Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kera Bukit Menoreh diyakini wongso Subali, Sugriwa & Hanoman

Kera Bukit Menoreh diyakini wongso Subali, Sugriwa & Hanoman monyet. ©2012 Merdeka.com/Slamet Nusa

Merdeka.com - Keberadaan kawanan kera di Bukit Menoreh ternyata menyimpan rahasia dan unsur mistis yang sampai saat ini menjadi mitos. Warga setempat percaya bahwa kera-kera di sekitar Kawasan Wisata Candi Borobudur itu merupakan siluman.

Bukan siluman 'kera sakti' yang merupakan tokoh dalam film namun kawanan kera di Kawasan Bukit Menoreh ini diyakini sebagai pengikut tokoh pewayangan manusia berwujud kera Sugriwo dan Subali.

Menurut cerita nenek moyang warga di sekitar Bukit Menoreh, kedua tokoh pewayangan tersebut terkait dengan pusaka adidaya Cupu Manik Astagina ini menguasai sebuah goa bernama Goa Kiskendo di Samigaluh, Kulonprogo, Propinsi DIY yang ada di sebelah barat Watu Putih, Kawasan Bukit Menoreh.

Grombolan kera pengikut Sugriwo, Subali dan Hanoman itu lalu melakukan ekspansi ke Bukit Menoreh. Sebab, Goa Kiskendo yang saat ini menjadi obyek wisata kondisinya sudah ramai oleh pengunjung obyek wisata sehingga ketenangan ratusan kera itu terusik dan meninggalkan markasnya menuju ke daerah hutan dan lereng terjal Bukit Menoreh. Apalagi, Goa Kiskendo sering digunakan manusia untuk menyepi dan bertapa, menggelar ritual mencari wangsit secara beramai-ramai maupun secara pribadi sendiri.

"Sulitnya membasmi dan menyingkirkan kera-kera menoreh yang selalu merusak dan menjarah tanaman, warga meyakini jika kera itu memiliki kesaktian. Bahkan mitos warga kera itu pengikut atau bekas pasukan Sugriwo-Subali serta tokoh Hanoman dalam pewayangan. Sebab, beberapa warga yang memiliki kelebihan sering menyepi di goa itu ditemui salah satu tiga tokoh pewayangan itu," ungkap Suryono, Kepala Dusun (Kadus) Kuncen, Desa Ngargogondo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jateng saat ditemui merdeka.com Jumat(21/9) di kantor desa setempat.

Selain ditemui oleh penampakan sosok Sugriwo, Subali dan Hanoman, seorang warga yang tidak ingin disebutkan namanya yang kini menjabat sebagai Sekretaris Desa (Sekdes) Ngargogondo juga diberi sebuah keris. Keris itu dikenal sebagai keris 'Mbah Brojol'.

Kegunaan keris itu, jika ada warga sekitar perempuan sedang hamil dan menghadapi kesulitan saat melahirkan dengan pertolongan keris luk 13 itu bisa langsung melahirkan sang bayi.

"Saat itu istri saya sedang hamil. Ternyata saat melahirkan dia kesulitan kemudian saya panggil pak sekdes untuk menolong. Sambil membawa keris Mbah Brojol, dicelupkan air di dalam gelas dan dibacakan doa-doa lalu air kum-kuman (rendaman) keris itu diminumnya, beberapa menit kemudian langsung melahirkan anak saya," terang Suryono.

Namun, saat ini keberadaan keris itu sudah tidak lagi di tangan sang Sekdes Ngargogondo karena dijual. Alasan penjualannya itu sebab saat ini jika ada orang hamil yang kesulitan melahirkan maka disarankan saja untuk dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan operasi cesar saja.

Selain mendapatkan keris, sang Sekdes itu juga diberi pesan jika ingin aman desanya dari serangan dan amukan sang kera, sawah dan ladang harus dipasangi bendera. Jangan justru berupaya untuk membasmi dengan cara diracuni, dijaring atau bahkan dibunuh kera-kera itu dengan cara ditembaki.

"Pesan itu yang sering disampaikan Pak Carik (sekdes). Pasang bendera warna apapun dan jangan menyakiti kera-kera pengikut Sugriwo, Subali dan Hanoman. Kera-kera itu tidak akan punah dan habis malahan jika dibasmi akan selalu muncul dan beranak pinak semakin banyak," ungkapnya. (mdk/hhw)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP