Jejak Hilirisasi Bernilai Tambah, MIND ID Menayangkan Perdana Film The MINDJourney

Film ini menjadi salah satu upaya memperkuat integrasi grup sekaligus edukasi publik terkait praktik pertambangan yang bertanggung jawab.

Endang Saputra
Oleh Endang Saputra - Reporter
Jejak Hilirisasi Bernilai Tambah, MIND ID Menayangkan Perdana Film The MINDJourney
Jejak Hilirisasi Bernilai Tambah, MIND ID Menayangkan Perdana Film The MINDJourney (Merdeka.com)

Film dokumenter The MINDJourney resmi ditayangkan perdana oleh Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID, menghadirkan rekaman visual perjalanan pengelolaan sumber daya mineral dari tahap prapenambangan, operasional, hingga pascatambang.

Dokumenter ini bertujuan memperlihatkan proses pertambangan yang dijalankan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan, sekaligus menyoroti keterhubungan antara industri, hilirisasi, keberlanjutan, serta manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk pelaku UMK di sekitar wilayah operasi.

Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menekankan bahwa film ini menjadi salah satu upaya memperkuat integrasi grup sekaligus edukasi publik terkait praktik pertambangan yang bertanggung jawab.

"Melalui film ini, kami ingin menghadirkan satu media yang dapat memperlihatkan bagaimana seluruh anggota holding MIND ID bekerja dalam satu payung yang sama. Kami ingin membangun pemahaman bersama, baik secara internal maupun eksternal, mengenai praktik pertambangan yang dijalankan dengan prinsip good mining practice mulai dari perencanaan, operasional, hingga pascatambang," ujar Maroef.

Ia menambahkan bahwa film ini diharapkan memberikan perspektif yang lebih seimbang terhadap industri pertambangan, yang selama ini kerap mendapat stigma negatif.

Dokumenter ini juga menyoroti pentingnya hilirisasi mineral untuk memastikan kekayaan sumber daya Indonesia memberikan nilai tambah optimal di dalam negeri.

Sebagai contoh, melalui rantai terintegrasi bauksit–alumina–aluminium yang dikembangkan Grup MIND ID, nilai bijih bauksit mentah yang sekitar US$40 per ton meningkat menjadi US$400 per ton alumina, hingga US$2.800–US$3.000 per ton aluminium.

Nilai ini dapat meningkat lebih tinggi saat diolah menjadi produk industri seperti rangka baterai dan komponen kendaraan listrik.

"Pengelolaan sumber daya mineral yang terintegrasi dan bertanggung jawab menjadi fondasi penting bagi pembangunan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Kekayaan sumber daya mineral Indonesia harus dikelola optimal agar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat dan pembangunan masa depan," ujar Maroef.

Sutradara dan produser dokumenter, Ari Sihasale, mengatakan pembuatan film dilakukan berdasarkan pengalaman langsung tim di lapangan. Tim menghabiskan lebih dari 50 hari di berbagai lokasi operasi anggota Grup MIND ID, berinteraksi dengan masyarakat yang merasakan manfaat langsung, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga pengembangan UMKM.

"Awalnya kami hanya mengetahui dunia pertambangan dari media sosial yang sering menampilkan sisi negatif. Namun ketika datang langsung ke lapangan, banyak hal membuka perspektif baru. Dokumenter ini bukan sekadar tontonan, tapi diharapkan membuka mata dan hati publik bahwa pertambangan bertanggung jawab memberi manfaat nyata bagi masyarakat," jelas Ari.

Rekomendasi