Selalu ada keajaiban di tengah bencana. Setidaknya hal itu lah yang dirasakan oleh Fatih, pemilik nama lengkap Alfatih Cakrabuana. Bocah kelas 3 SMP itu merupakan salah satu korban selamat dengan sedikit luka alias luka ringan akibat insiden runtuhnya bangunan musala Pondok Pesantren Al Khoziny, pada Senin (29/9) kemarin.
Selama 3 hari, Fatih turut terkubur dalam puing-puing reruntuhan bangunan 4 lantai tersebut. Ia baru dapat dievakuasi oleh petugas SAR pada Rabu (1/10) sore kemarin.
Abdul Hanan sang ayah bercerita berdasarkan penuturan anaknya, jika pada saat kejadian, Fatih mengaku tengah tertidur.
"Tubuhnya terbenam pasir, dan kepalanya terlindungi oleh atap seng," katanya saat dirawat di RSUD Notonegoro Sidoarjo, Kamis (2/10).
Advertisement
Masih menurut cerita sang putra, saat peristiwa nahas itu terjadi, ia sedang tidur di musala dan tidak ikut salat Ashar berjemaah. Namun, hal itu dilakukan Fatih, justru sebelum salat berjemaah terjadi.
Ketika terjadi peristiwa runtuhnya bangunan musala, Fatih hanya merasakan ada sesuatu yang jatuh menimpanya. Namun apa itu, ia mengaku hanya setengah sadar saja. Ia bahkan mengaku sempat bertanya pada salah satu temannya. Namun hanya dijawab ada atap yang ambrol saja.
"Saya sudah tidur sebelum salat ashar. Setengah sadar saya tanya ke teman saya ada apa? Teman saya menjawab ada atap ambrol, lalu saya tidur lagi," katanya menimpali.
Selama tidur, ia mengaku bermimpi sedang berjalan-jalan di lorong yang gelap. Ia juga mengaku merasa sempat meminum air dari selang. Namun baru terbangun setelah merasa ada yang mengetuk seng yang menutupi kepalanya. Ia sempat berpikir jika itu adalah tukang, ternyata merupakan tim SAR.
"Saya kira yang mengetuk tukang, ternyata sudah ada tim SAR," katanya.
Saat itulah, ia langsung dievakuasi ke RSUD Notopuro Sidoarjo. Tak ada luka serius di tubuhnya. Hanya beberapa kecil di bagian kaki dan tangannya.
Advertisement
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa yang menjenguk Alfatih di RSUD Notopuro Sidoarjo juga mengaku heran dengan apa yang terjadi. "Tapi inilah rahasia Tuhan," jelas Khofifah.
Berdasarkan hasil penelitian menurut Khofifah, lokasi tempat Alfatih ditemukan adalah lokasi yang diprediksi tidak ada pergerakan korban.
Hingga Kamis (2/10) atau hari keempat setelah peristiwa robohnya Musala Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo, 13 korban masih dirawat di RSUD Notopuro Sidoarjo.
Dari 13 pasien, 2 di antaranya sedang dilakukan operasi. Keduanya adalah Wahyudi yang menjalani operasi tulang selangka, dan Syaifur Rosi Abdillah yang menjalani operasi kaki.
13 korban itu terdiri dari 5 orang yang baru dievakuasi pada Rabu (1/10) dan sisanya yakni 8 orang merupakan pasien yang memang masih dirawat sejak beberapa hari lalu.