Duduk Perkara Penambang Ilegal Berani Lawan Kapolres Sampai Bawa-Bawa Dibekingi Pejabat Polda Gorontalo
Viral Kapolres Boalemo Ajun Komisaris Besar Sigit Rahayudi bersitegang dengan seorang pria yang diduga pelaku Pertambangan Emas Ilegal.
Sebuah video yang menunjukkan Kepala Kepolisian Resor Boalemo Ajun Komisaris Besar Sigit Rahayudi bersitegang dengan seorang pria yang diduga pelaku Pertambangan Emas Ilegal (PETI), Marten Basaur heboh di media sosial. Kapolres Boalemo menyebut dirinya berbicara dengan nada tinggi karena Marten Basaur mengancam anggotanya.
Sigit menyebut sosok pria yang berdebat dengannya di dalam video tersebut adalah salah satu pelaku pertambangan ilegal di Kabupaten Boalemo, Gorontalo yakni Yosi Marten Basaur. Sigit mengungkapkan video tersebut terjadi pada pada pukul 14.00 Wita, Selasa (3/6) di lorong ruang Satuan Reserse Kriminal Polres Boalemo.
"Saat itu, Marten Basaur beserta tiga orang kawannya, yang satu lagi atas nama Bripka HS dan dua orang kawannya yang saya tidak ketahui namanya itu datang ke Polres Boalemo," ujarnya kepada wartawan, Kamis (5/6).
Sigit menjelaskan memerintahkan kepada Kepala Kepolisian Sektor Paguyaman untu melakukan razia pertambangan ilegal di Desa Tenilo, Kecamatan Paguyaman. Sigit menyebut penambangan emas ilegal dengan menggunakan eskavator di pinggiran sungai mengubah bentuk aliran.
"Saya memerintahkan kepada Kapolsek Paguyaman untuk melakukan kegiatan razia tambang dan juga mengimbau serta melarang aktivitas pertambangan ilegal menggunakan eskavator di pinggiran sungai yang berada di Desa Tenilo, karena itu benar-benar merubah daripada bentuk sungai. Itu juga dilarang karena mereka juga menambang dengan tanpa izin," tuturnya.
Saat Polsek Paguyaman melakukan razia, terdapat penambang ilegal di Sungai Tenilo. Saat itu, kata Sigit, Kapolsek Paguyaman melaporkan kepada dirinya adanya penambang atas nama Marten yang bersikeras tidak mau menghentikan aksi penambangannya di sungai tersebut.
"Lalu Kapolsek Paguyaman memberikan laporan secara lengkap kepada kami. Bahwa Polsek Paguyaman sudah melakukan penertiban dan memberikan imbauan serta larangan," kata Sigit.
Minta Anak Buah Setop Tambang Ilegal
Dari informasi Polsek Paguyaman tersebut, Sigit memerintahkan Kepala Satuan Intel dan Keamanan Polres Boalemo Inspektur Satu Ahmad Fahri untuk turun ke lokasi. Saat itu, kata Sigit, Iptu Ahmad Fahri tidak bertemu dengan penambang bernama Marten Basaur.
"Di lokasi, dia tidak bertemu dengan lelaki atas nama Marten tersebut. Tapi hanya bertemu dengan anak buahnya. Di situ terjadi perdebatan yang sengit dimana anak buah Pak Marten ini menanyakan sprin (surat perintah)," ungkap Sigit.
Sigit menyebut saat itu Iptu Fahri menunjukkan surat perintah dari dirinya ke anak buah Marten Basaur. Saat itu, anak buah Marten Basaur hendak memfoto surat perintah tersebut.
"Tetapi pada saat dia ingin memfoto, itu dilarang oleh Pak Kasat reserse, dikarenakan dengan alasan apa dia ingin foto," bebernya.
Dia menegaskan memerintahkan jajaran Polres Boalemo untuk melakukan imbauan dan larangan terkait penambangan emas ilegal.
"Saya selaku Kapolres, penindakan hukum adalah langkah terakhir setelah kita melakukan upaya-upaya preemtif dan juga upaya preventif untuk meminimalisir daripada kerugian-kerugian yang ada," kata dia.
Sigit mengaku Iptu Fahri sempat berbicara dengan Marten Basaur melalui video call. Saat itu, Polres Boalemo meminta kepada Marten Basaur untuk menghentikan aktivitas penambangannya.
"Di video call tersebut terjadilah perdebatan antara Kasat reserse dengan Pak Marten. Dengan menyatakan bahwa Pak Marten tidak mau menghentikan pekerjaannya penambangan ilegal di pinggir sungai tersebut," tuturnya.
Penambang Ilegal Datangi Mapolres Boalemo
Selanjutnya, pada pukul 14.00 Wita, Marten Basaur bersama dua anak buahnya dan seorang polisi inisial Bripka HS mendatangi Mapolres Boalemo. Mereka langsung menuju ke ruang Satreskrim untuk mencari Kasatreskrim Polres Boalemo.
"Tapi saat itu Pak Marten hanya bertemu dengan Pak Asnawi. Di situ anggota saya menanyakan maksud dan tujuan kedatangan Marten, padahal saat razia tidak diminta untuk datang ke Polres," kata Sigit.
Saat Marten datang, Sigit mengaku Kasatreskrim Polres Boalemo sedang berada di ruangannya untuk menyampaikan hasil laporan razia.
"Saya juga ingin mendapatkan informasi yang lengkap dari pelaksanaan tugas yang saya perintahkan kepada Kasat reserse," kata Sigit.
Karena Marten memaksa untuk bertemu dengan Kasatreskrim Polres Boalemo, akhirnya Sigit yang secara langsung menemuinya. Saat itulah terjadi cekcok antara Sigit dengan Marten.
"Lalu saya menemui yang bersangkutan di lorong ruangan Satreskrim. Di situ karena mengacu pada kejadian hari Selasa dan Rabu, di mana orang Marten ini selalu membawa nama-nama pimpinan Polda yang saya tahu itu adalah tidak benar, yang saya tahu itu adalah hoaks, yang saya tahu itu adalah suatu kebohongan, sehingga saya langsung dengan suara tinggi menyampaikan kepada Pak Marten juga," tegasnya.
Ngamuk karena Anak Buah Diancam
Sigit menyebut saat itu dirinya terpancing karena Marten marah dan mengancam personelnya. Apalagi, kata Sigit, Marten menakut-takuti personelnya dengan membawa-bawa nama pejabat Polda Gorontalo.
"Sehingga, saya nada tinggi, tanpa menghardik, tanpa menghina, tanpa mengancam, saya menyampaikan kepada Pak Marten dengan suara tinggi jangan kamu mengancam-ngancam anggota saya. Jangan kamu membawa-bawa nama-nama Polda untuk menakut-nakuti anggota saya. Kenapa, karena anggota saya di sana itu bekerja atas perintah saya," tegasnya.
Dia membantah jika personelnya saat melakukan razia tidak dilengkapi dengan surat perintah.
"Surat perintahnya ada dan ditandatangani saya. Semuanya lengkap," kata Sigit.
Dia menambahkan tindakan razia pertambangan ilegal yang dilakukan merupakan langkah preventif.
"Itu hanya upaya untuk melakukan tindakan preventif, mengimbau dan juga melarang untuk melakukan pertambangan ilegal di sana," pungkasnya.