Verri Sanovri, pria berusia 50 tahun asal Serpong, Tangerang Selatan, kembali menunjukkan konsistensinya dalam tradisi mudik Lebaran yang unik. Ia memilih moda transportasi sepeda untuk pulang kampung ke Palembang, Sumatera Selatan, sebuah rutinitas yang telah dilakoninya sejak tahun 2018. Perjalanan ini menepis anggapan bahwa mudik selalu identik dengan kemacetan kendaraan bermotor atau antrean transportasi umum yang padat.
Pada tahun 2024 ini, Verri memulai perjalanannya dari Serpong pada pukul 09.00 WIB dan tiba di Pelabuhan Ciwandan, Cilegon, sekitar pukul 20.00 WIB. Ini merupakan kali pertama ia menyeberang melalui Pelabuhan Ciwandan, mengikuti skema pengalihan arus mudik roda dua. Strategi perjalanannya dirancang matang untuk memastikan keamanan dan kenyamanan selama di jalan.
Dengan berbekal sepeda jenis Surly yang laik jalan dan perlengkapan bikepacking lengkap, Verri menargetkan tiba di rumah orang tuanya di Palembang pada malam takbiran. Meskipun menghadapi rute menantang dan cuaca ekstrem, konsistensi Mudik Sepeda Verri Sanovri ini didasari oleh kecintaannya pada hobi bersepeda.
Advertisement
Advertisement
Sejak tahun 2018, Verri Sanovri tidak pernah absen melakukan Mudik Sepeda ke Palembang, sebuah tradisi yang ia jalani dengan penuh dedikasi. Ia menegaskan bahwa perjalanannya selalu aman dan tanpa kendala berarti, terutama karena ia menghindari bersepeda di malam hari. Konsistensi ini bukan hanya tentang mencapai tujuan, tetapi juga menikmati setiap proses perjalanan yang dilaluinya.
Bagi Verri, bersepeda bukan sekadar alat transportasi, melainkan bagian integral dari aktivitas kesehariannya dan sumber hiburan utama. "Satu-satunya hiburan itu ya naik sepeda," ujarnya, menunjukkan betapa Mudik Sepeda menjadi ekspresi dari hobinya. Meskipun keluarga sempat mempertanyakan pilihannya, Verri tetap teguh pada komitmennya, membuktikan bahwa hobi dapat menjadi motivasi kuat.
Pilihan Mudik Sepeda ini juga bukan semata-mata untuk menghemat biaya, meskipun ia mengakui ada penghematan sekitar Rp28.500. Lebih dari itu, ini adalah bentuk dedikasi terhadap hobi yang ia cintai. Konsistensi Verri Sanovri dalam Mudik Sepeda mencerminkan semangat petualangan dan kemandirian dalam merayakan Lebaran.
Advertisement
Advertisement
Verri Sanovri memiliki strategi perjalanan yang terukur untuk memastikan Mudik Sepeda berjalan lancar dan aman. Ia sengaja memilih untuk tidak bersepeda di malam hari demi menghindari risiko kecelakaan dan kejahatan di jalan. Setibanya di Pelabuhan Ciwandan, ia memilih naik kapal pada jam 12 malam agar bisa beristirahat penuh di dalam kapal.
Strategi ini memungkinkan Verri tiba di Lampung pada waktu Subuh, sehingga ia bisa melanjutkan perjalanan dengan kondisi fisik yang segar. Persiapan fisiknya pun tidak khusus, sebab bersepeda jarak jauh sudah menjadi rutinitas hariannya. Sepeda jenis Surly yang digunakannya juga telah dipastikan kelaikannya, menjamin keamanan selama menempuh rute panjang.
Untuk menunjang Mudik Sepeda, Verri membawa perlengkapan bikepacking lengkap yang disimpan di tas sepedanya. Perlengkapan tersebut meliputi tenda, kantong tidur (sleeping bag), kompor portabel, hingga peralatan menyeduh kopi. Kelengkapan ini memastikan ia siap menghadapi berbagai kondisi di perjalanan, mulai dari cuaca panas hingga melintasi kawasan hutan.
Advertisement
Selama perjalanan, Verri juga kerap berinteraksi dengan orang-orang baik yang ditemuinya. Ia sering beristirahat di posko mudik dan bahkan pernah mendapatkan kopi dingin dari warga di Cikupa. Pengalaman ini menambah kenikmatan dan cerita tersendiri dalam setiap perjalanan Mudik Sepeda yang ia lakukan.
Advertisement
Tahun 2024 menandai pengalaman pertama bagi Verri Sanovri untuk menyeberang melalui Pelabuhan Ciwandan dalam perjalanan Mudik Sepeda. Penggunaan pelabuhan ini merupakan bagian dari skema pengalihan arus mudik roda dua yang diterapkan pemerintah. Adaptasi terhadap rute baru ini menunjukkan fleksibilitas Verri dalam menjalani tradisi mudiknya.
Verri memperkirakan akan tiba di rumah orang tuanya di Palembang pada tanggal 20 malam, bertepatan dengan malam takbiran. Momen ini menjadi puncak dari perjalanan panjangnya, di mana ia dapat berkumpul dengan keluarga untuk merayakan Idul Fitri setelah menempuh ribuan kilometer dengan sepeda.
Meskipun pihak keluarga, termasuk orang tua dan istri, sempat mempertanyakan keputusannya untuk Mudik Sepeda, Verri tetap teguh. Ia menjelaskan bahwa pilihannya didasari oleh hobi dan kecintaannya pada bersepeda, bukan sekadar mencari keuntungan finansial. "Dari orang tua dan istri selalu bilang, 'Ngapain mudik naik sepeda?'. Cuma karena saya hobi, jadi dijalani saja," jelasnya.
Advertisement
Setelah merayakan Idul Fitri bersama keluarga di Palembang, Verri berencana untuk kembali ke Serpong dengan cara yang sama. Ia akan kembali mengayuh sepedanya melintasi aspal Sumatera, melanjutkan petualangan Mudik Sepeda yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dirinya.
Sumber: AntaraNews