Film drama komedi keluarga berjudul “Panggil Aku Ayah” kini tengah tayang di bioskop-bioskop tanah air, menawarkan kisah yang menguras emosi sekaligus menghadirkan tawa. Tontonan berdurasi 120 menit ini menyoroti perjuangan seorang pria bernama Dedi Kosasih, yang diperankan oleh Agus Ringgo Rahman, untuk menjadi sosok ayah sejati bagi Intan (Myesha Lin), seorang bocah yang awalnya menjadi jaminan utang.
Kisah ini dimulai dari pertemuan tak terduga antara Dedi, seorang penagih utang, dengan Intan yang masih kecil. Dedi bersama rekannya, Tatang (Boris Bokir), mengambil Intan sebagai jaminan karena ibu Intan, Rossa (Sita Nursanti), tidak memiliki harta benda berharga lainnya. Adegan penculikan awal ini menjadi titik balik hubungan keduanya, yang perlahan berubah dari saling membenci menjadi saling menyayangi.
“Panggil Aku Ayah” tidak hanya menyajikan drama dan komedi, tetapi juga memberikan pelajaran hidup mendalam tentang arti keluarga dan pengorbanan. Film ini menyoroti bagaimana Dedi, yang mulanya kasar, rela melakukan berbagai pengorbanan besar demi melindungi dan membesarkan Intan, bahkan menjual mobil kesayangannya untuk biaya pendidikan dan modal usaha agar bisa meninggalkan profesi penagih utang.
Advertisement
Advertisement
Perjalanan Dedi Menjadi Sosok Ayah
Awal hubungan Dedi dan Intan digambarkan penuh ketegangan, mirip penculik dan tawanannya, ditandai dengan rasa kesal dan benci. Intan yang berusaha kabur justru mengalami kemalangan, memberikan kesempatan bagi Dedi untuk tampil sebagai penolong. Dari sinilah, hubungan keduanya berangsur membaik dan tumbuh rasa sayang serta ketergantungan satu sama lain.
Dedi pun rela mengorbankan segalanya demi membahagiakan anak titipan itu. Rossa, ibu kandung Intan, pada akhirnya justru menitipkan anaknya kepada Dedi, karena ia percaya Dedi adalah orang yang baik dan tulus menyayangi Intan. Kepercayaan ini semakin memicu Dedi untuk berjuang memenuhi tanggung jawabnya sebagai “ayah”.
Perjuangan Dedi meliputi menghadapi dan berkelahi dengan banyak orang jahat yang ingin mencelakakan Intan. Ia juga rela menjual mobil kesayangannya demi menyekolahkan Intan dan memulai usaha baru, agar tidak lagi menjadi penagih utang, profesi yang dianggapnya kurang pantas dilihat oleh Intan. Momen-momen seperti saat Dedi mengantar Intan daftar sekolah dasar dan kerinduannya dipanggil “ayah” menjadi sorotan emosional dalam film “Panggil Aku Ayah”.
Advertisement
Advertisement
Sisi Gelap dan Pesan Moral dalam Film
Film “Panggil Aku Ayah” secara gamblang menampilkan berbagai sisi gelap realitas sosial yang ada di tengah masyarakat. Isu-isu seperti utang rentenir yang menjadi awal kesengsaraan, kehidupan keras masyarakat bawah dengan bahasa kasar, praktik perdagangan anak, prostitusi, hingga fenomena generasi tanpa ayah (fatherless) turut diselipkan dalam alur cerita. Nasib tragis pekerja migran ilegal juga terselip di bagian akhir melalui tokoh Rossa.
Profesi penagih utang yang intimidatif tergambar jelas dalam tontonan layar lebar ini. Namun, beruntung karena diperankan oleh para pelawak, adegan kekerasan tersebut dibumbui dengan lelucon yang mengundang gelak tawa. Film dengan klasifikasi usia 13+ ini berhasil mengundang tawa di tengah alur kisah pilu yang menyayat hati penonton.
Penempatan Agus Ringgo Rahman sebagai tokoh utama terasa sangat pas, mengingat kesuksesannya dalam serial populer “Keluarga Cemara” yang melekatkan karakter ayah penuh kasih dan bijaksana padanya. Meskipun di awal cerita Dedi berperilaku kejam, penonton tidak merasa khawatir ia akan menyakiti Intan, karena naluri “ayahnya” diprediksi akan muncul seiring interaksi intens dengan anak kecil polos yang kemudian dijuluki Pacil (kepala kecil).
Advertisement
Advertisement
Hal-hal yang Disayangkan dan Rekomendasi
Meskipun “Panggil Aku Ayah” berhasil sebagai film drama komedi, ada beberapa poin yang disayangkan. Salah satunya adalah adegan cuplikan penggoda (teaser) di awal tayangan yang menampilkan Intan dewasa sebagai dokter dan mencari Dedi yang hilang pascakecelakaan, namun adegan ini tidak muncul dalam rangkaian cerita utuh film. Hal ini menimbulkan kebingungan bagi penonton yang menantikan kelanjutan adegan tersebut.
Selain itu, pemilihan musik latar juga patut dipertanyakan karena tidak menggunakan lagu bertema ayah, padahal banyak lagu populer sejenis di industri musik. Pertemuan Intan dengan ayah kandungnya juga tidak diperlihatkan secara dramatis; sang ayah hanya memandang dari jauh, yang terasa kurang realistis mengingat kerinduan besar yang seharusnya ada. Tidak adanya suasana perayaan wisuda saat Intan lulus kuliah kedokteran juga disayangkan, mengingat dedikasi Dedi dalam menyekolahkan Intan hingga berkorban menjual satu-satunya mobil yang dimiliki.
Terlepas dari beberapa hal yang disayangkan tersebut, film produksi Visinema Studios yang digarap oleh sutradara Benni Setiawan ini sangat pantas direkomendasikan sebagai tontonan bersama keluarga Indonesia. Meskipun merupakan adaptasi dari film Korea Selatan berjudul “Pawn” (2020), penggarapan film “Panggil Aku Ayah” yang ciamik sangat layak memperoleh apresiasi tinggi dari para penikmat sinema nasional.
Advertisement
Sumber: AntaraNews