Falsafah 'Satu Tungku Tiga Batu' Jadi Kunci, Pemprov Ajak Semua Pihak Kolaborasi Atasi Stunting Papua Tengah

Pemprov Papua Tengah serius tangani Stunting Papua Tengah dengan mengajak berbagai pihak berkolaborasi, termasuk menerapkan falsafah 'Satu Tungku Tiga Batu'. Bagaimana strategi ini bekerja?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Falsafah 'Satu Tungku Tiga Batu' Jadi Kunci, Pemprov Ajak Semua Pihak Kolaborasi Atasi Stunting Papua Tengah
Pemprov Papua Tengah serius tangani Stunting Papua Tengah dengan mengajak berbagai pihak berkolaborasi, termasuk menerapkan falsafah 'Satu Tungku Tiga Batu'. Bagaimana strategi ini bekerja? (Merdeka.com)

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah secara aktif menyerukan kolaborasi dari berbagai pihak untuk mengatasi masalah stunting yang masih menjadi perhatian serius di wilayah tersebut. Ajakan ini disampaikan langsung oleh Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, dalam sebuah siaran pers yang diterima di Jayapura pada Kamis (11/9) lalu. Inisiatif ini menandai komitmen kuat pemerintah daerah dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.

Penanganan stunting di Papua Tengah tidak lagi hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan semata, melainkan telah menjadi perhatian lintas sektor yang melibatkan banyak pihak. Fokus utama adalah menjaga kesehatan ibu hamil dan balita, sebab kualitas gizi sejak masa kehamilan sangat menentukan tumbuh kembang serta kesehatan anak yang dilahirkan. Pendekatan komprehensif ini diharapkan mampu memberikan dampak signifikan.

Keberhasilan dalam upaya penurunan stunting di Papua Tengah sangat ditentukan oleh kebersamaan dan sinergi antara pemerintah serta instansi terkait lainnya. Tanpa dukungan dari berbagai elemen, penanganan stunting tidak akan berjalan maksimal, sehingga dibutuhkan kolaborasi lintas sektor, lintas agama, dan lintas budaya. Aksi konvergensi pencegahan dan percepatan penurunan stunting saat ini menjadi momentum tepat untuk memperkuat komitmen bersama.

Pentingnya Kolaborasi Lintas Sektor dalam Penanganan Stunting

Wakil Gubernur Deinas Geley menegaskan bahwa penanganan stunting tidak bisa dilakukan secara parsial oleh satu instansi saja. Masalah gizi kronis ini memerlukan pendekatan holistik yang melibatkan berbagai kementerian, lembaga, organisasi masyarakat, hingga komunitas lokal. Sinergi ini mencakup aspek edukasi, penyediaan akses gizi yang baik, serta pelayanan kesehatan yang merata di seluruh wilayah Papua Tengah.

Kolaborasi lintas sektor ini mencakup berbagai program, mulai dari peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi seimbang, penyediaan makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita, hingga perbaikan sanitasi lingkungan. Setiap pihak memiliki peran krusial dalam rantai penanganan stunting, memastikan bahwa tidak ada celah yang terlewatkan. Keterlibatan aktif dari semua elemen masyarakat sangat dibutuhkan untuk mencapai target penurunan stunting.

Deinas Geley juga menyatakan, "Kami semua harus saling mendukung sehingga upaya percepatan stunting di Papua Tengah bisa tercapai." Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi kerja sama yang erat dan berkelanjutan. Dengan adanya koordinasi yang baik, diharapkan program-program penanganan stunting dapat berjalan lebih efektif dan efisien, menjangkau seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan.

Filosofi Lokal 'Satu Tungku Tiga Batu' sebagai Simbol Perjuangan

Dalam upaya memperkuat semangat kolaborasi, Pemprov Papua Tengah mengangkat falsafah lokal Papua, yaitu "Satu Tungku Tiga Batu", sebagai simbol dalam penanganan stunting. Filosofi ini menggambarkan pentingnya kesatuan dan kerja sama yang kokoh antara tiga elemen utama dalam kehidupan masyarakat Papua. Penerapan falsafah ini diharapkan dapat menjadi panduan dalam setiap langkah penanganan stunting.

Filosofi "Satu Tungku Tiga Batu" secara spesifik menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan keluarga. Pemerintah berperan sebagai fasilitator dan pembuat kebijakan, masyarakat sebagai pelaksana dan pengawas, serta keluarga sebagai unit terkecil yang memiliki peran sentral dalam memastikan asupan gizi anak. Ketiga pilar ini harus bekerja harmonis untuk menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Dengan mengadopsi falsafah ini, diharapkan setiap program dan inisiatif yang digulirkan dapat diterima dan diimplementasikan dengan baik oleh masyarakat. Pendekatan berbasis budaya ini juga membantu membangun rasa kepemilikan dan tanggung jawab bersama dalam mengatasi stunting. Ini adalah langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan program dan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat di Papua Tengah.

Capaian dan Harapan Penurunan Stunting di Papua Tengah

Upaya penanganan stunting di Papua Tengah menunjukkan hasil yang positif. Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), prevalensi stunting di Papua Tengah hingga Desember 2024 telah mencapai 11,58 persen. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 0,2 persen dari tahun sebelumnya, yang tercatat sebesar 11,76 persen.

Penurunan prevalensi stunting ini merupakan indikator keberhasilan awal dari berbagai program dan kolaborasi yang telah dijalankan. Meskipun demikian, pemerintah daerah tetap berkomitmen untuk terus menekan angka stunting hingga mencapai target yang lebih rendah. Fokus akan tetap pada pencegahan dan intervensi dini, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) anak.

Pemerintah Provinsi Papua Tengah berharap agar tren penurunan ini dapat terus berlanjut di masa mendatang dengan dukungan penuh dari semua pihak. Komitmen untuk memperkuat sinergi dan mengimplementasikan program-program yang tepat sasaran akan menjadi kunci utama dalam mewujudkan generasi Papua Tengah yang sehat, cerdas, dan bebas stunting.

  • Data e-PPGBM menunjukkan prevalensi stunting di Papua Tengah per Desember 2024 adalah 11,58%.
  • Prevalensi stunting sebelumnya (tahun lalu) adalah 11,76%, menunjukkan penurunan 0,2%.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi