Khofifah Sarankan Fadli Zon Sowan dan Minta Maaf ke KH Maimoen Zubair

Minggu, 10 Februari 2019 18:13 Reporter : Darmadi Sasongko
Khofifah Sarankan Fadli Zon Sowan dan Minta Maaf ke KH Maimoen Zubair KH Maimoen Zubair. ©2016 Merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman

Merdeka.com - Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama ( NU) Khofifah Indar Parawansa menyarankan Fadli Zon untuk meminta maaf dengan sowan ke kediaman KH Maimoen Zubair. Saran tersebut terkait puisi politisi Partai Gerindra itu berjudul 'Doa Yang Tertukar' yang dinilai menghina Mbah Moen.

"Saya rasa Bang Fadli, ada baiknya segera minta maaf. Saya rasa tidak perlu minta maaf lewat preskon, sowan akan lebih baik. Sowan ke Mbah Kiai Maimoen, mungkin khilaf pada saat menuliskan puisi itu," kata Khofifah usai hadir di acara Istighosah dan Deklarasi Jaringan Kiai-Santri Nasional (JKSN) Malang Raya di GOR Ken Arok Kota Malang, Minggu (10/2).

"Saya rasa Mbah Kiai Maimoen dengan sangat besar hati memberikan maaf. Saya kira beliau sebelum dimintai maaf sudah dimaafkan. Tetapi santri-santrinya kan enggak lilo (rela) duwe (punya) Kiai sepuh. Santrinya banyak di mana-mana. Maka kehati-hatian kita menjaga karakter kita, terakhir saya kira minta maaf, sowan," jelasnya.

Kata Khofifah, kebesaran Kiai Maimoen jangan hanya dilihat sebagai tokoh PPP saja. Karena KH Maimoen dan Pesantren Sarang yang dipimpinnya, memiliki jaringan pesantren tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Yaman dan Mesir yang sangat kuat.

"Rasanya jika Bang Fadli namanya manusia suatu saat bisa khilaf. Tidak ada manusia, yang tidak pernah khilaf, hanya malaikat. Kalau masih level manusia khilaf itu kemungkinan terjadi kepada siapa saja," katanya.

Khofifah juga menegaskan, bahwa Indonesia memiliki banyak politisi tetapi sedikit yang negarawan. Tataran politisi disebutkan oleh Khofifiah masih dalam taraf memikirkan kelompok dan golongannya.

Kalau sosok negarawan, berpikirnya selalu kemaslahatan bangsa, kebaikan bersama dan sudah mulai mereduksi yang berkaitan kepentingan partainya, kelompoknya dan golongannya.

"Baru kita bisa menyebutnya sosok negarawan, kalau belum seperti itu berarti masih politisi," tegasnya. [bal]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini