Nafis Arif Fiyanto, pemuda berusia 16 tahun asal Desa Nalumsari, Jepara, Jawa Tengah, telah menorehkan prestasi gemilang di dunia batik. Meskipun menyandang difabel tuna rungu dan wicara serta tidak bisa menulis, ia berhasil meraih juara pertama lomba membatik tulis tingkat eks Karesidenan Pati pada Mei 2025. Prestasinya ini membuktikan bahwa semangat dan ketekunan mampu mengalahkan segala keterbatasan yang ada.
Perjalanan Nafis sebagai perajin batik difabel dimulai dari program "outing class" yang diadakan oleh Sekolah Luar Biasa (SLB) Cendono. Kunjungan ke Workshop Muria Batik milik Yuli Astuti di Desa Peganjaran, Kudus, menjadi titik balik ketertarikannya pada seni membatik. Lingkungan yang penuh warna dan aktivitas membatik yang dinamis di Muria Batik berhasil membangkitkan motivasi Nafis untuk belajar.
Awalnya tanpa bekal keterampilan menggambar atau membatik, Nafis diasah kemampuannya oleh Yuli Astuti dengan penuh kesabaran dan ketelatenan. Dari sekadar memegang canting hingga menggoreskan malam panas ke kain, ia terus berlatih. Meskipun jari sempat melepuh akibat tetesan malam, semangat Nafis tidak pernah surut untuk terus mengulang praktik membatik hingga mahir.
Advertisement
Advertisement
Sebelumnya, Nafis memang pernah diajarkan membatik di sekolahnya melalui program vokasi, namun ketertarikannya belum muncul secara signifikan. Motivasi Nafis berubah drastis setelah melihat aneka warna, corak, dan motif batik yang beragam di Workshop Muria Batik. Ia juga terinspirasi oleh para pekerja yang dengan sabar menuangkan malam ke atas kain mori.
Keterbatasan komunikasi menjadi tantangan besar bagi Nafis, yang tidak bisa mendengar, berbicara, bahkan menulis atau membaca. Untuk mengatasi hal ini, ia kerap dibantu oleh temannya sesama difabel, Lia Ayu, yang mahir berbahasa isyarat dan menulis. Lia Ayu menjadi penerjemah utama yang membantu menyampaikan instruksi kepada Nafis, memastikan setiap arahan dapat dipahami dengan baik.
Yuli Astuti mengakui bahwa mendampingi Nafis membutuhkan kesabaran berlipat ganda. Komunikasi harus dilakukan berulang kali, baik melalui bahasa isyarat maupun gerakan tangan, agar instruksi yang dimaksud tersampaikan dengan jelas. Namun, di antara tujuh siswa SLB Cendono yang berlatih di Muria Batik, Nafis menunjukkan potensi yang sangat menonjol dengan goresan yang rapi dan tekad yang kuat.
Advertisement
Advertisement
Ketekunan Nafis dalam berlatih membuahkan hasil yang membanggakan. Ia dipercaya mewakili Kudus dalam lomba membatik tulis untuk penyandang difabel. Dengan segala keterbatasannya, Nafis berhasil meraih juara pertama lomba membatik tingkat eks Karesidenan Pati pada bulan Mei 2025, sebuah pencapaian yang luar biasa dan menginspirasi.
Saat ditanya perasaannya setelah memenangkan lomba, Nafis hanya bisa tersenyum lebar dan memberi isyarat gembira dengan kedua tangannya. Meskipun kata-kata tidak keluar dari mulutnya, ekspresi bahagia di wajah dan kedipan matanya sudah cukup untuk menyampaikan perasaannya. Kebahagiaan ini muncul setelah berulang kali meminta bantuan Lia Ayu untuk berkomunikasi.
Kini, Nafis bukan lagi sekadar peserta pelatihan, melainkan seorang perajin batik difabel yang berprestasi dengan motivasi tinggi untuk terus mengasah kemampuannya. "Sekarang dia bisa nyanting dengan bagus, sehingga perkembangannya cukup bagus bagi seorang pembatik pemula," kata Yuli Astuti, mengapresiasi kemajuan pesat Nafis.
Advertisement
Advertisement
Di bawah bimbingan Yuli Astuti, Muria Batik Kudus tidak hanya berfungsi sebagai workshop produksi, tetapi juga menjadi rumah pembelajaran yang inklusif. Tujuh anak difabel, mayoritas tuna rungu dan wicara, termasuk Nafis, mendapatkan kesempatan untuk belajar tahap demi tahap proses membatik. Mereka diajarkan mulai dari nyolet, menitik, hingga nyanting, untuk menghasilkan batik dengan berbagai motif khas Kudus.
Muria Batik telah melahirkan ratusan motif khas Kudus yang sarat makna kearifan lokal, seperti motif Parijoto, Menara, Kretek, Kapal Kandas, Pakis Aji, Daun Cengkeh, Tembakau, dan Gading Patiayam. Beberapa di antaranya melibatkan Nafis dan rekan-rekannya dalam proses pembuatannya. Selain pelatihan, Muria Batik juga bekerja sama dengan SLB untuk program magang dan membuka paket "Sehari Mengenal Batik" bagi siswa atau pengunjung umum.
Perjalanan Muria Batik juga tak lepas dari dukungan Pertamina. Sejak 2017, Yuli Astuti menjadi bagian dari program pembinaan UMKM Pertamina, yang memungkinkan Muria Batik menembus pasar lebih luas. Berkat dukungan ini, Muria Batik telah mengikuti pameran di Malaysia, berbagai pameran di tanah air, hingga ajang Inacraf, bahkan menjadi penjual terbaik. Yuli Astuti merasa kesempatan yang diberikan Pertamina sangat luar biasa, memungkinkannya bertemu eksportir dan menjadi mentor bagi UMKM lain.
Advertisement
Taufiq Kurniawan, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, menjelaskan bahwa program ini sejalan dengan komitmen perusahaan dalam memberdayakan lebih dari 200 difabel di Jawa Tengah. Kisah Nafis Arif Fiyanto menjadi bukti nyata bahwa dengan ketekunan, pendampingan, dan dukungan lingkungan, seorang pemuda difabel dapat menjelma menjadi perajin batik berprestasi yang menginspirasi banyak orang.
Sumber: AntaraNews