Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkomdigi) secara resmi meluncurkan Program AI Talent Factory pada 20 September di Jakarta. Inisiatif strategis ini bertujuan untuk mencetak sumber daya manusia unggul yang memiliki kapabilitas dalam mengembangkan teknologi kecerdasan artifisial (AI).
Program ini dirancang khusus untuk menghasilkan talenta digital andal yang tidak hanya menguasai AI, tetapi juga mampu mengaplikasikannya. Tujuannya adalah untuk menciptakan solusi inovatif guna mengatasi berbagai persoalan krusial yang dihadapi oleh bangsa Indonesia.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemkomdigi, Bonifasius Wahyu Pudjianto, menegaskan bahwa fokus program ini adalah pada pengembangan talenta tingkat lanjut. Hal ini untuk memastikan bahwa lulusan program siap menghadapi tantangan kompleks yang ada.
Advertisement
Advertisement
Mencetak Talenta AI Tingkat Lanjut untuk Solusi Bangsa
Bonifasius Wahyu Pudjianto menekankan bahwa AI Talent Factory memiliki misi yang lebih ambisius daripada sekadar mencetak talenta pemula atau menengah. Program ini secara spesifik menargetkan pembentukan talenta tingkat lanjut yang siap berinovasi dan memberikan kontribusi nyata.
Dalam keterangannya pada Sabtu, Bonifasius menyatakan, "AI Talent Factory hadir bukan hanya untuk mencetak beginner atau intermediate talent, tetapi talenta advance yang siap menghadapi problematika yang dihadapi bangsa." Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya keahlian mendalam dalam bidang AI.
Fokus pada talenta advance ini diharapkan mampu mendorong penciptaan solusi berbasis AI yang relevan dan efektif. Ini mencakup berbagai sektor, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga infrastruktur digital, demi kemajuan nasional.
Advertisement
Advertisement
Dorongan Inovasi AI Berbasis Kearifan Lokal
Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika, Nezar Patria, menyatakan keyakinannya terhadap potensi Indonesia dalam mencetak talenta digital AI yang berdaya saing global. Ia mendorong para pengembang AI di tanah air untuk memanfaatkan kekayaan sumber daya dan kearifan lokal.
Nezar secara khusus menyoroti potensi pengembangan model bahasa besar (LLM) generatif menggunakan bahasa Indonesia. "Akan sangat baik kalau kita, misalnya untuk generative AI LLM atau Large Language Model itu kita bisa buat sendiri dengan menggunakan bahasa kita sendiri," ujarnya.
Ia menambahkan, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dengan kekayaan bahasa daerah, suku bangsa, dan keragaman budaya yang luar biasa. Potensi ini dapat menjadi fondasi kuat untuk mengembangkan AI yang unik dan relevan dengan konteks lokal.
Advertisement
Advertisement
Target 9 Juta Talenta Digital: Dari Pengguna Menjadi Pengembang
Nezar Patria juga mengemukakan pentingnya peningkatan kapasitas talenta digital secara signifikan. Tujuannya adalah agar talenta Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, melainkan juga mampu menciptakan dan menghadirkan solusi berbasis teknologi yang bermanfaat luas bagi masyarakat.
Saat ini, Indonesia masih membutuhkan sekitar sembilan juta talenta digital tambahan untuk memenuhi kebutuhan industri. Nezar menegaskan bahwa kebutuhan ini bukan hanya untuk user, tetapi juga untuk deployer dan developer yang mampu merancang dan mengimplementasikan sistem AI.
"Kita butuh sekitar sembilan juta talent lagi, dan kita juga harus berpikir bukan talent yang cuma sebagai users, tapi talent yang bisa masuk sebagai deployer sekaligus developer," kata Nezar. Ini menunjukkan pergeseran paradigma dari konsumsi teknologi menuju penciptaan teknologi.
Advertisement
Program AI Talent Factory diharapkan menjadi salah satu pilar utama dalam mencapai target ambisius ini. Dengan fokus pada pengembangan talenta yang mampu berinovasi dan beradaptasi, Indonesia dapat memperkuat ekosistem digitalnya secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews