PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) berhasil mencetak kinerja positif yang mengesankan hingga Februari 2026. Pencapaian ini terutama didorong oleh strategi ekspansi yang agresif dalam menyalurkan kredit, di tengah kondisi perekonomian yang masih memerlukan kehati-hatian. Bank Mandiri, sebagai salah satu bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN), menunjukkan resiliensi dan pertumbuhan yang solid.
Piter Abdullah, Direktur Program dan Kebijakan Prasasti Center for Policy Studies, menilai pertumbuhan kredit Bank Mandiri lebih disebabkan oleh kebijakan bank yang lebih agresif dalam menyalurkan dana. Menurutnya, hal ini bukan semata-mata karena peningkatan signifikan permintaan kredit di pasar. Meskipun demikian, Piter menegaskan bahwa kinerja Bank Mandiri tetap baik, terlihat dari indikator permodalan, likuiditas, dan profitabilitas yang terjaga.
Kinerja cemerlang ini tercermin dari laporan keuangan bulanan Februari 2026, di mana penyaluran kredit mencapai Rp1.513,1 triliun, tumbuh 15,7 persen secara tahunan (Year-on-Year/YoY). Angka ini menunjukkan kemampuan Bank Mandiri dalam menjaga momentum pertumbuhan di tengah tantangan ekonomi global dan domestik.
Advertisement
Advertisement
Strategi ekspansi kredit yang agresif menjadi salah satu pilar utama di balik kinerja positif Bank Mandiri. Piter Abdullah menjelaskan bahwa langkah ini merupakan kebijakan internal Bank Mandiri, bukan cerminan langsung dari perbaikan permintaan kredit secara menyeluruh di pasar. Ini menunjukkan keberanian dan perencanaan matang dari manajemen bank dalam mengambil peluang.
Pertumbuhan penyaluran kredit yang mencapai Rp1.513,1 triliun atau naik 15,7 persen YoY hingga Februari 2026, membuktikan efektivitas strategi tersebut. Angka ini menunjukkan bahwa Bank Mandiri mampu mengidentifikasi sektor-sektor potensial dan menyalurkan pembiayaan secara tepat sasaran.
Sejalan dengan pertumbuhan kredit, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Mandiri juga menunjukkan peningkatan yang signifikan. DPK mencapai Rp1.644,8 triliun, meningkat 16,3 persen YoY, mencerminkan kepercayaan nasabah yang terus terjaga terhadap layanan Bank Mandiri. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat dan pelaku usaha tetap memilih Bank Mandiri sebagai mitra keuangan terpercaya.
Advertisement
Advertisement
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, mengungkapkan bahwa peningkatan kinerja Bank Mandiri sejalan dengan semakin aktifnya transaksi nasabah melalui berbagai kanal layanan. Khususnya, platform digital memainkan peran krusial dalam pertumbuhan ini. Inovasi digital menjadi kunci dalam menarik dan mempertahankan nasabah.
Laba bersih Bank Mandiri tumbuh 16,7 persen secara tahunan menjadi Rp8,9 triliun hingga Februari 2026. Peningkatan ini didorong oleh aktivitas transaksi digital masyarakat melalui Livin’ by Mandiri yang terus meningkat. Platform ini berhasil mendorong pertumbuhan pendapatan berbasis komisi yang signifikan.
Hingga Februari 2026, volume transaksi melalui Livin’ by Mandiri terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan, dengan total lebih dari 738,7 juta transaksi sejak awal tahun, tumbuh sekitar 28 persen YoY. Peningkatan ini didorong oleh pemanfaatan layanan digital untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pembayaran tagihan, pembelian produk, hingga transfer dana antar individu dan pelaku usaha, termasuk UMKM.
Advertisement
Pertumbuhan pendapatan berbasis komisi (fee-based income) dari platform digital sangat mencolok. Livin' by Mandiri menyumbang Rp625 miliar, meningkat 45,3 persen YoY, sementara platform wholesale Kopra by Mandiri berkontribusi Rp421 miliar, tumbuh 29,3 persen YoY. Ini menegaskan peran penting digitalisasi dalam struktur pendapatan Bank Mandiri.
Advertisement
Selain pertumbuhan kredit dan digital, kinerja intermediasi Bank Mandiri juga tetap terjaga dengan baik. Hal ini tercermin dari pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) sebesar Rp13,7 triliun, tumbuh 9,16 persen secara tahunan (YoY). NII yang solid menunjukkan kemampuan bank dalam mengelola margin bunga secara efektif.
Efisiensi operasional Bank Mandiri terus membaik, dengan rasio Cost-to-Income Ratio (CIR) yang turun ke level 37,21 persen. Penurunan CIR ini mencerminkan pengelolaan biaya yang semakin disiplin dan peningkatan produktivitas bisnis. Bank Mandiri berhasil mengoptimalkan operasionalnya untuk mencapai efisiensi yang lebih tinggi.
Dari sisi kualitas aset, Bank Mandiri tetap menjaga prinsip kehati-hatian. Rasio Non-Performing Loan (NPL) berada di level 0,98 persen, disertai coverage ratio yang kuat sebesar 246,5 persen. Kinerja ini mencerminkan penerapan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit serta penguatan manajemen risiko yang konsisten dilakukan perseroan. Hal ini memastikan bahwa pertumbuhan yang dicapai berkelanjutan dan sehat.
Advertisement
Sumber: AntaraNews