Setibanya di Bandara Istanbul Sabiha Gokcen, Turki, para pelancong akan disambut hangat oleh pemandangan unik: kucing-kucing yang berkeliaran bebas. Mereka dengan nyaman mengamati mobilitas manusia, seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari hiruk pikuk kota. Kehadiran anabul ini seringkali menjadi penghilang penat bagi para wisatawan yang baru tiba.
Fenomena Kucing Istanbul, yang oleh warga setempat disebut sokak kedisi, telah menjadi rahasia umum. Hewan berkaki empat ini dapat ditemukan di berbagai lokasi strategis, mulai dari bandara, pintu masuk kafe, hingga pusat perbelanjaan seperti pasar dan mal. Kehadiran mereka menambahkan sentuhan khas pada pengalaman berwisata di kota ini.
Warga lokal maupun turis tidak segan untuk berhenti sejenak, menyapa, dan berinteraksi dengan kucing-kucing menggemaskan tersebut. Sikap ramah ini menunjukkan bagaimana Kucing Istanbul telah diakui sebagai “hewan peliharaan kolektif”, berbeda dengan pandangan umum terhadap binatang liar di banyak kota lain. Ini mencerminkan budaya hormat yang mendalam terhadap makhluk hidup.
Advertisement
Advertisement
Keterikatan mendalam antara Kucing Istanbul dan kota ini tidak dapat dilepaskan dari budaya serta nilai-nilai Islam yang dominan di Turki. Pemandu wisata lokal, Aret, menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW sangat mencintai kucing, sebagaimana tercatat dalam berbagai hadis. Salah satu sabda Rasulullah menyebutkan bahwa kucing itu tidak najis dan termasuk hewan yang sering berkeliling di sekitar manusia.
Ada juga kisah terkenal tentang Nabi Muhammad yang rela memotong jubahnya demi tidak membangunkan kucing yang sedang tidur di atasnya. Riwayat ini menegaskan larangan menyiksa atau menelantarkan kucing, menanamkan nilai kasih sayang terhadap hewan dalam ajaran Islam. Hal ini menjadi fondasi kuat bagi perlakuan baik terhadap kucing di Istanbul.
Selain nilai agama, kucing juga memiliki peran penting dalam sejarah peradaban Islam di Kekaisaran Ottoman. The Economist pada tahun 2017 mencatat bahwa kucing diyakini melindungi buku dan perpustakaan dari serangan tikus. Sebelum penemuan mesin cetak, buku-buku adalah harta tak ternilai yang rentan rusak oleh tikus yang memakan kertas dan menggunakannya untuk sarang.
Advertisement
Kucing-kucing ini menjadi pelindung utama, tidak hanya bagi dunia intelektual tetapi juga bagi kehidupan rumah tangga sehari-hari. Kehadiran ratusan ribu kucing di Istanbul pada era Kekaisaran Ottoman juga membantu mengendalikan populasi tikus. Banyak rumah di Istanbul kala itu terbuat dari kayu, dan kucing berperan vital dalam melindungi struktur bangunan dari kerusakan yang disebabkan oleh tikus.
Advertisement
Saat ini, Istanbul dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern yang mendukung kehidupan para anabul menggemaskan ini. Di sekitar Masjid Hagia Sofia dan Masjid Sultanahmet, misalnya, wisatawan dapat menemukan mesin penjual otomatis yang menyediakan makanan ringan khusus untuk kucing. Dengan memasukkan koin, makanan akan keluar, dan kucing-kucing seolah mengerti bahwa perut mereka akan terisi.
Di jalanan menuju Menara Galata, turis dan warga dapat menemukan rumah-rumah kecil yang berfungsi sebagai tempat tinggal bagi sokak kedisi. Rumah-rumah ini dilengkapi dengan mangkuk makanan dan air minum yang selalu terisi, menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap kesejahteraan hewan. Ini adalah bukti nyata dari harmoni yang terjalin.
Jika berjalan ke kawasan Balat yang dipenuhi kafe rumahan dan toko antik berwarna-warni, kucing-kucing di sana juga seringkali menanti untuk diusap kepalanya oleh siapa pun yang lewat. Kucing-kucing di Istanbul umumnya ramah dan tenang, mudah mendekati orang asing untuk bermanja atau sekadar meminta jajanan. Interaksi ini menciptakan pengalaman yang unik bagi pengunjung.
Advertisement
Turki juga telah mengesahkan undang-undang ketat mengenai perlakuan terhadap hewan. Mereka yang terbukti menyakiti atau mengabaikan hewan, termasuk kucing, dapat dikenakan hukuman denda hingga penjara. Kebijakan ini semakin memperkuat posisi Kucing Istanbul sebagai bagian yang dilindungi dan dihargai dalam masyarakat.
Sumber: AntaraNews