Kisah Anak Petani Zaman Penjajahan: Cuma Boleh 'Sekolah Surga' yang Diawasi Centeng

Sabtu, 17 Agustus 2019 16:00 Reporter : Adi Nugroho
Kisah Anak Petani Zaman Penjajahan: Cuma Boleh 'Sekolah Surga' yang Diawasi Centeng Tukimin, saksi sejarah. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Usianya sudah 90 tahun, tapi fisiknya masih kuat. Kesehariannya mencari rumput untuk makan kambing peliharannya. Namanya Tukimin, dia merupakan saksi hidup di zaman penjajahan kolonial Belanda sampai pendudukan Jepang pada tahun 1942.

"Sekolah pada zaman kolonial itu paling rendah harus anak lurah, kalau bukan anak lurah belum boleh," kata Tukimin berbincang dengan merdeka.com di kediamannya, Kampung Jatibulak, Kelurahan Jatimulya, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jumat (16/8).

Tukimin berasal dari keluarga petani di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Dia anak pertama dari delapan bersaudara. Orangtuanya memiliki sekitar empat hektar ladang untuk bercocok tanam padi. Cukup untuk menghidupi sekeluarga.

Karena anak petani, dia tak bisa mengenyam pendidikan di sekolah formal ketika itu. Adapun sekolah tersebut hanya ada di pusat karesidenan atau pusat pemerintahan (setingkat provinsi). "Yang belajar di sana bisa pintar bahasa Inggris," ujar dia.

Sementara anak-anak petani, kata dia, lebih banyak belajar di madrasah, cenderung belajar agama dibandingkan sekolah umum. Meski demikian, pelajar di sekolah madrasah tak bebas belajar begitu saja. Aktivitas di sekolah mendapatkan pengawasan dari centeng-centeng Belanda.

"Yang mengawasi orang pribumi yang berkhianat," kata dia.

Tukimin sendiri mengaku baru sekolah madrasah di usia 16 tahun, ketika Belanda sudah ditaklukkan oleh Jepang yang masuk tahun 1942. Bukan sekolah umum, melainkan madrasah yang cenderung belajar agama. "Kalau orang dulu bilangnya, sekolah surga saja," kata pria yang memiliki 36 cucu ini.

Begitu merdeka, kata dia, penduduk pribumi baru bisa belajar membaca. Ketika itu, lewat program pemberantasan buta huruf yang digelorakan oleh Presiden Soekarno. Sedikit demi sedikit, anak-anak miskin mulai bisa membaca dan menulis. [ded]

Topik berita Terkait:
  1. HUT Ke 74 RI
  2. Sejarah Indonesia
  3. Bekasi
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini