Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengungkapkan bahwa eskalasi massa di Stadion Kanjuruhan, Malang, tak terjadi secara sporadis setelah pluit panjang berakhirnya pertandingan antara Arema FC dan Persebaya pada Sabtu (1/10). Hasil investigasi Komnas HAM menemukan bahwa penambahan massa muncul setelah 20 menit setelah peluit panjang pertandingan dari stadion menuju lapangan.
"Pada 14 sampai 20 menit pasca-peluit panjang semua masih terkendali, pemain Arema menyampaikan rasa permintaan maaf karena ada tradisi seperti itu (kalau kalah) dan Aremania turun ke stadion untuk memberikan semangat, ayo ini salam satu jiwa! jangan menyerah! suasana masih terkendali. Ini terkonfirmasi," kata Komisioner Komnas HAM Choirul Anam saat memaparkan hasil investigasi di kantor Komnas HAM, Rabu (12/10).
Namun menurut Anam, situasi berubah panas dan massa digeruduk rasa cemas saat ada tembakan gas air mata pada pukul 22.08 lewat 59 detik. Waktu tersebut dikatakan Anam, menjadi penanda dan pemicu insiden yang saat ini menelan 132 korban jiwa dan ratusan orang lainnya luka-luka.
"Penembakan gas air mata pertama kali ditembak ke tribun selatan pada 22.08.59 WIB, angka ini penting untuk mengukur kapan gas air mata itu. Sebab itu pemicu utama yg menyebabkan korban jiwa dan luka," tegas Anam.
Advertisement
Anam menambahkan, soal model senjata yang ditembakan dan jenis peluru gas air mata digunakan akan diurai pada laporan akhir investigasi Komnas HAM dalam Tragedi Kanjuruhan yang akan rampung pekan depan.
Diketahui Tragedi Kanjuruhan terjadi pada Sabtu (1/10) malam usai laga Arema FC versus Persebaya. Pada laga itu, Arema tumbang 2-3 di tangan Persebaya.
Pendukung Arema atau yang disebut Aremania turun ke lapangan usai pluit panjang tanda berakhirnya pertandingan. Mereka meluapkan kekecewaan akibat kekalahan tim berjuluk Singo Edan tersebut.
Eskalasi massa yang tidak terkendali di lapangan, membuat aparat bertindak dengan menembakkan gas air mata dan menyebabkan korban jiwa 132 nyawa akibat kekurangan oksigen, sesak nafas, berdesakan karena panik akibat tembakan gas air mata tersebut.
Sementara itu, sebanyak 583 orang menjadi korban luka dan 33 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit. Polisi pun sudah menetapkan enam orang sebagai pihak bertanggungjawab atas inisden ini.
Advertisement
Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) akan merampungkan laporan hasil investigasi tragedi Kanjuruhan dan menyerahkan ke Presiden Joko Widodo pada Jumat (14/10) pekan ini. Kesimpulan investigasi TGIPF akan disusun mulai besok Rabu (12/10).
"Besok mulai hari Rabu tim akan segera melakukan analisis, sekaligus menyusun kesimpulan dan rekomendasi sehingga diharapkan laporan ini bisa saya serahkan kepada bapak presiden pada hari Jumat pekan ini," kata Ketua TGIPF Kanjuruhan Mahfud Md dalam jumpa pers di Kantor Kemenko Polhukam, Selasa (11/10).
Menko Polhukam ini memastikan investigasi TGIPF Kanjuruhan bisa rampung dengan cepat. Presiden Jokowi sebelumnya meminta TGIPF menyelesaikan investigasi kurang dari sebulan.
"Jadi kalau dulu kami minta satu bulan, presiden menyatakan kalau bisa dua minggu, kami insyaallah lebih cepat lagi 10 hari saja, artinya hari Jumat ini sudah bisa diserahkan," lanjut Mahfud.
Advertisement
Mahfud akan berkoordinasi dengan FIFA terkait aturan pelaksanaan pertandingan sepak bola. FIFA akan mengutus timnya ke RI untuk membahas hal tersebut.
"Bila ada sesuatu yang perlu dikoreksi terkait aturan yang ditetapkan oleh FIFA dalam pelaksanaan di lapangan, maka konsolidasinya di tingkat kami akan kita bicarakan dengan pihak FIFA yang akan mengutus timnya kesini untuk melakukan penataan ulang terhadap pesepakbolaan di Indonesia," tuturnya.
Mahfud menjelaskan, bila ada kesalahan dengan peraturan sepak bola, pihaknya akan merekomendasikan ketentuan hukum baru. Dia ingin memastikan pertandingan sepak bola Indonesia bisa berjalan sehat.
"Tapi bila kesalahan itu terkait dengan aturan perundang-undangan kita di dalam negeri maka kita akan merekomendasikan terobosan hukum baru untuk memastikan agar jalannya pertandingan sepakbola dan kompetisi nasional sepakbola berjalan sehat dan bertanggung jawab," ucap Mahfud.
Reporter: Muhammad Radityo Priyasmono/Liputan6.com