Hubungkan 2 Desa di NTT, Satgas Pamtas Bangun Jembatan Sepanjang 110 Meter
Merdeka.com - Satuan Tugas Pengaman Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-RDTL Sektor Barat Yonif 132 Bima Sakti, membangun sebuah jembatan gantung bagi masyarakat. Jembatan yang diberi nama Bima Sakti ini menghubungkan Desa Noepesu, di Kabupaten Timor Tengah Utara dan Desa Bonleu di Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.
Warga Desa Bonleu, Niko Malafu bercerita, sebelum jembatan ini dibangun, warga kedua desa selama ini nekat menerobos sungai jika ingin bepergian.
"Kalau banjir kami setengah mati, bahkan sudah ada yang jadi korban karena nekat menerobos banjir," kata Niko kepada wartawan, Rabu (15/7).
Bahkan, dia menuturkan ada seorang ibu hamil harus melahirkan di rumah karena hujan dan sungai meluap, lantaran tidak ada akses ke puskesmas.
Sementara itu Kepala Desa Noepesu, Yosep Mamo mengaku, ia bersama masyarakat telah membangun satu jembatan darurat setahun lalu, namun belum dipakai sudah rusak dihantam banjir.
"Satu tahun lalu kami membangun jembatan darurat setinggi tujuh meter namun tidak bertahan lama, kami bersyukur karena dengan jembatan ini warga bisa kembali beraktivitas, tanpa harus mempertaruhkan nyawa ketika banjir. Kalau banjir, banyak masyarakat yang menginap di rumah saya. Nanti sudah reda baru mereka langgar ke desa seberang," ungkap Yosep.
Jembatan Bima Sakti resmi digunakan masyarakat, setelah Dansatgas Pamtas Sektor Barat Yonif 132 Bima Sakti, Letkol (Inf) Wisyudha Utama didampingi Vertical Rescue Indonesia, Kepala Desa Noepesu dan Bonleu, melakukan pengguntingan pita, Selasa kemarin.
Menurut Wisyudha, pembangunan jembatan gantung dengan panjang 110 meter ini dilaksanakan secara swadaya, anggaran sebagian besar berasal dari Satgas Pamtas Sektor Barat Yonif 132 Bima Sakti. Sedangkan pengerjaan dibantu tim Vertical Rescue Indonesia sebagai tenaga ahli dan semangat gotong royong masyarakat dua desa.
"Pembangunan jembatan gantung ini merupakan wujud pengabdian Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Barat Yonif 132 Bima Sakti, kepada rakyat sebagai implementasi dari delapan kewajiban TNI," katanya.
Tedy Ixdiana, Komandan Vertical Rescue Indonesia menjabarkan, jembatan gantung Bima Sakti bisa bertahan hingga 15 tahun jika masyarakat kedua desa menjaga dan merawatnya dengan baik. Dari 102 jembatan yang dibangun Vertical Rescue Indonesia di 12 Provinsi di Indonesia, jembatan gantung Bima Sakti yang terindah.
"Jembatan ini kita selalu ajak masyarakat mulai dari membuat dan merawat, hingga aturan penggunaan jembatan yang wajib ditaati, yakni tiga orang dan satu motor bergantian. Dari sisi material ini bisa 15 tahun kalau untuk ketahanan material, kecuali papan per dua atau tiga tahun harus diganti," katanya.
Jembatan Bima Sakti bukan hanya sebagai penghubung Desa Noepesu dan Bonleu, namun akan menjadi spot foto kekinian masyarakat Nusa Tenggara Timur, karena memiliki bentangan alam pedesaan yang menarik.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya