Pemerintah terus memperkuat upaya penurunan stunting melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini menyasar kelompok 3B, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD. Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Dr. Wihaji meninjau langsung pelaksanaannya di Lampung, menjelang peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia 2025.
Dalam kunjungan tersebut, Wihaji menemui Rayyan Abiyan Ramadhan, balita 2,5 tahun dari keluarga risiko stunting (KRS) yang berat badannya masih di bawah ideal. Rayyan menjadi salah satu penerima bantuan makanan bergizi dalam program tersebut.
Program MBG merupakan bagian dari Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), yang melibatkan lebih dari 15 ribu individu, lembaga, dan industri dengan total bantuan senilai Rp240 miliar. Data BKKBN menunjukkan, dari 75 juta keluarga di Indonesia, sekitar 8,6 juta tergolong KRS, sementara jutaan keluarga lainnya belum memiliki akses air bersih dan sanitasi layak.
Salah satu pelaksana MBG yang dinilai sukses adalah SPPG Ganjar Agung di Kota Metro, Lampung. Dikelola oleh Destama Saftyani Sakhi, dapur gizi ini menggandeng Dashat dan UPPKA untuk memasok bahan pangan lokal. Mereka melayani 3.497 penerima manfaat, termasuk 366 ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD. “Bahan baku kami ambil dari koperasi dan UMKM lokal. Semua proses produksi mengikuti standar kebersihan ketat,” ujar Destama.
Menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional turun dari 21,5% pada 2023 menjadi 19,8% pada 2024, melampaui target. Pemerintah menargetkan angka itu bisa ditekan hingga 14,2% pada 2029.