Sebanyak 24 pasien korban demo dilaporkan telah masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Pelni, Jakarta, pasca bentrok antara massa aksi dan aparat kepolisian. Kejadian ini berlangsung setelah serangkaian unjuk rasa yang memanas pada Kamis (28/8) hingga Jumat (29/8) di ibu kota. Peristiwa ini menarik perhatian publik dan pemerintah.
Di antara para korban, terdapat nama Moh. Umar Amarudin, seorang pengemudi ojek online (ojol) yang mengalami luka-luka saat berada di lokasi kejadian. Kondisi Umar sempat menjadi sorotan karena sempat dikabarkan meninggal dunia, namun belakangan diketahui masih hidup dan menjalani perawatan intensif di RS Pelni.
Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka menunjukkan kepeduliannya dengan menjenguk beberapa korban luka-luka, termasuk Moh. Umar Amarudin, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan RS Pelni pada Jumat (29/8) malam, menegaskan komitmen pemerintah terhadap penanganan korban.
Advertisement
Advertisement
Data Terbaru Korban Demo di RS Pelni
VP Corporate Secretary and Legal PT RS Pelni, Abdul Aziz Purnomo, mengonfirmasi bahwa dari total 24 pasien korban demo yang diterima di IGD, sebagian besar telah mendapatkan penanganan. Data menunjukkan bahwa 19 orang terindikasi sebagai pasien rawat jalan, yang berarti kondisi mereka tidak memerlukan perawatan inap lebih lanjut.
Sementara itu, lima pasien lainnya memerlukan rawat inap untuk pemulihan yang lebih intensif. Dari kelima pasien rawat inap tersebut, satu di antaranya harus dirujuk ke rumah sakit tipe A, yaitu RSPAD, untuk penanganan medis yang lebih komprehensif sesuai dengan tingkat keparahan lukanya.
Aziz menambahkan bahwa satu pasien rawat inap dijadwalkan untuk pulang pada Sabtu (30/8) pukul 16.00 WIB, menunjukkan adanya perkembangan positif dalam kondisi korban. Penanganan cepat dan tepat dari pihak RS Pelni menjadi krusial dalam memastikan pemulihan para korban.
Advertisement
Advertisement
Kisah Moh. Umar Amarudin dan Kunjungan Wapres Gibran
Moh. Umar Amarudin, pengemudi ojol yang menjadi salah satu korban, mengalami luka saat bentrok massa dan aparat berlangsung. Ia terpaksa melewati area demo karena banyak akses jalan lain ditutup, menjadikannya salah satu pihak yang tidak bersalah namun terdampak langsung. Kondisinya sempat mengkhawatirkan publik.
Kisah Umar menjadi sorotan setelah sempat beredar kabar dirinya meninggal dunia, namun kemudian diklarifikasi bahwa ia masih hidup dan dalam kondisi sadar. Kunjungan Wapres Gibran Rakabuming Raka ke RS Pelni secara khusus menjenguk Umar menunjukkan empati pemerintah terhadap nasib warga yang menjadi korban.
Dalam kunjungannya, Gibran menanyakan langsung luka-luka yang dialami Umar serta situasi saat kejadian. Ia juga sempat bertanya alasan Umar melewati jalan rawan tersebut, yang dijawab Umar karena keterpaksaan. Gibran kemudian berpesan agar Umar beristirahat yang cukup dan berharap bisa segera pulih dalam waktu tiga hari.
Advertisement
Advertisement
Kronologi Bentrok dan Tindak Lanjut Aparat
Aksi unjuk rasa yang terjadi pada Kamis (28/8) berlanjut hingga Jumat (29/8) dan diwarnai bentrok serius antara demonstran dengan kepolisian. Eskalasi bentrok mencapai puncaknya pada Kamis malam, ketika kendaraan taktis (rantis) Barracuda Brimob melindas Affan Kurniawan hingga meninggal dunia. Affan juga merupakan pengendara ojol yang sedang bekerja.
Insiden tewasnya Affan Kurniawan di RSCM memicu reaksi cepat dari kepolisian. Beberapa jam setelah kejadian, tujuh polisi yang berada di dalam Barracuda Brimob tersebut ditangkap dan ditahan. Mereka menjalani pemeriksaan intensif oleh Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Mabes Polri.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ketujuh polisi tersebut telah ditetapkan sebagai tersangka dan mengenakan baju tahanan. Tindakan tegas ini menunjukkan komitmen aparat dalam menindaklanjuti insiden yang menyebabkan korban jiwa dan luka-luka, serta memastikan akuntabilitas dalam penegakan hukum.
Advertisement
Sumber: AntaraNews