Fakta Unik: Banjir Bekasi Rendam Tujuh Kecamatan Akibat Luapan Kali Cikarang, Warga Sebut Sudah Tiga Kali Terjadi Tahun Ini
BPBD Kabupaten Bekasi tangani Banjir Bekasi di tujuh kecamatan akibat luapan Kali Cikarang. Ketinggian air bervariasi, warga mengeluh sudah sering terjadi.
Banjir melanda tujuh kecamatan di Kabupaten Bekasi sejak Jumat (31/10) malam. Kejadian ini disebabkan oleh hujan intensitas tinggi dan luapan Kali Cikarang yang signifikan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi telah bergerak cepat melakukan penanganan.
Tujuh wilayah terdampak meliputi Serang Baru, Cikarang Selatan, Cikarang Barat, Cikarang Utara, Sukatani, Karangbahagia, dan Cibitung. Ketinggian air dilaporkan bervariasi antara 30 hingga 80 sentimeter hingga Sabtu petang. Situasi ini memerlukan respons tanggap dari berbagai pihak terkait.
BPBD Kabupaten Bekasi, melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik Dodi Supriadi, menyatakan berbagai upaya telah dilakukan. Ini termasuk pengiriman pompa air, tenda pengungsi, evakuasi warga, serta distribusi bantuan logistik ke lokasi terdampak. Tim masih terus berada di lapangan untuk memantau kondisi.
Upaya Tanggap Darurat BPBD dalam Penanganan Banjir Bekasi
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi telah mengambil langkah cepat untuk mengatasi dampak Banjir Bekasi. Dodi Supriadi, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengirimkan pompa air ke Perumahan Arthera Hill Serang Baru. Selain itu, tenda pengungsi juga telah didirikan di Cikarang Barat dan Cikarang Utara untuk menampung warga terdampak.
Upaya evakuasi warga yang terjebak banjir juga menjadi prioritas utama tim di lapangan. Bantuan logistik berupa kebutuhan dasar telah didistribusikan ke berbagai lokasi bencana. "Tim kami masih di lapangan memantau dan membantu warga," kata Dodi Supriadi, menegaskan komitmen BPBD.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bekasi, Muchlis, menambahkan bahwa ketinggian air di tujuh kecamatan terdampak masih berkisar 30 hingga 80 sentimeter hingga Sabtu petang. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada karena potensi curah hujan tinggi masih akan mengguyur wilayah setempat dalam beberapa hari ke depan. Kesiapsiagaan ini penting guna meminimalisasi dampak bencana yang mungkin terjadi.
Kisah Warga Terdampak Banjir Bekasi dan Antisipasi Mandiri
Bagi warga terdampak, Banjir Bekasi bukan lagi hal asing. Nana (26), seorang warga Kampung Keramat, Desa Karangbaru, Kecamatan Cikarang Utara, mengungkapkan bahwa banjir di wilayahnya sudah terjadi tiga kali sepanjang tahun ini. Ia menyebut banjir ini sebagai "banjir kiriman dari wilayah lain."
Nana menjelaskan bahwa air Kali Cikarang naik secara bertahap hingga meluap ke permukiman warga. Namun, kali ini prosesnya terasa lebih cepat. Warga setempat yang sudah terbiasa dengan kondisi ini terpantau meningkatkan kesiagaan. Barang-barang berharga mereka sudah diamankan begitu melihat tanda-tanda awal banjir.
"Sekarang sudah bisa diantisipasi. Dulu pas banjir awal Maret air naik malam, nggak sempat menyelamatkan apa-apa. Lemari, kasur, pakaian, semua rusak," kenang Nana. Banjir setinggi lutut orang dewasa ini telah merendam ratusan rumah dan memaksa sejumlah warga mengungsi. Air juga dilaporkan sulit surut karena aliran kali yang lambat.
Penyebab dan Dampak Banjir Kiriman di Cikarang
Fenomena "banjir kiriman" menjadi penyebab utama Banjir Bekasi di beberapa titik. Odah (43), warga Kampung Jarakosta, Desa Sukadanau, Kecamatan Cikarang Barat, menceritakan bahwa banjir mulai merendam permukiman sejak pukul 06.00 WIB dengan ketinggian mencapai satu meter. Namun, kini air sudah berangsur surut dan hanya menyisakan genangan setinggi 5-10 sentimeter.
Odah menegaskan bahwa banjir yang terjadi bukan akibat hujan lokal di Cikarang. "Ini air kiriman, bukan hujan di sini. Katulampa meluap, jadi dibuka, limpasan airnya ke Kali Cikarang," jelasnya. Pernyataan ini menunjukkan keterkaitan antara kondisi hulu sungai dengan dampak yang dirasakan di hilir.
Kondisi ini diperparah dengan lambatnya aliran Kali Cikarang, yang membuat air banjir sulit surut. "Biasanya lama surutnya, tergantung arus air. Kadang bisa sampai seharian lebih, bahkan berhari-hari," tambah Nana. Keterlambatan surutnya air ini tentu memperpanjang penderitaan warga dan menghambat aktivitas normal.
Sumber: AntaraNews