Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) secara aktif membahas potensi penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke Bosnia dan Herzegovina. Diskusi penting ini dilakukan secara daring pada Kamis (8/1), melibatkan Wakil Menteri P2MI Christina Aryani dan Duta Besar Indonesia untuk Sarajevo, Manahan M.P. Sitompul. Pertemuan ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran komprehensif mengenai kondisi ketenagakerjaan serta kebijakan yang berlaku di negara tersebut.
Wakil Menteri P2MI, Christina Aryani, menyatakan bahwa meskipun terdapat minat kerja sama skema Government to Government (G2G), KP2MI memilih untuk menahan langkah tersebut sementara waktu. Hal ini dilakukan untuk menyamakan persepsi dengan KBRI Sarajevo, memastikan pemahaman yang utuh tentang kebutuhan riil dan regulasi ketenagakerjaan di Bosnia dan Herzegovina. Pendekatan hati-hati ini diharapkan dapat menciptakan skema penempatan yang aman dan berkelanjutan bagi para PMI.
Selain potensi penempatan PMI, pembahasan juga mencakup penguatan sinergi lintas kementerian dan perwakilan Indonesia di luar negeri, khususnya dalam sektor pekerja migran. Pemerintah Bosnia dan Herzegovina sendiri telah menyatakan ketertarikannya pada skema G2G, yang disampaikan oleh delegasi Labor and Employment Agency Bosnia dan Herzegovina saat berkunjung ke Indonesia pada 16 Desember lalu. Upaya kolaboratif ini menjadi kunci dalam mengoptimalkan perlindungan dan penempatan PMI.
Advertisement
Advertisement
Menjajaki Peluang Kerja Sama dan Tantangan Penempatan PMI di Bosnia
KP2MI menunjukkan kehati-hatian dalam menindaklanjuti potensi kerja sama penempatan PMI skema G2G dengan Bosnia dan Herzegovina. Wakil Menteri P2MI Christina Aryani menegaskan pentingnya menyamakan persepsi dengan KBRI Sarajevo terlebih dahulu. Langkah ini krusial untuk memahami secara mendalam kondisi ketenagakerjaan, kebutuhan riil, serta kebijakan yang berlaku di negara tujuan tersebut.
Data menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2024, terdapat 46 pekerja migran yang ditempatkan ke Bosnia dan Herzegovina, sementara di tahun 2025 tercatat delapan orang. Namun, Wamen Christina Aryani menggarisbawahi bahwa angka-angka ini kemungkinan belum mencerminkan kondisi faktual di lapangan. Ada potensi keberangkatan non-prosedural atau pekerja yang masuk dengan visa kunjungan, sehingga memerlukan perhatian lebih lanjut dari pemerintah.
Pemerintah Bosnia dan Herzegovina sendiri telah menunjukkan minat terhadap kerja sama penempatan pekerja migran melalui skema G2G. Ketertarikan ini disampaikan oleh delegasi Labor and Employment Agency Bosnia dan Herzegovina yang telah berkunjung ke Indonesia. Meskipun demikian, KP2MI berupaya memastikan semua aspek telah dipertimbangkan matang sebelum melangkah lebih jauh dalam kerja sama ini.
Advertisement
Advertisement
Sektor Potensial dan Keunggulan Tenaga Kerja Indonesia
Sektor hospitality saat ini mendominasi penempatan Pekerja Migran Indonesia di Bosnia dan Herzegovina, mencakup posisi seperti waiter, asisten koki, dan barista. Skema penempatan yang paling umum adalah melalui jalur private to private (P2P) dan sebagian kecil secara mandiri. Hal ini menunjukkan adanya permintaan yang signifikan di sektor tersebut bagi tenaga kerja terampil Indonesia.
Wakil Menteri Christina Aryani menyoroti potensi besar Indonesia sebagai penyedia tenaga kerja global, didukung oleh bonus demografi yang dimiliki. Di sisi lain, banyak negara Eropa, termasuk Bosnia dan Herzegovina, menghadapi tantangan penuaan penduduk (aging population) dan kekurangan tenaga kerja produktif. Kondisi ini menciptakan peluang bagi PMI untuk mengisi kekosongan tenaga kerja di berbagai sektor.
Berdasarkan pemetaan yang dilakukan oleh KP2MI, sektor-sektor lain yang dinilai potensial selain hospitality meliputi kesehatan, industri otomotif, manufaktur, serta juru las atau welder. Indonesia memiliki keunggulan dalam pasokan tenaga kerja terampil, terutama melalui pendidikan vokasi yang terus dikembangkan. Keunggulan ini menjadi modal penting dalam memenuhi kebutuhan pasar kerja global yang terus berkembang.
Advertisement
Advertisement
Harapan Sinergi dan Skema Penempatan Berkelanjutan
Wamen Christina Aryani mengharapkan dukungan aktif dari KBRI Sarajevo untuk melakukan pemetaan kebutuhan riil pasar kerja di Bosnia dan Herzegovina. Pemetaan ini harus mencakup kebijakan ketenagakerjaan dan keimigrasian setempat. Informasi yang akurat dan terkini akan menjadi dasar penting dalam merancang skema penempatan yang aman, legal, dan berkelanjutan bagi PMI.
KP2MI juga membuka peluang kerja sama di bidang pelatihan dan sertifikasi, termasuk jika negara tujuan ingin terlibat langsung. Keterlibatan negara tujuan dapat memastikan kesesuaian kurikulum pelatihan dengan kebutuhan spesifik mereka. Pendekatan kolaboratif ini akan meningkatkan kualitas dan relevansi keterampilan PMI, sehingga lebih siap bersaing di pasar global.
Pola kerja sama seperti ini telah mulai diminati oleh beberapa negara, termasuk untuk sektor pelaut dan anak buah kapal. Hal ini menunjukkan bahwa model kemitraan dalam pengembangan kurikulum dan sertifikasi memiliki potensi besar untuk diterapkan lebih luas. Dengan sinergi yang kuat antara KP2MI dan perwakilan Indonesia di luar negeri, diharapkan penempatan PMI dapat berjalan lebih terstruktur dan memberikan manfaat optimal bagi semua pihak.
Advertisement
Sumber: AntaraNews