Intermediate Treatment Facility (ITF) Bawuran di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan komitmen nyata dalam mengatasi persoalan sampah. Fasilitas ini berhasil mengolah sampah hingga 30 ton setiap harinya, mengubahnya menjadi produk bernilai guna. Keberhasilan ini menjadi sorotan saat kunjungan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X bersama bupati dan wali kota se-DIY pada Selasa (21/10).
Dikelola oleh Perumda Aneka Dharma, ITF Bawuran tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga menciptakan nilai tambah dari limbah. Sampah yang diolah berasal dari Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, serta sektor swasta. Proses pengolahan yang efisien ini menjadi solusi strategis untuk mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan.
Direktur Perumda Aneka Dharma, Yuli Budi Sasangka, menyatakan bahwa kapasitas pengolahan telah mencapai 25 hingga 30 ton per hari. Kunjungan rombongan Gubernur DIY tersebut menjadi bukti kepedulian pemerintah provinsi terhadap isu lingkungan. ITF Bawuran terus berupaya mengoptimalkan operasionalnya demi penanganan sampah yang lebih baik.
Advertisement
Advertisement
Proses pengolahan sampah di ITF Bawuran dilakukan melalui beberapa tahapan krusial untuk memastikan efisiensi dan keberlanjutan. Tahapan tersebut meliputi pemilahan awal, penghancuran material sampah, hingga pembakaran menggunakan insinerator modern. Sistem ini dirancang untuk memaksimalkan reduksi volume sampah dan meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan.
Hasil pembakaran sampah berupa abu yang dikenal sebagai fly ash dan bottom ash (FABA) kemudian dimanfaatkan kembali. Yuli Budi Sasangka menjelaskan bahwa FABA yang dihasilkan sudah tidak tergolong limbah B3, sehingga aman untuk digunakan. "FABA yang dihasilkan sudah tidak tergolong limbah B3 dan kini dapat digunakan untuk membuat paving block maupun sebagai campuran pupuk kompos," ujarnya.
Selain itu, ITF Bawuran juga menjalin kerja sama strategis dengan Kelurahan Bawuran dalam pembangunan Museum Antroposen. Proyek ini akan memanfaatkan limbah plastik dan abu pembakaran untuk memproduksi batako plastik, menunjukkan potensi daur ulang yang luas. Kerja sama serupa juga akan dilakukan dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bantul, yang memiliki fasilitas pengolahan abu menjadi bahan bangunan di Gowasari.
Advertisement
Advertisement
ITF Bawuran menerima pasokan sampah dari berbagai sumber, termasuk sekitar dua hingga tiga truk per hari dari Kota Yogyakarta dan dua truk per hari dari Kabupaten Bantul. Selain itu, sampah dari sektor swasta juga diolah secara insidental, menunjukkan fleksibilitas operasional fasilitas ini. Pengolahan dilakukan dalam tiga shift setiap hari, meskipun shift ketiga masih dalam tahap optimalisasi untuk meningkatkan kapasitas.
Sebagian sampah organik yang tidak diolah lebih lanjut juga dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat sekitar. Sampah organik ini digunakan sebagai bahan timbunan, memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan bagi warga lokal. Bahkan, sudah ada offtaker lokal yang menampung hasil olahan organik dari ITF Bawuran, menunjukkan adanya ekosistem ekonomi sirkular yang terbentuk.
Dengan kapasitas pengolahan yang mencapai 30 ton per hari, ITF Bawuran menjadi salah satu fasilitas pengolahan sampah modern yang signifikan. Fasilitas ini berkontribusi besar dalam mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan, yang seringkali mengalami kelebihan kapasitas. Harapannya, jika fasilitas seperti ITF Bawuran ini dapat diperbanyak di wilayah DIY, persoalan sampah dapat tertangani dengan lebih baik dan berkelanjutan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews