Ibu Negara Brazil Janja Da Silva: Rahasia Program Pangan Sejak 1955 Adalah Pangan Lokal untuk Makan Bergizi Gratis

Ibu Negara Brazil, Janja Da Silva, membagikan kunci sukses program makan bergizi di negaranya sejak 1955, yaitu dengan mengutamakan pangan lokal. Apa dampaknya bagi program Makan Bergizi Gratis di Indonesia?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Ibu Negara Brazil Janja Da Silva: Rahasia Program Pangan Sejak 1955 Adalah Pangan Lokal untuk Makan Bergizi Gratis
Ibu Negara Brazil, Janja Da Silva, membagikan kunci sukses program makan bergizi di negaranya sejak 1955, yaitu dengan mengutamakan pangan lokal. Apa dampaknya bagi program Makan Bergizi Gratis di Indonesia? (AntaraNews)

Ibu Negara Brazil, Janja Da Silva, memberikan pesan penting mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia. Pesan tersebut disampaikan saat beliau meninjau langsung proses pendistribusian MBG di SD Angkasa 05, Halim, Jakarta Timur, pada hari Jumat lalu. Beliau menekankan bahwa pengutamaan pangan lokal adalah kunci utama keberhasilan program serupa.

Silva berbagi pengalaman berharga negaranya yang telah menjalankan program makan bergizi sejak tahun 1955. Pengalamannya ini disampaikan kepada perwakilan dari Badan Gizi Nasional (BGN) dan Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan). Beliau menggarisbawahi bahwa bahan baku lokal menjadi fondasi kuat bagi keberlanjutan program.

Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kemenko Pangan, Nani Hendiarti, menjelaskan inti masukan dari Ibu Negara Brazil. Menurutnya, ada kewajiban dalam perundang-undangan di Brazil untuk membeli bahan-bahan secara lokal untuk program MBG. Hal ini memastikan bahwa bahan pokok seperti nasi dan sayuran diambil dari sumber setempat, mendukung ekonomi dan kualitas pangan.

Pentingnya Pangan Lokal dan Keberlanjutan Program

Nani Hendiarti mengungkapkan bahwa Ibu Negara Brazil sangat terkesan dengan capaian Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia. Program ini berhasil menjangkau 36 juta penerima manfaat hanya dalam waktu 10 bulan. Angka ini mencengangkan, mengingat Brazil membutuhkan puluhan tahun untuk mencapai 40 juta penerima dalam program serupa.

Program MBG di Indonesia juga menarik perhatian Janja Da Silva karena dinilai memiliki potensi besar. Program ini mampu membangkitkan teknologi di bidang pangan serta membangun ekosistem perekonomian sirkular yang baru. Aspek ini menjadi daya tarik utama bagi delegasi Brazil.

“Program ini bisa membangkitkan teknologi dan ekosistem baru, bukan hanya secara langsung, melainkan juga untuk teknologi masa depan, dan untuk menanggulangi perubahan iklim, jadi itu sangat menarik sekali, green and sustainable (hijau dan berkelanjutan) itu yang menarik,” papar Nani. Ini menunjukkan bahwa MBG tidak hanya berfokus pada gizi, tetapi juga pada inovasi dan keberlanjutan lingkungan.

Efisiensi Distribusi dan Keamanan Pangan

Juru Bicara BGN, Dian Fatwa, menambahkan bahwa Ibu Negara Brazil juga memberikan masukan terkait distribusi MBG. Beliau menyarankan agar durasi distribusi dari dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak melebihi 30 menit. Keterlibatan petani atau peternak lokal dapat menjadi solusi efektif untuk memenuhi standar waktu ini.

“Kalau dari pangan lokal bisa mempersingkat waktu distribusi dan kualitasnya juga bisa terjaga, seperti kasus di Halim ini, antara dapur dengan sekolah-sekolah durasi untuk mencapainya tidak lebih dari 10 menit, bahkan sebetulnya hanya 4-5 menit,” kata Dian. Kecepatan ini krusial untuk menjaga makanan tetap segar dan hangat, sekaligus memastikan keamanan pangan bagi anak-anak.

Dian Fatwa juga menegaskan komitmen BGN terhadap keamanan pangan. Sebelum makanan didistribusikan ke sekolah, BGN memastikan adanya tes terhadap bakteri E-coli, salmonella, dan histamin. Langkah ini dilakukan untuk menjamin bahwa anak-anak menerima makanan yang aman dan sehat. Dengan demikian, program MBG tidak hanya bergizi, tetapi juga higienis.

Integrasi Program dan Dampak Ekonomi Lokal

Ibu Negara Brazil menyoroti bahwa kunci sukses program makan bergizi adalah integrasinya dengan program pemerintah lainnya. Integrasi ini mencakup sektor pertanian dan pemberdayaan masyarakat, menciptakan sinergi yang kuat. Pendekatan ini telah terbukti efektif dalam menjaga keberlanjutan program di Brazil.

“Jadi ekonomi lokalnya juga harus digabungkan. Jadi ini dengan Brasil yang menarik juga karena mereka sudah lama menjalankan. Mereka juga memiliki program Global School Meal Coalition,” ucap Dian. Program Global School Meal Coalition yang diinisiasi Brazil menunjukkan pengalaman panjang mereka dalam mengelola program gizi berskala besar dan berkelanjutan.

Pengalaman Brazil yang telah lama menjalankan program serupa memberikan perspektif berharga bagi Indonesia. Mereka sangat tertarik dengan MBG di Indonesia karena kesuksesannya dalam waktu singkat. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat implementasi MBG di Indonesia, terutama dalam aspek pemberdayaan pangan lokal dan ekonomi setempat.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi