Peneliti Pusat Riset Agama dan Kepercayaan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yumasdaleni, mengusulkan pendekatan ekoteologi sebagai solusi komprehensif. Pendekatan ini bertujuan menangani trauma ganda pascabencana yang meliputi kerusakan lingkungan dan luka psikososial masyarakat terdampak.
Pernyataan ini disampaikan dalam diskusi daring bertajuk "Resiliensi Eko-Teologi dan Citizen Science Pascabencana" di Jakarta, Jumat (20/2). Yumasdaleni menjelaskan bahwa paradigma pembangunan yang antroposentris selama ini menempatkan manusia sebagai pusat penguasa alam.
Pergeseran paradigma ini dinilai penting agar manusia tidak lagi hanya memosisikan diri sebagai penguasa tunggal bumi. Sebaliknya, manusia harus menjadi bagian dari keseimbangan antara aspek teologi dan ekologi untuk keberlanjutan hidup.
Advertisement
Advertisement
Yumasdaleni menyoroti bahwa pembangunan yang cenderung antroposentris telah menyebabkan berbagai eksploitasi berlebihan terhadap alam. Hal ini memicu deforestasi, polusi, serta pertambangan yang tidak terkendali di berbagai wilayah.
Dampak dari eksploitasi tersebut kini semakin terasa, terutama dalam bentuk perubahan iklim global yang ekstrem. Kondisi ini secara tidak langsung juga memberikan kekerasan terhadap manusia itu sendiri.
Pergeseran paradigma dari antroposentris ke teosentris, yang berakar pada keagamaan dan ekologi, menjadi krusial. Pendekatan ini menekankan bahwa manusia adalah bagian dari alam, bukan penguasa tunggal yang boleh mengeksploitasinya.
Advertisement
Advertisement
Bencana alam tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik yang masif, tetapi juga menimbulkan trauma mendalam pada dimensi emosional, spiritual, dan sosial masyarakat. Hilangnya tempat tinggal, sumber mata pencarian, bahkan simbol komunitas seperti rumah ibadah, memperparah rasa kehilangan.
Yumasdaleni memperkenalkan istilah "solastalgia" dan "ecological grief" untuk menggambarkan fenomena ini. Solastalgia merujuk pada penderitaan emosional akibat perubahan lingkungan destruktif, yang menciptakan kerinduan akan rumah meskipun individu masih berada di sana.
Kedua fenomena ini terjadi akibat perubahan ekologi yang merusak identitas dan spiritual manusia. Oleh karena itu, diperlukan restorasi ekologi yang terintegrasi dengan pemulihan psikososial untuk mengatasi dampak trauma tersebut.
Advertisement
Advertisement
Ekoteologi didefinisikan sebagai praktik holistik yang mengintegrasikan pemulihan trauma manusia dengan restorasi ekosistem. Pendekatan ini menawarkan intervensi terintegrasi, termasuk terapi berbasis alam dan pemulihan ruang-ruang ritual yang memiliki makna simbolik bagi komunitas.
Pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dilakukan secara fisik, melainkan harus menyentuh dimensi spiritual dan identitas kolektif masyarakat. Restorasi ekologis menjadi bagian integral dari proses penyembuhan trauma.
Pendekatan ekoteologi menegaskan keterhubungan esensial antara manusia, Tuhan, dan alam sebagai satu kesatuan. Hal ini menumbuhkan tanggung jawab moral untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan keseimbangan ekosistem demi masa depan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews