Hari Buku: Boekhandel Tan Khoen Swie, Jejak Emas Lagenda Literasi dari Kota Kediri

Tan menerbitkan ratusan buku: dari sastra Jawa, cerita silat, filsafat Timur, hingga ilmu pertanian dan kesehatan.

Imam Mubarok
Oleh Imam Mubarok - Reporter
Hari Buku: Boekhandel Tan Khoen Swie, Jejak Emas Lagenda Literasi dari Kota Kediri
Hari Buku: Boekhandel Tan Khoen Swie, Jejak Emas Lagenda Literasi dari Kota Kediri (Merdeka.com)

Di sudut Jalan Dhoho No. 105 Kota Kediri, di tengah hiruk-pikuk kendaraan dan modernisasi yang menenggelamkan banyak jejak sejarah, berdiri satu nama yang pernah menjadi obor literasi Nusantara: Boekhandel Tan Khoen Swie (TKS). Sebuah penerbit legendaris yang hari ini, justru nyaris luput dari perhatian generasi muda, bahkan di Hari Buku Nasional sekalipun.

Nama Tan Khoen Swie memang asing di telinga anak muda masa kini. Namun pada awal abad ke-20, ia adalah pionir gerakan literasi di Indonesia yang memilih Kediri, bukan Batavia atau Surabaya, sebagai pusat penerbitannya. Seorang Tionghoa kelahiran Wonogiri, diperkirakan tahun 1883 (bukan 1833), Tan adalah figur visioner yang berani meretas batasan, baik budaya, sosial, maupun politik kolonial.

Ia membangun Boekhandel TKS sejak 1915, jauh sebelum Balai Pustaka berdiri sebagai penerbit milik pemerintah kolonial. Dari Kediri, Tan menerbitkan ratusan buku: dari sastra Jawa, cerita silat, filsafat Timur, hingga ilmu pertanian dan kesehatan. Ia juga menggandeng banyak penulis lintas latar belakang: dari sastrawan Tionghoa seperti Tjoa Boe Sing dan Tan Tik Sioe, hingga pujangga keraton seperti Ki Padmosusastro.

Bersama istrinya, Liem Gien Nio, Tan mendirikan usaha penerbitan dengan idealisme tinggi. Demi menopang kegiatan cetaknya, ia bahkan berdagang kerupuk dan onderdil mobil, hingga membuka SPBU. Namun semangatnya dalam mencetak buku tidak pernah padam. Bagi Tan Khoen Swie, buku bukan sekadar produk—melainkan perjuangan.

Hari ini, ironinya begitu nyata. Kita memperingati Hari Buku Dunia, tapi Indonesia masih bertengger di papan bawah survei literasi dunia. Menurut laporan PISA 2018, kemampuan membaca pelajar Indonesia menempati peringkat ke-62 dari 70 negara. Buku belum menjadi kebutuhan, apalagi gaya hidup. Bahkan dalam konteks pendidikan pun, budaya membaca kerap hanya menjadi formalitas.

Boekhandel TKS—dengan sejarah panjang dan kontribusi besarnya terhadap budaya literasi Nusantara—tak banyak dibahas dalam buku pelajaran atau dikunjungi pelajar. Bahkan di kota tempat ia tumbuh, namanya nyaris tak terdengar. Padahal, penerbit inilah yang membuktikan bahwa perlawanan terhadap penjajahan bisa dilakukan lewat aksara.

Hari ini, saat kita memperingati Hari Buku, sudah saatnya menengok ke belakang untuk belajar: bahwa Indonesia pernah punya tokoh seperti Tan Khoen Swie yang percaya bahwa buku bisa mengubah masyarakat. Kita tidak kekurangan tokoh inspiratif. Yang kurang adalah kesadaran untuk menghargai dan mewarisi semangat mereka.

Kini, Boekhandel Tan Khoen Swie memang tinggal sejarah. Namun semangatnya tak boleh mati. Di tengah suramnya minat baca dan rendahnya daya literasi nasional, kita butuh lebih banyak jejak seperti Tan Khoen Swie—yang mencintai bangsa dengan mencetak pengetahuan, bukan sekadar menumpuk data.

Buku pernah menjadi senjata Tan Khoen Swie untuk melawan ketertinggalan. Pertanyaannya hari ini: masihkah kita menganggap buku sebagai bagian dari peradaban?

Rekomendasi