Pesilat kebanggaan Indonesia, Ginting Baharudin Putra, baru-baru ini menyampaikan pandangannya mengenai perkembangan olahraga pencak silat di tingkat internasional. Ia mengakui bahwa kekuatan pencak silat kini semakin merata di kawasan Asia, sebuah observasi yang muncul setelah partisipasinya di ajang Islamic Solidarity Games (ISG) Riyadh 2025.
Ginting, yang berkompetisi di kelas D (60-65kg) putra senior, harus mengakhiri perjalanannya di babak semifinal ISG. Kekalahannya ini menjadi indikator bahwa persaingan dalam cabang olahraga bela diri ini telah meningkat secara signifikan di berbagai negara.
Pernyataan Ginting ini diperkuat oleh Manajer Tim Pencak Silat Indonesia, Bayu Syahjohan, yang menekankan pentingnya perluasan jangkauan pencak silat sebagai olahraga global. Fokus utama saat ini adalah meningkatkan partisipasi internasional, bukan hanya sekadar perolehan medali.
Advertisement
Advertisement
Ginting Baharudin Putra, usai penampilannya di ISG Riyadh 2025, secara terbuka menyatakan bahwa kekuatan pencak silat merata di Asia. "Menurut saya atlet-atlet pencak silat sudah mulai banyak bermunculan, termasuk dari Asia Tengah," kata Ginting. Ia menambahkan, "Kalau dilihat sekilas, persaingannya sudah ada, mulai merata." Ini menunjukkan bahwa dominasi beberapa negara tertentu mulai terkikis oleh munculnya talenta baru dari berbagai wilayah.
Perjalanan Ginting di ISG terhenti di semifinal setelah kalah dari pesilat Kazakhstan, Nurdauelt Tasmagambetov, dengan skor 29–41. Sementara itu, rekannya, Fiqi Abdilla Lubis, juga harus mengakui keunggulan pesilat Malaysia, Muhammad Khairo Adib Azhar, di perempat final. Hasil ini semakin memperkuat pandangan bahwa pencak silat merata dan kompetitif.
Manajer Tim Pencak Silat Indonesia, Bayu Syahjohan, juga senada dengan Ginting. Ia mengamati bahwa keikutsertaan banyak negara Islam dalam cabang olahraga ini menunjukkan peningkatan kualitas dan pemerataan kemampuan. "Sekarang kekuatan mulai merata. Lawan dari Kazakhstan misalnya, sudah bisa menunjukkan teknik yang solid. Ini jadi sinyal bahwa pencak silat makin diakui dunia," ujar Bayu.
Advertisement
Pemerataan kekuatan ini menjadi sinyal positif bagi perkembangan pencak silat di masa depan. Ini mendorong atlet dan pelatih untuk terus berinovasi dan meningkatkan standar latihan. Dengan kekuatan pencak silat merata, setiap pertandingan menjadi lebih menarik dan menantang.
Advertisement
Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) memiliki visi besar untuk pencak silat, yaitu menjadikannya olahraga global. Oleh karena itu, tim tidak dibebani target medali di ISG kali ini, mengingat pencak silat dimainkan sebagai "demonstration sport". Fokus utama adalah memperluas jangkauan dan partisipasi internasional pencak silat merata di berbagai negara.
Bayu Syahjohan mengungkapkan rasa syukurnya atas minat yang tumbuh di negara-negara Timur Tengah terhadap pencak silat. Negara seperti Arab Saudi dan Yaman, misalnya, telah menunjukkan perkembangan signifikan. Minat ini adalah langkah penting dalam upaya menjadikan pencak silat merata dan dikenal di seluruh dunia.
"Bagi kami, ini bukan soal hasil semata, tapi bagian dari perjalanan menuju Olimpiade untuk menjadikan pencak silat olahraga global," tegas Bayu. Pernyataan ini menegaskan komitmen jangka panjang untuk mengangkat derajat pencak silat. Dengan semakin banyak negara yang berpartisipasi, peluang untuk diakui sebagai olahraga Olimpiade semakin terbuka lebar.
Advertisement
Peningkatan kualitas dan pemerataan kemampuan antarnegara, seperti yang terlihat di ISG, adalah bukti nyata bahwa pencak silat merata dan menarik minat global. Ini adalah fondasi kuat untuk mewujudkan cita-cita besar tersebut, memastikan bahwa seni bela diri asli Indonesia ini dapat dinikmati dan dipelajari oleh lebih banyak orang di seluruh penjuru dunia.
Advertisement
Meskipun fokus utama adalah pengembangan dan pemerataan, ajang ISG 2025 tetap menghasilkan juara-juara baru. Pada kelas C putra, medali emas berhasil direbut oleh pesilat Malaysia, Muhammad Khairi Adib Azhar. Medali perak diraih oleh Ahmed Al-Baadani dari Yaman, sementara perunggu dibagikan kepada Uali Zhalgasbay asal Kazakhstan dan Shamil Bazarbaev dari Kirgistan.
Di kelas D putra, tempat Ginting Baharudin Putra berkompetisi, medali emas diraih oleh Nurdauelt Tasmagambetov dari Kazakhstan. Pesilat Aljazair, Zemouchi Abdelbasset, berhasil meraih medali perak. Sementara itu, medali perunggu bersama menjadi milik Ginting Baharudin Putra dari Indonesia dan pesilat tuan rumah, Mazen Alzahrani.
Distribusi medali ini semakin menegaskan bahwa kekuatan pencak silat merata di berbagai negara. Tidak ada lagi dominasi mutlak dari satu atau dua negara, melainkan munculnya pesaing-pesaing kuat dari berbagai penjuru. Ini menunjukkan bahwa program pengembangan pencak silat di level internasional mulai membuahkan hasil yang positif.
Advertisement
Hasil ini juga memberikan motivasi bagi negara-negara peserta untuk terus meningkatkan kualitas atlet dan pelatih mereka. Dengan kekuatan pencak silat merata, setiap kompetisi akan menjadi ajang pembuktian kemampuan terbaik dari para pesilat dunia. Ini adalah indikator kesehatan dan pertumbuhan olahraga pencak silat secara global.
Sumber: AntaraNews