Fakta Unik: Surplus Beras tapi Inflasi Tinggi, Gubernur Sulteng Serukan Kolaborasi Pengentasan Kemiskinan Sulteng
Gubernur Sulteng Anwar Hafid serukan kolaborasi untuk pengentasan kemiskinan Sulteng, yang mencapai 11%, sebagai tantangan utama pembangunan daerah di tengah inflasi tinggi.
Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) Anwar Hafid belum lama ini menyoroti kemiskinan sebagai salah satu tantangan pembangunan daerah yang mendesak untuk dituntaskan. Pernyataan ini disampaikan di Palu, menekankan pentingnya kolaborasi kolektif dari berbagai pihak untuk mencapai tujuan tersebut.
Anwar Hafid mengungkapkan bahwa tantangan pembangunan tidak hanya berfokus pada infrastruktur, melainkan juga pada tingginya angka kemiskinan yang masih menjadi pekerjaan rumah. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa angka kemiskinan di Sulteng saat ini mencapai 11 persen.
Angka tersebut setara dengan sekitar 310 ribu jiwa, di mana lebih dari 80 ribu di antaranya merupakan rumah tangga miskin. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dalam upaya pengentasan kemiskinan Sulteng.
Tantangan Kemiskinan dan Inflasi di Sulteng
Menurut data BPS, angka kemiskinan di Sulawesi Tengah berada pada level 11 persen. Ini berarti sekitar 310 ribu jiwa penduduk Sulteng masih berada di bawah garis kemiskinan, dengan lebih dari 80 ribu rumah tangga tergolong miskin. Situasi ini menjadi indikator bahwa upaya pengentasan kemiskinan Sulteng membutuhkan strategi yang komprehensif dan berkelanjutan.
Gubernur Anwar Hafid juga menyoroti dampak inflasi terhadap masyarakat miskin. Ia menyatakan, "Setiap terjadi sentimen negatif (kenaikan) terhadap inflasi yang paling merasakan dampaknya adalah masyarakat miskin." Oleh karena itu, menjaga stabilitas inflasi menjadi krusial dan membutuhkan kerja sama yang baik dari semua pemangku kepentingan di daerah ini.
Sulawesi Tengah saat ini berada di peringkat empat inflasi tertinggi di Indonesia, dengan angka mencapai 4,0 persen. Ironisnya, komoditas penyumbang inflasi terbesar adalah beras, padahal secara produksi daerah ini mengalami surplus sebanyak 131.881 ton hingga September 2025.
Anwar Hafid menjelaskan fenomena tersebut, "Secara teknis pangan kita cukup, tapi distribusi-nya tidak merata. Harga di pasar tetap tinggi karena sistem distribusi belum terintegrasi dan belum efisien." Permasalahan distribusi ini menjadi hambatan serius dalam menstabilkan harga pangan dan mendukung pengentasan kemiskinan Sulteng.
Strategi Kolaborasi dan Program Satu Harga
Untuk mengatasi tantangan kemiskinan dan inflasi, Gubernur Anwar Hafid menekankan pentingnya kolaborasi. Ia mengajak pemerintah kabupaten dengan program unggulannya untuk memprioritaskan pengentasan kemiskinan, yang kemudian dikolaborasikan dengan program pemerintah pusat. Sinergi ini diharapkan dapat mempercepat penurunan angka kemiskinan.
Salah satu inisiatif yang dicanangkan adalah program Satu Harga untuk Sulawesi Tengah, yang merupakan bagian dari misi pembangunan BERANI Sejahtera. Program ini dirancang untuk menciptakan stabilitas harga komoditas pokok di seluruh wilayah Sulteng, sehingga dapat menjaga daya beli masyarakat.
Anwar Hafid optimistis terhadap dampak positif program ini. Ia mengatakan, "Kami yakin program Satu Harga Sulawesi Tengah dapat menjaga daya beli masyarakat, menekan kemiskinan, dan memperkuat stabilitas ekonomi daerah." Program ini diharapkan menjadi salah satu pilar utama dalam upaya pengentasan kemiskinan Sulteng.
Gubernur juga mengajak seluruh pemerintah kabupaten/kota di provinsi itu untuk bergerak bersama. Tujuannya adalah membangun regulasi dan sistem distribusi pangan yang adil dan merata. Dengan demikian, kesejahteraan seluruh masyarakat Sulteng dapat tercapai secara berkelanjutan.
- Angka kemiskinan Sulteng: 11 persen (sekitar 310 ribu jiwa).
- Jumlah rumah tangga miskin: Lebih dari 80 ribu.
- Peringkat inflasi Sulteng di Indonesia: Peringkat 4 tertinggi.
- Angka inflasi Sulteng: 4,0 persen.
- Komoditas penyumbang inflasi terbesar: Beras.
- Surplus produksi beras Sulteng: 131.881 ton (hingga September 2025).
Sumber: AntaraNews