Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menjelaskan, perihal menu serangga untuk makan bergizi gratis (MBG). Dia menyebut tak semua wilayah akan diberikan menu serangga.
"Kami waktu menyampaikannya itu kan kami sampaikan ada masyarakat tertentu yang suka itu (serangga). Jadi untuk masyarakat yang tidak suka itu tidak mungkin menggunakan itu (serangga)" kata Dadan usai rapat dengan Komisi IX DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (3/2).
Advertisement
Menu Sesuaikan Daerah
Dadan memberi contoh jika di suatu wilayah banyak menghasilkan telur maka proteinnya akan lebih banyak menggunakan telur. Namun kemungkinan sesekali mengganti telur dengan ikan atau daging bisa dilakukan.
"Kalau di daerah yang banyak ikan, seperti di daerah bu Felly, dan orang pusing kalau tidak makan ikan dua hari saja, pasti makan ikan lebih banyak, meskipun juga daging sapi nanti akan kami masak sewaktu-waktu," kata Alma.
Advertisement
Metode Pembelajaran Keragaman Sumber Daya Lokal Daerah
Variasi menu itu juga menurut Dadan, akan memberikan pembelajaran bagi para siswa soal keragaman sumber daya lokal di daerahnya masing-masing. Seperti di daerah Sunda yang lebih banyak makan nasi. Kemudian di NTT lebih banyak mengonsumsi jagung. Lalu di Halmahera makan singkong dan pisang rebus. Sementara di Ambon dan Papua masyarakatnya lebih banyak mengonsumsi sagu diolah menjadi papeda.
"Nah itu kan keragaman sumber daya lokal yang bagus juga kalau kita mulai terapkan dan memberikan pelajaran kepada anak-anak bahwa keragaman dan kearifan lokal itu baik juga untuk ketahanan tangan di masing-masing daerah," kata Dadan.