Bandung, 18 September – Jawa Barat, sebagai salah satu provinsi yang paling sering mengalami cuaca ekstrem di Indonesia, sangat membutuhkan strategi Komunikasi Lingkungan yang efektif. Hal ini disampaikan oleh Dr. Iriana Bakti, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad), dalam orasi ilmiahnya. Komunikasi yang terstruktur dan inklusif diharapkan dapat menjadi solusi dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin nyata.
Dr. Iriana Bakti menekankan bahwa Komunikasi Lingkungan berfungsi sebagai jembatan vital yang menghubungkan berbagai pemangku kepentingan. Pihak-pihak seperti pemerintah, akademisi, sektor swasta, pegiat lingkungan, dan masyarakat umum perlu disatukan dalam satu pemahaman. Ini adalah langkah krusial untuk memastikan setiap kebijakan dan implementasi lingkungan dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan.
Orasi ilmiah tersebut disampaikan dalam acara puncak Dies Natalis ke-65 Fikom Unpad Lustrum XIII di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Menurut Dr. Iriana, Komunikasi Lingkungan adalah proses yang direncanakan secara strategis untuk mendukung penyusunan kebijakan dan implementasi menuju lingkungan yang berkelanjutan. Pesan-pesan mengenai perubahan iklim dan dampaknya harus dikomunikasikan secara luas dan efektif kepada khalayak yang beragam.
Advertisement
Advertisement
Dalam praktiknya, Komunikasi Lingkungan melakukan pengkajian mendalam tentang bagaimana para pemangku kepentingan mendistribusikan, menerima, memahami, dan memanfaatkan pesan tentang lingkungan serta interaksi manusia dengannya. Proses ini sangat penting untuk memastikan bahwa informasi terkait perubahan iklim dapat tersampaikan dengan baik. Hal ini mencakup komunikasi sains, pengembangan solusi, edukasi, dan keputusan kebijakan publik yang berdampak luas.
Komunikasi yang inklusif berarti tidak ada pihak yang terpinggirkan dalam penyampaian dan penerimaan informasi. Setiap lapisan masyarakat, tanpa terkecuali, harus memiliki akses terhadap data dan pengetahuan yang relevan mengenai isu lingkungan. Dengan demikian, kesadaran kolektif dapat terbangun dan mendorong partisipasi aktif dalam upaya pelestarian lingkungan.
Penyampaian informasi yang luas dan efektif ini akan mempengaruhi pelaksanaan komunikasi sains terkait perubahan iklim. Selain itu, juga akan berdampak pada pengembangan dan rekayasa solusi, edukasi mengenai isu dan tindakan yang perlu diambil. Pada akhirnya, ini akan memengaruhi keputusan kebijakan publik yang dapat mempengaruhi sebagian besar masyarakat terdampak.
Advertisement
Advertisement
Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius dalam Komunikasi Lingkungan, yang seringkali berujung pada krisis. Krisis ini terjadi ketika informasi terkait isu-isu lingkungan tidak tersampaikan secara efektif kepada para pemangku kepentingan. Akibatnya, muncul kurangnya kesadaran publik, rendahnya partisipasi masyarakat, kesalahpahaman terkait isu lingkungan, dan konflik di antara berbagai pihak.
Seringkali, asumsi para penggiat lingkungan bahwa fakta ilmiah dan ekologi sudah cukup meyakinkan, namun persepsi masyarakat dipengaruhi oleh emosi, sosialisasi, alasan, dan pengetahuan mereka. Harapan tinggi bahwa kekuatan pengetahuan dari kata-kata dan citra akan menyelesaikan masalah seringkali mengabaikan hambatan komunikasi. Hal ini menciptakan jalan pintas dari 'ucapan' ke 'tindakan' tanpa memperhatikan proses komunikasi yang efektif.
Konflik kepentingan yang diperebutkan oleh stakeholders juga seringkali tidak dinegosiasikan dengan baik. Pendekatan konfrontasi yang mengandalkan penyebaran informasi satu arah tanpa mempertimbangkan pemahaman, justru memperburuk situasi. Ini berbeda dengan komunikasi dua arah yang bertujuan mencapai 'pemahaman bersama' dan 'situasi yang saling menguntungkan'.
Advertisement
Advertisement
Keterbatasan praktis yang timbul dari ketiadaan strategi komunikasi yang jelas juga menjadi penyebab kegagalan dalam mengatasi masalah lingkungan. Tanpa rencana komunikasi yang matang, upaya-upaya yang dilakukan seringkali kurang terkoordinasi dan tidak mencapai target yang diinginkan. Oleh karena itu, penataan kembali aksi Komunikasi Lingkungan yang efektif menjadi sangat mendesak.
Dr. Iriana Bakti menegaskan, “Karena komunikasi lingkungan merupakan jembatan yang menghubungkan para pemangku kepentingan seperti pemerintah, akademisi, sektor swasta, pegiat lingkungan, dan masyarakat.” Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya kolaborasi dan koordinasi yang kuat antar semua pihak. Sebuah strategi komunikasi yang melibatkan semua elemen masyarakat akan menciptakan sinergi positif.
Untuk itu, diperlukan pendekatan yang lebih holistik dan partisipatif dalam merancang strategi Komunikasi Lingkungan. Ini melibatkan tidak hanya penyampaian informasi, tetapi juga mendengarkan masukan dari masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya. Dengan demikian, solusi yang dihasilkan akan lebih relevan dan dapat diterima oleh semua pihak, demi keberlanjutan lingkungan di Jawa Barat dan Indonesia secara keseluruhan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews