif terhadap penyebaran paham radikal terorisme.
Pelatihan tersebut secara spesifik menargetkan Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas), Bintara Pembina Desa (Babinsa), serta lurah atau kepala desa. Ketiga unsur ini dipilih karena mereka merupakan pondasi pemerintahan terdepan yang memiliki pemahaman mendalam tentang kondisi masyarakat di tingkat kelurahan dan desa.
Brigadir Jenderal Polisi Wawan Ridwan, selaku Direktur Pembinaan Kemampuan BNPT, menegaskan pentingnya penguatan kapasitas aparat di garis depan ini. Mereka diharapkan mampu mendeteksi dan mencegah potensi penyebaran paham radikal di wilayahnya masing-masing, sehingga ancaman terorisme dapat diantisipasi sejak dini.
Advertisement
Advertisement
Brigjen Pol. Wawan Ridwan menjelaskan bahwa tiga pilar aparat pemerintah ini menjadi sasaran utama pelatihan karena posisi strategis mereka. Mereka adalah garda terdepan yang paling dekat dengan masyarakat, sehingga memiliki pemahaman unik tentang dinamika sosial di lingkungan mereka. "Ini (tiga pilar) yang harus kami perkuat sehingga mereka memahami dan mengetahui bahkan bisa mendeteksi dan mencegah paham radikal yang terjadi di wilayahnya," kata Brigjen Pol. Wawan dalam acara penutupan kegiatan pelatihan, Jumat (12/9).
BNPT secara konsisten berupaya memperkuat kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi ancaman radikal terorisme di tingkat komunitas. Program pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan aparatur pemerintahan dalam melakukan deteksi dini dan upaya pencegahan, yang pada akhirnya diharapkan dapat menekan penyebaran ideologi kekerasan di masyarakat.
Capaian yang diharapkan dari program ini adalah ketika aparat pemerintahan terdepan, termasuk tiga pilar dan penyuluh agama, memiliki pemahaman yang kuat. Mereka diharapkan mampu mendeteksi potensi paham radikal terorisme yang mungkin muncul di wilayah mereka, sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan lebih awal. Dengan demikian, penyebaran atau aksi terorisme dapat dicegah sebelum terjadi.
Advertisement
Advertisement
Sholehuddin, Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Muhammadiyah Jakarta sekaligus Direktur Pusat Kajian Moderasi Beragama, turut menekankan pentingnya peran empat unsur ini. Ia menyebut lurah/kepala desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta penyuluh agama harus memahami potensi penyebaran radikalisme karena keberadaan mereka yang selalu di tengah-tengah masyarakat. "Tiga pilar ada lurah, babinsa, bhabinkamtibmas, plus penyuluh agama. Itu memang karena keempat-empatnya itu kan ada dan bersama masyarakat," ungkap Sholehuddin.
Oleh karena itu, ketiga pilar dibekali dengan pengenalan mendalam mengenai arti radikal terorisme dan berbagai potensi yang ada di masyarakat. Sholehuddin juga menggarisbawahi pentingnya memberdayakan peran serta masyarakat dalam membangun kewaspadaan kolektif. Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari para peserta pelatihan yang merasakan manfaat langsung.
Fika Wulan Hartati, Lurah Jempong Baru, menyampaikan bahwa pelatihan ini membuka wawasan baru terkait ancaman terorisme. "Kegiatan pelatihan tiga pilar ini, saya menjadi terbuka wawasannya mengenai terorisme karena memang selama ini belum pernah ada pelatihan seperti ini. Jadi bisa mengetahui secara detail dan mendalam terkait masalah terorisme," ujar Fika. Ia juga menilai pelatihan ini menjadi sarana untuk memperluas komunikasi antar aparatur lintas wilayah, mengingat banyak peserta dari seluruh NTB hadir.
Advertisement
Senada dengan Fika, Lurah Penatoi Haerurahman juga mengakui pentingnya deteksi dini dan menyatakan bahwa kegiatan pelatihan serupa perlu terus dilakukan. "Harus ada pencegahan dini, istilahnya di situlah mungkin kami bisa dari awal mendeteksi. Mungkin nanti diharapkan kolaborasi di antara Babinsa, Bhabinkamtibmas, dengan kepala desa atau pun lurah atau penyuluh agama," kata Haerurahman, menegaskan pentingnya sinergi antar pihak dalam upaya pencegahan.
Sumber: AntaraNews