Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengatakan, setiap kasus keracunan pangan di Indonesia, sebanyak 50 persen disebabkan karena bakteri bakteri Escherichia coli (E. coli).
Hal ini disampaikan dalam rapat kerja bersama dengan Komisi IX DPR RI, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (12/11).
"Dari hasil kajian Kemenkes banyak kejadian keracunan pangan di Indonesia 50 persen disebabkan cemaran e. coli yang disebabkan oleh air," kata Dadan dalam rapat.
Oleh karenanya, seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) saat ini diminta untuk menggunakan air untuk masak yang tersertifikasi baik.
Advertisement
"Itu air dalam kemasan maupun air isi ulang, tapi memiliki peralatan untuk bisa mensterilkan air tersebut," ujarnya.
Selain itu, setiap SPPG juga diminta untuk menggunakan sterilisasi food tray. Terutama yang berbahan seperti lemari.
"Setiap SPPG sekarang diminta untuk menggunakan sterilisasi food tray, terutama yang berbahan seperti lemari dan memiliki uap panas yang bisa sampai 120 derajat sehingga food tray bisa cepat dikeringkan, dan juga steril," sebutnya.
Sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengatakan, hingga hari ini Rabu (12/11) total ada 221 kejadian terkait keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Advertisement
Hal itu disampaikan dalam rapat kerja bersama dengan Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (12/11).
"Terkait dengan berbagai kejadian di tanah air, terkait khususunya keracunan pangan di Indonesia secara umum, total kejadian di Indonesia itu sampai hari ini itu ada 441 total kejadian," kata Dadan dalam rapat.
"Di mana MBG menyumbang 211 kejadian atau kurang lebih 48 persen dari total keracunan pangan yang ada di Indonesia," sambungnya.