Kemenag Sulsel Gelar Pemantauan Hilal 1 Syawal 1447 H di Unismuh Makassar Jelang Idul Fitri 2026

Kantor Wilayah Kemenag Sulsel akan memusatkan Pemantauan Hilal 1 Syawal 1447 H di Unismuh Makassar, bagian dari penentuan Idul Fitri 2026. Bagaimana hasil pengamatan ini akan memengaruhi Sidang Isbat nasional?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kemenag Sulsel Gelar Pemantauan Hilal 1 Syawal 1447 H di Unismuh Makassar Jelang Idul Fitri 2026
Kantor Wilayah Kemenag Sulsel akan memusatkan Pemantauan Hilal 1 Syawal 1447 H di Unismuh Makassar, bagian dari penentuan Idul Fitri 2026. Bagaimana hasil pengamatan ini akan memengaruhi Sidang Isbat nasional? (AntaraNews)

Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Sulawesi Selatan (Sulsel) akan menggelar Pemantauan Hilal 1 Syawal 1447 H sebagai bagian krusial penentuan Idul Fitri 2026. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 18 Maret 2026, dan akan dipusatkan di puncak menara Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.

Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, Ali Yafid, menjelaskan bahwa agenda pemantauan hilal ini merupakan tahapan penting dalam rangkaian penetapan Hari Raya Idul Fitri. Hasil pengamatan dari Sulsel akan menjadi salah satu bahan pertimbangan utama dalam Sidang Isbat tingkat nasional yang akan dilaksanakan pada hari yang sama di Jakarta.

Observatorium Unismuh Makassar, yang berlokasi di Jalan Sultan Alauddin, terpilih menjadi salah satu dari 117 titik pemantauan hilal yang tersebar di seluruh Indonesia. Proses rukyatul hilal di Makassar ini melibatkan berbagai unsur lintas lembaga dan keagamaan, menegaskan komitmen Kemenag untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas dalam penetapan awal Syawal.

Metode dan Keterlibatan dalam Pemantauan Hilal

Proses Pemantauan Hilal 1 Syawal 1447 H di Sulawesi Selatan akan menggunakan metode rukyatul hilal, yakni pengamatan langsung terhadap penampakan bulan sabit muda. Observatorium Unismuh Makassar menyediakan fasilitas yang mendukung kegiatan pengamatan ini, termasuk teleskop dan peralatan optik canggih.

Ali Yafid menekankan pentingnya kolaborasi dalam kegiatan ini. Berbagai pihak seperti perwakilan Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, akademisi dari perguruan tinggi, serta ahli astronomi turut dilibatkan. Keterlibatan mereka bertujuan untuk memperkuat validitas dan kredibilitas hasil pengamatan.

Pelibatan lintas sektor ini merupakan bentuk nyata dari upaya Kemenag untuk memastikan proses penetapan Hari Raya Idul Fitri berjalan secara transparan dan ilmiah. Setiap data yang terkumpul akan diverifikasi secara cermat sebelum dilaporkan ke pusat. Ini juga untuk menghindari keraguan di kalangan masyarakat.

Laporan hasil rukyatul hilal dari Sulsel akan dikirimkan langsung ke Kemenag RI di Jakarta. Data ini akan menjadi salah satu pilar penting dalam Sidang Isbat. Sidang tersebut akan memutuskan secara resmi kapan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh.

Sidang Isbat Nasional dan Keputusan Resmi Pemerintah

Penetapan awal Syawal 1447 Hijriah secara nasional akan menunggu rampungnya Pemantauan Hilal 1 Syawal 1447 H dari seluruh daerah. Kemenag RI akan mengumpulkan dan menganalisis semua laporan yang masuk dari 117 titik pengamatan.

Sidang Isbat penetapan awal Syawal 1447 Hijriah dijadwalkan pada 19 Maret 2026. Sidang krusial ini akan diselenggarakan bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 Hijriah. Lokasinya berada di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kemenag RI, Jalan M.H. Thamrin Nomor 6, Jakarta.

Dalam Sidang Isbat, para pakar, ulama, dan perwakilan organisasi Islam akan membahas data hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan). Diskusi mendalam ini bertujuan untuk mencapai kesepakatan yang sah secara syariat dan ilmiah. Keputusan yang dihasilkan akan menjadi ketetapan resmi pemerintah.

Kementerian Agama menegaskan komitmennya untuk mematuhi dan melaksanakan hasil Sidang Isbat sebagai keputusan resmi pemerintah. Ali Yafid juga menyampaikan harapan agar seluruh umat Muslim dapat menjaga nilai-nilai suci bulan Ramadhan. Ia juga berharap semua dapat kembali fitrah, seraya menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin atas nama Kemenag Sulsel.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi