Ini beda prestasi BJ Habibie & Dwi Hartanto yang mengaku ahli dirgantara

Selasa, 10 Oktober 2017 07:15 Reporter : Ramadhian Fadillah
Dwi Hartanto-Habibie. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Kebohongan Dwi Hartanto yang mengaku ahli dirgantara dan roket akhirnya terbongkar. Padahal sejumlah media sempat menggelari Dwi sebagai 'The Next Habibie'. Dia dielu-elukan untuk menjadi penerus Habibie di bidang riset dan teknologi kedirgantaraan.

Faktanya yang disampaikan Dwi Hartanto soal kedirgantaraan semuanya bohong. Jauh sekali jika membandingkan Dwi dengan BJ Habibie.

Dwi akhirnya mengaku beberapa paten yang diakuinya di media sosial cuma bohong belaka. Bandingkan dengan BJ Habibie yang memiliki 46 paten di bidang kedirgantaraan. Habibie juga menemukan rumus yang menghitung keretakan pada sayap pesawat hingga tingkat atom. Rumus inilah yang digunakan aneka perusahaan penerbangan dunia untuk menghindari kecelakaan akibat retaknya sayap pesawat terbang. Inilah asal muasal julukan 'Mr Crack' untuk BJ Habibie.

Lalu Dwi pernah memposting dirinya mengenakan kartu pengenal dengan jabatan Direktur Tehnik di European Space Research and Technology Centre. Namun rupanya itu cuma karangan Dwi saja.

"Dengan demikian tidak benar saya adalah satu-satunya orang non-Eropa di ring satu ESA/ESTEC," tulis Dwi dalam surat permohonan maafnya yang dimuat di situs resmi PPI Delft.

Bagaimana dengan BJ Habibie?

Habibie pernah menjadi Kepala Departemen Riset dan Pengembangan Analisa Struktur di Hamburger Flugzeugbau (HBF) Jerman dengan tugas menjaga kestabilan konstruksi belakang pesawat Fokker 28. Lalu dia menjadi Direktur Teknik/Vice President di Messerschmitt-Bölkow-Blohm. Satu-satunya orang non-Jerman di posisi puncak industri pesawat terbang itu. Habibie menjabat hingga tahun 1974 sebelum Presiden Soeharto memanggilnya pulang untuk membangun Industri Dirgantara di Tanah Air.

Lalu soal roket dan klaim Dwi yang mengaku mendapat kontrak untuk membangun pesawat tempur generasi keenam. Jika jadi pesawat ini akan berada jauh di atas F-35 atau Sukhoi SU-50. Sebagai gambaran, pesawat Sukhoi SU-27/30 TNI AU saja baru masuk pesawat jet generasi keenam.

Lagi-lagi klaim ini bohong belaka. Dwi akhirnya mengakui proyek soal jet generasi keenam ini tak pernah ada.

Sementara semasa muda BJ Habibie sudah merancang pesawat DO-31. Pesawat yang mampu lepas landas dan mendarat secara vertikal ini kelak dibeli rencangannya oleh NASA.

Lalu berkat tangan dingin BJ Habibie pula pesawat Gatotkaca N-250 bisa terbang perdana tahun 1996. Pesawat ini kini menjadi salah satu andalan jualan PT DI sebagai pesawat angkut militer.

Semoga kelak lahir ahli Dirgantara sungguhan yang benar-benar sehebat Pak Habibie. Bukan cuma omong besar belaka. [ian]

Topik berita Terkait:
  1. Dwi Hartanto
  2. BJ Habibie
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.