Hujan deras dengan intensitas tinggi yang disertai angin kencang pada Sabtu (8/11) sore telah memicu serangkaian bencana hidrometeorologi di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat melaporkan kejadian banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah tanpa menimbulkan korban jiwa.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Cilacap, Budi Setyawan, menjelaskan bahwa laporan dari Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Penanganan Kedaruratan Bencana Daerah (PKBD) menunjukkan insiden terjadi hampir bersamaan. Beberapa lokasi terdampak meliputi Desa Mandala di Kecamatan Cimanggu, serta Desa Bingkeng dan Panulisan Barat di Kecamatan Dayeuhluhur.
Selain itu, Desa Babakan di Kecamatan Karangpucung juga mengalami longsor dan genangan air yang cukup signifikan. Seluruh kejadian ini dipicu oleh curah hujan tinggi yang berlangsung sejak siang hingga sore hari, menyebabkan debit air sungai meningkat dan tebing tanah menjadi labil.
Advertisement
Advertisement
Di Desa Mandala, Kecamatan Cimanggu, banjir melanda Dusun Cibungur RT 02 RW 05 dan RW 06. Banjir ini merupakan akibat luapan Sungai Cikondang setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut dari pukul 13.30 WIB hingga 17.00 WIB.
Genangan air sempat mencapai ketinggian 50-60 sentimeter, menutupi halaman rumah warga dan jalan kabupaten. Meskipun demikian, air banjir dilaporkan telah surut pada malam hari, memungkinkan aktivitas warga kembali normal secara bertahap.
Sementara itu, di Desa Babakan, Kecamatan Karangpucung, banjir dan longsor juga terjadi, menyebabkan jalan utama Babakan-Cinangka tertutup material longsor. Sebuah rumah milik warga bernama Wasino mengalami kerusakan, dan lahan pertanian seperti sawah serta kolam ikan milik penduduk setempat hanyut terbawa luapan Sungai Cinangka.
Advertisement
Advertisement
Kecamatan Dayeuhluhur menjadi salah satu wilayah yang paling parah terdampak longsor. Di Desa Bingkeng, tebing setinggi 10 meter dengan panjang 8 meter longsor dan menutup akses jalan penghubung antarprovinsi Jawa Tengah-Jawa Barat. Insiden ini juga menyebabkan satu tiang listrik roboh dan menimpa jalan, meski tidak ada korban jiwa.
Budi Setyawan menjelaskan, "Warga bersama petugas UPTD PKBD Majenang, Koramil dan perangkat desa langsung melakukan kerja bakti membersihkan material longsoran serta berkoordinasi dengan PLN untuk mengevakuasi tiang yang roboh." Tindakan cepat ini membantu memulihkan akses dan keamanan di lokasi kejadian.
Di wilayah Desa Panulisan Barat, Dayeuhluhur, hujan deras selama dua hari berturut-turut mengakibatkan longsor di empat dusun: Cimanggeng 1, Cimanggeng 2, Pendeuy, dan Mulyasari. Beberapa rumah warga terancam tertimbun, pagar sekolah ambruk, dan sekitar 30 rumah tergenang air hingga 50 sentimeter di pekarangan.
Advertisement
Advertisement
Menanggapi serangkaian bencana ini, BPBD Kabupaten Cilacap telah melakukan peninjauan lapangan, pendataan, dan koordinasi lintas sektor. Budi Setyawan menyatakan bahwa sebagian besar lokasi terdampak banjir dan longsor kini sudah dapat diakses kembali, meskipun kerja bakti lanjutan masih terus dilakukan oleh masyarakat dan petugas.
BPBD mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) masih menunjukkan adanya potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di wilayah Cilacap dan sekitarnya dalam beberapa waktu ke depan.
“Kami terus mengingatkan masyarakat di daerah rawan agar tidak beraktivitas di sekitar tebing dan bantaran sungai ketika hujan deras berlangsung,” tegas Budi. Peringatan ini penting untuk mencegah timbulnya korban jiwa dan meminimalkan dampak lebih lanjut dari cuaca ekstrem.
Advertisement
Advertisement
Selain di Cilacap, hujan deras pada Sabtu (8/11) sore juga menyebabkan kerusakan di Kabupaten Banyumas. Sebuah Mushalla Baitul Maqdis di Desa Sudagaran RT 03 RW 03, Kecamatan Banyumas, dilaporkan roboh akibat cuaca ekstrem.
Kepala Dusun 3 Desa Sudagaran, Adi, menduga robohnya mushalla berukuran 4x7 meter tersebut disebabkan oleh kondisi fondasi yang tergerus aliran Sungai Kaligawe di belakang bangunan. Sebelum mushalla roboh, pohon cangkring di sebelahnya terlebih dahulu hanyut terbawa arus sungai yang sangat deras.
Meskipun tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, kerugian material akibat robohnya mushalla ditaksir mencapai kisaran Rp100 juta. Kejadian ini menjadi pengingat akan bahaya erosi sungai saat curah hujan tinggi.
Advertisement
Sumber: AntaraNews