Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari baru-baru ini meninjau langsung pembangunan hunian sementara (huntara) di Desa Simpang Opak, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan kesiapan 600 unit huntara yang dibangun oleh Danantara bagi para pengungsi.
Qodari menyatakan bahwa pengungsi yang sebelumnya tinggal di tenda dan posko pengungsian akan segera dipindahkan ke unit-unit hunian sementara tersebut secara bertahap. "Kami mengecek langsung huntara yang disiapkan Danantara. Kabar baiknya, pengungsi yang selama ini berada di tenda akan segera dipindahkan ke huntara ini," kata Qodari usai mengecek hunian pada Kamis (15/1), sebagaimana dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu (17/1).
Kunjungan ini merupakan tindak lanjut atas instruksi Presiden Prabowo Subianto terkait pemulihan pascabencana banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah kota/kabupaten di Aceh. Di kompleks huntara Simpang Opak, KSP Qodari secara khusus mengingatkan kontraktor untuk memastikan bahwa hunian sementara ini nyaman dan layak bagi para pengungsi.
Advertisement
Advertisement
Untuk meningkatkan kenyamanan, sejumlah perbaikan signifikan telah dilakukan pada hunian sementara di Simpang Opak. Salah satu perbaikan penting adalah pemasangan plafon di setiap unit, yang bertujuan untuk mengurangi suhu panas di dalam hunian.
Pemasangan plafon ini merupakan implementasi dari arahan Presiden Prabowo Subianto sebelumnya, yang meminta adanya pelapis di bawah atap agar hunian tidak terasa panas. "Huntara ini sudah dipasang plafon. Jadi, tidak panas lagi. Kita juga sudah lihat ada yang pakai ranjang, yang belum menyusul, sedang dalam proses," ujar Qodari, menunjukkan komitmen terhadap kondisi yang lebih baik.
Selain plafon, penyediaan tempat tidur juga sedang dalam proses untuk melengkapi setiap hunian. Upaya ini memastikan bahwa pengungsi dapat menempati tempat tinggal yang lebih manusiawi dan nyaman dibandingkan kondisi di tenda pengungsian.
Advertisement
Advertisement
Kompleks huntara di Simpang Opak dinilai memiliki lokasi yang sangat strategis karena kawasannya ramai dan mudah diakses. Di sekitar lokasi hunian, tersedia berbagai fasilitas dasar yang penting bagi kehidupan sehari-hari pengungsi, seperti akses jalan raya, masjid, pemukiman warga, serta warung-warung.
Selain itu, fasilitas pendukung lainnya seperti dapur umum, klinik kesehatan, dan area bermain anak juga tersedia di dekat kompleks. "Ini bukan lokasi terpencil. Lebih layak dan manusiawi dibandingkan dengan tinggal di tenda. Di sini fasilitas dasar tersedia, dan di sebelahnya juga sedang dibangun hunian tetap," jelas KSP Qodari.
Yang menarik, tepat di sebelah kompleks huntara ini, pemerintah juga sedang membangun hunian tetap (huntap) untuk para pengungsi. Ini berarti, setelah huntap rampung, pengungsi dapat berpindah dan menempati hunian permanen yang lebih stabil.
Advertisement
Advertisement
Menurut siaran resmi dari Kantor Staf Presiden, Koordinator HAKA Pembangunan Huntara Aceh Tamiang, Yusuf Sitorus, melaporkan bahwa per Kamis sore, sebanyak 154 Kepala Keluarga (KK) telah berhasil dipindahkan dari posko pengungsian. Mereka kini mulai mengisi unit-unit huntara yang telah disiapkan.
Warga yang dipindahkan ke huntara di Simpang Opak ini berasal dari Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, salah satu daerah yang terdampak parah oleh banjir bandang. Di Desa Sukajadi, sekitar 300 rumah rusak dan hilang akibat hanyut terbawa arus banjir.
Yusuf menambahkan bahwa proses pemindahan warga dari tenda pengungsian ke huntara akan berlangsung selama kurang lebih 2 pekan. "Pemindahan dilakukan bertahap agar penempatan warga lebih tertata dan nyaman," pungkasnya, menekankan pentingnya proses yang teratur dan terencana.
Advertisement
Sumber: AntaraNews