Keliling panti asuhan dan sekolah demi mendongeng

Selasa, 24 April 2018 06:38 Reporter : Darmadi Sasongko
Keliling panti asuhan dan sekolah demi mendongeng Pendongeng Indah Rahayuning Tyas. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Indah Rahayuning Tyas menghabiskan waktu senggangnya untuk mendongeng. Boneka Lulu, menjadi partnernya bercerita di hadapan para audien.

Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu mengaku rajin mengunjungi panti asuhan dan sekolah-sekolah.

"Minimal tiga sampai empat kali dalam satu bulan. Ini juga penting untuk melatih skill seperti memegang boneka, agar suara boneka bisa konsisten," kata Indah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (23/4).

Kata Tyas, demikian panggilan akrabnya, kebiasaan mendongeng di tengah masyarakat memang sudah hampir punah. Padahal bercerita adalah salah satu metode terbaik menanamkan nilai-nilai kebajikan, khususnya kepada anak-anak.

Cerita-cerita Tyas pun cukup sederhana yang mudah dipahami oleh anak-anak. Sehingga nilai-nilai positif pun dapat disisipkan di dalamnya.

"Target saya memengaruhi anak agar memahami hal baik dan buruk melalui tokoh yang diceritakan. Ini nantinya akan memberikan dampak pada kehidupan seorang anak," ujar mahasiswi semester delapan ini.

Tyas sendiri mengaku suka dunia dongeng lantaran semasa kecilnya kerap dibacakan cerita oleh ayahnya. Kebiasaan itu pun terus dikenangnya, hingga terpikir untuk menjadi bagian dari metode pengajaran kepada anak-anak.

Saat ini, gadis asli Purwokerto, Jawa Tengah ini tergabung dalam komunitas pendongeng, Gerakan Dongeng Indonesia (Gendong Indonesia). Lewat komunitas tersebut, Tyas mencoba mengembangkan budaya mendongeng dengan mengisi berbagai acara lewat kemampuannya tersebut.

Tyas berharap lewat mendongeng, kelak bisa mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia dengan cara yang menyenangkan. Kesan sebagai pendidik yang membosankan bisa terkikis dari para peserta didiknya.

"Saya ingin menjadi guru yang kreatif, karena selama masa sekolah, saya merasa pelajaran Bahasa Indonesia itu cenderung membosankan. Gurunya kurang menarik. Umumnya anak-anak suka mendengarkan cerita, maka saya rasa metode dongeng ini sangat pas diterapkan,"pungkasnya. [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini