Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) mengambil langkah proaktif dalam menghadapi potensi bencana megathrust yang mengancam wilayahnya. Mereka segera menjalin kerja sama strategis dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) untuk memperkuat sistem mitigasi bencana. Inisiatif ini diharapkan mampu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat di seluruh penjuru provinsi.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumbar, Era Sukma Munaf, mengumumkan rencana penting ini di Padang pada Sabtu lalu. Pernyataan tersebut disampaikan dalam workshop kebencanaan yang berfokus pada asesmen risiko megathrust di Indonesia. Kolaborasi ini menandai pendekatan baru dalam upaya perlindungan warga dari ancaman alam.
Kerja sama ini bertujuan untuk memanfaatkan jaringan masjid sebagai garda terdepan dalam sistem peringatan dini bencana. Masjid-masjid akan diintegrasikan dengan sistem peringatan dini (early warning system) untuk memberikan informasi cepat. Langkah ini diharapkan menjadi solusi konkret dalam menghadapi megathrust dan bencana alam lainnya.
Advertisement
Advertisement
Kemitraan antara Pemprov Sumbar dan DMI memiliki dua poin utama yang akan segera direalisasikan. Pertama, mengidentifikasi masjid-masjid yang berlokasi di sepanjang pantai Provinsi Sumbar untuk dijadikan posko perpanjangan tangan sistem peringatan dini. Masjid-masjid ini akan terkoneksi langsung dengan pusat informasi kebencanaan daerah.
Poin kedua adalah implementasi sistem peringatan dini melalui pengeras suara masjid. Apabila sistem peringatan dini diaktifkan, seluruh masjid yang terhubung akan membunyikan sirene peringatan. Hal ini memastikan informasi bahaya tersebar luas dan cepat kepada masyarakat sekitar.
Penempatan sistem peringatan dini di dalam masjid didasari oleh aktivitas yang berkesinambungan di tempat ibadah tersebut. Hampir 24 jam sehari, selalu ada individu yang bersiaga dan dapat mengoperasikan sistem ini. Kehadiran marbut atau pengurus masjid menjadi kunci efektivitas program ini dalam Mitigasi Megathrust Sumbar.
Advertisement
"Kita tahu hampir di setiap masjid itu selalu ada orang yang menjaganya, paling tidak marbut," ujar Era Sukma Munaf. "Nah, ini bisa kita maksimalkan untuk menjalankan sistem peringatan dini." Pernyataan ini menegaskan potensi besar masjid sebagai pusat informasi dan evakuasi dini.
Advertisement
Sebagai salah satu daerah yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik, Provinsi Sumatera Barat memang memiliki risiko bencana geologi yang tinggi. Oleh karena itu, pemerintah provinsi telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi komprehensif. Upaya ini mencakup pemasangan puluhan unit sistem peringatan dini tsunami di berbagai lokasi rawan.
Rincian pemasangan unit EWS tsunami menunjukkan fokus pada daerah padat penduduk dan pesisir. Sebanyak 33 unit telah terpasang di Kota Padang, sementara Kota Pariaman dan Kabupaten Pesisir Selatan masing-masing memiliki lima unit. Kabupaten Pasaman Barat dilengkapi dengan empat unit, dan Kabupaten Agam tiga unit, serta satu unit di Kabupaten Padang Pariaman.
Namun, terdapat tantangan dalam pemeliharaan infrastruktur peringatan dini ini. Data menunjukkan bahwa 18 unit sistem peringatan dini di Kota Pariaman dan enam unit di Kabupaten Agam sudah tidak berfungsi. Ini menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah untuk memastikan keberlanjutan dan keandalan sistem yang ada demi Mitigasi Megathrust Sumbar yang optimal.
Advertisement
Upaya kolaboratif dengan DMI diharapkan dapat melengkapi dan memperkuat sistem yang sudah ada. Dengan memaksimalkan peran komunitas lokal melalui masjid, diharapkan jangkauan informasi dan respons terhadap bencana dapat ditingkatkan secara signifikan. Kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko kerugian akibat bencana.
Sumber: AntaraNews