Ini si manis Halua, kuliner Lebaran khas Melayu Langkat

Selasa, 15 Juli 2014 11:41 Reporter : Fariz Fardianto
Ini si manis Halua, kuliner Lebaran khas Melayu Langkat Manisan Haluwa. ©wordpress.com

Merdeka.com - Bila Anda menyempatkan diri berlebaran ke Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, maka tak ada salahnya mencicipi kuliner tradisional yang disajikan warga setempat. Ya, orang-orang Melayu Langkat biasanya selalu menghidangkan Halua manisan kepada para tamu yang berkunjung saat Idul Fitri.

Menurut salah seorang pembuat halua di kota Stabat, Ani Syafii, halua adalah sejenis manisan yang terbuat dari berbagai macam buah yang tumbuh di Kabupaten Langkat.

Buah-buahan seperti seperti pepaya, cabai, labu, wortel, daun pepaya, buah gelugur, buah renda, terong, kolang kaling, buah gundur, yang sudah dibersihkan ini lalu diberikan gula untuk kemudian diendapkan selama beberapa hari.

Setelah dicampur dengan gula yang dipanaskan, atau pun dimasukkan langsung dalam manisan yang sudah dibentuk, lalu siap untuk disajikan kepada para tamu yang datang ke rumah ketika berlebaran.

"Setelah itu baru bisa dihidangkan kepada para tamu," ujar Ani, seperti diberitakan Antara, Selasa (15/7). Menurut orang-orang yang sudah mencicipinya, rasa Halua manisan ini sangat enak dan manis.

Dalam Bahasa Arab, Halua memang berarti manisan. Halua sendiri, merupakan sajian ciri khas dari masyarakat Melayu ketika menyambut tamu datang pada saat Lebaran. "Jadi, warga Melayu Langkat tidak akan lupa menyuguhkan hidangan manisan Halua buat tamu yang datang," kata Ani.

Ani Syafii lebih jauh menceritakan, dengan rasa yang manis dan sedikit asam membuat manisan halua yang dibuatnya setiap tahun selalu diminati para pembeli. Untuk tahun ini misalnya, manisan halua yang telah dipersiapkan mencapai 200 kilogram.

Saat ini, manisan Halua yang telah dibentuk dengan berbagai variasi tak hanya digemari warga lokal saja. Tapi, peminat Halua juga datang dari Aceh, Pekanbaru hingga Jakarta.

"Harganya tentu bervariasi tergantung bentuk halua yang diinginkan tiap pembeli. Harganya bisa mencapai Rp 70 ribu-Rp 75 ribu per kilogram. Tapi kalau yang lebih mahal seperti manisan cabai harganya bisa Rp80 ribu-Rp 100 ribu per kilogram," urainya.

Ani menuturkan, di antara manisan halua yang dibuatnya rata-rata para pembeli yang datang ke tempat usahanya di Jalan Kiyai Haji Zainal Arifin Stabat lebih menyukai manisan dari buah cabai. Dalam sehari menjelang Lebaran, biasanya manisan halua cabai sudah habis terjual meski sudah dibuat lebih dari 20 kilogram.

Nasbah Lubis, yang kebetulan membeli halua manisan, menjelaskan setiap tahunnya dia memesan manisan halua mencapai 10 kilogram. Biasanya, makanan itu dia beli untuk dibawa dan dibagi-bagikan kepada sanak keluarganya yang berada di Medan.

"Kita harus bawa manisan halua setiap Lebaran, karena para saudaranya akan bertanya bawa halua apa tidak?" katanya.

Manisan halua ini, lalu dihidangkan, dan akan dinikmati oleh keluarga yang datang berlebaran, dan biasanya dalam tempo singkat manisan halua yang dihidangkan dipastikan akan habis.

Demikian juga dengan ibu Bariah, yang ditemui secara terpisah. Dia menjelaskan, kalau hidangan halua belum disajikan, akan terasa kurang sajian makanan yang disajikan, bagi masyarakat di Kabupaten Langkat.

Baginya, karena halua merupakan ciri khas makanan di hari lebaran, dipastikan harus ada di setiap rumah masyarakat Melayu maupun warga lainnya yang sudah bermukim lama di bumi Langkat. "Harus ada manisan halua yang disajikan di setiap Lebaran," katanya. [hhw]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini