Jadi Dosen Tamu di UI, Dedi Mulyadi Tiba-Tiba Lepas Sepatu, Nyeker dan Naik Podium Beri Materi

Ada hal unik yang dilakukan Dedi saat menaiki podium untuk menjadi dosen tamu di UI.

Nur Fauziah
Oleh Nur Fauziah - Reporter
Jadi Dosen Tamu di UI, Dedi Mulyadi Tiba-Tiba Lepas Sepatu, Nyeker dan Naik Podium Beri Materi
Jadi Dosen Tamu di UI, Dedi Mulyadi Tiba-Tiba Lepas Sepatu, Nyeker dan Naik Podium Beri Materi (merdeka.com)

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan Kuliah Umum di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Dia menyampaikan materi bertema ‘Nilai-nilai Budaya dan Tata Kelola Pemerintahan’. Dedi mengenakan pakaian khas Sunda lengkap dengan ikat kepala berwarna putih.

Namun, ada hal unik yang dilakukan Dedi saat menaiki podium. Dia melepas sepatunya dan kemudian naik podium dan dilanjut dengan pemberian materi. Dedi pun dengan santai memberikan materi pada mahasiswa dan tamu lainnya tanpa alas kaki atau nyeker.

Dedi mengatakan bahwa fakultas yang paling bergengsi dalam sebuah universitas adalah Fakultas Kebudayaan. Karena bangsa yang akan maju mereka yang memiliki identitas kebudayaan.

“Perspektif saya, fakultas yang paling bergengsi dalam sebuah universitas adalah Fakultas Kebudayaan,” kata Dedi, Selasa (27/5).

Kebudayaan menurut persepsinya mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat. Kesenian merupakan salah satu produk budaya, bukan inti dari sebuah kebudayaan.

“Science itu hanyalah metodologi, science juga harus nyeni,” pungkasnya.

Dedi menjelaskan materi kuliah umum yang diberikan mengenai cara membangun Jawa Barat. Dia berpandangan untuk membangun Jawa Barat, maka latar belakangnya adalah sendi-sendi kebudayaan Jawa Barat yaitu kebudayaan Sunda dan kebudayaan. Hal itu harus diterjemahkan dalam produktivitas publik.

"Maka harus lahir transportasi publik yang baik, yang menjunjung tinggi semangat semangat kegotongroyongan kebersamaan, berbasis komunitas, kalau di kampung berbasis padukuhan. Kemudian tata ruang yang kembali lagi membuka ruang-ruang alam agar manusia mendapat ketenangan dalam berinteraksi hidupnya. Kemudian membangun kerangka pembangunan yang efisien yang tidak habis pakai. Misalnya mengembangkan bambu sebagai bahan bangunan untuk di Provinsi Jawa Barat,” bebernya.

Selain itu, kata Dedi, pengaturan tata ruang pun diperlukan dalam pembangunan. Misalnya bisa jadi akan ada aturan bahwa rumah harus menghadap ke sungai, bukan membelakangi sungai.

“Melakukan perubahan tata ruang, tata kelola air, ya kedepannya kalau negara kita, mungkin Jawa Barat mungkin kedepan bisa jadi nanti ada aturan bahwa rumah harus menghadap ke sungai bukan membelakangi sungai. Ini kan pola-pola kebudayaan yang harus terwujud dan UI itu orang Depok sangat beruntung kalau nggak ada UI, nggak ada ruang terbuka hijau, hutannya kan masih ada di UI sekarang,” ungkapnya.

Ingatkan Pentingnya Jaga Alam

Dedi menekankan pentingnya menjaga alam Indonesia di tengah gempuran masalah yang mengancam kondisi lingkungan seperti polusi dan risiko bencana. Kondisi ini perlu diperbaiki bersama-sama.

“Ya itu tadi bahwa kan kita tahulah problem-problem polusi, problem bencana yang disebabkan karena rusaknya hulu sungai, rusaknya gunung gitu loh. Nah itu yang harus segera kita perbaiki secara bersama-sama,” katanya.

Dia juga menekankan pentingnya pembangunan berwawasan lingkungan da kerusakan lingkungan menjadi fokus yang harus dibenahi.

“Jadi sorotan saya adalah pada kerusakan lingkungan yang harus menjadi opsi kita dan saya Jawa Barat aja kita lihat itu Jawa Barat bagaimana banjir, bagaimana puncak itu berubah peruntukannya dari lahan terbuka hijau menjadi areal bisnis, kemudian areal-areal yang pariwisata tapi lebih banyak bangunannya dibanding ruang terbuka hijau,” tegasnya.

Politikus Gerindra ini sempat membahas ingin menjadikan Jabar minim eksploitasi. Langkah yang dilakukan antara lain menutup penambangan yang ditutup dengan tujuan menjaga ekosistem.

“Iya itu tadi kan kita kan hari ini sudah berapa ratus penambangan yang ditutup.Nah penambangan yang ditutup itu kan cermin bahwa tidak boleh terjadi eksploitasi yang berlebihan yang menurunkan daya dukung lingkungan, daya dukung lingkungan kan melahirkan bencana,” ujarnya.

Solusi yang ditawarkan adalah pembangunan harus penggunaan batu, penggunaan semen, penggunaan besi ke depan harus mulai dikurangi dengan menggunakan bambu sebagai alat untuk membangun. Dengan demikian tidak akan merusak alam, salah satunya memulai dengan sekolah dari bambu.

“Dan itu dibuktikan kan di Tiongkok bagaimana hotel dibuat dari bambu, di Amerika juga hotel dibuat dari bambu, kenapa kita penghasil bambu terbaik di dunia tidak mengembang ini? Akan mulai tahun ini kita akan memulai membangun beberapa sekolah dari bamboo,” pungkasnya.

Rekomendasi