Diperiksa KPK, Sekjen DPR Mengaku Dicecar Soal Keanggotaan Bowo Sidik Pangarso

Kamis, 16 Mei 2019 17:36 Reporter : Merdeka
Diperiksa KPK, Sekjen DPR Mengaku Dicecar Soal Keanggotaan Bowo Sidik Pangarso Sekjen DPR Indra Iskandar diperiksa KPK. ©2019 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Merdeka.com - Sekretaris Jenderal DPR RI Indra Iskandar merampungkan pemeriksaan sebagai saksi kasus dugaan suap distribusi pupuk dengan tersangka anggota DPR dari Fraksi Golkar nonaktif Bowo Sidik Pangarso.

Indra mengaku dicecar pertanyaan oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengenai sejumlah rapat dipimpin Bowo Sidik sebagai pimpinan Komisi VI DPR.

"Banyak, beberapa risalah rapat yang dipimpin oleh Pak Bowo dan dihadiri oleh Pak Bowo, tidak sebagai pimpinan Komisi VI juga diminta, disita oleh KPK," kata Indra saat keluar gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (16/5).

Menurut Indra, KPK mengamankan sekitar 18 dokumen saat menggeledah ruangan Bowo Sidik. Indra pun mengaku dimintai keterangan perihal aktivitas Bowo Sidik selama menjabat di DPR.

"Selaku anggota komisi di beberapa komisi semenjak jadi anggota DPR, anggota alat kelengkapan dewan, anggota badan anggaran, juga mengkonfirmasi menyangkut absensi rapat pada laporan singkat komisi VI DPR yang rapat itu dipimpin Pak bowo, dan yang dihadiri beberapa BUMN," ujar dia.

Indra juga dimintai klarifikasi terkait hubungan Bowo Sidik dengan PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK). "Terakhir pertanyaan menyangkut Peraturan Dewan No 1 Tahun 2015 tentang etik, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dewan, materinya tadi sebatas itu saja," tandas Indra.

Sebelumnya, KPK menetapkan anggota Komisi VI DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso sebagai tersangka kasus dugaan suap distribusi pupuk. Selain Bowo, KPK menjerat dua orang lainnya yakni Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK) Asty Winasti, dan pegawai PT Inersia bernama Indung.

KPK menduga ada pemberian dan penerimaan hadiah atau janji terkait kerja sama pengangkutan bidang pelayaran untuk kebutuhan distribusi pupuk menggunakan kapal PT HTK.

Pada perkara ini, Bowo Sidik diduga meminta fee kepada PT Humpuss Transportasi Kimia atas biaya angkut yang diterima sejumlah USD 2 per metric ton. Diduga, Bowo Sidik telah menerima suap sebanyak tujuh kali dari PT Humpuss.

Total, uang suap dan gratifikasi yang diterima Bowo Sidik dari PT Humpuss maupun pihak lainnya yakni sekira Rp 8 miliar. Uang tersebut dikumpulkan Bowo untuk melakukan serangan fajar di Pemilu 2019.

Reporter: Nanda Perdana Putra
Sumber: Liputan6.com [gil]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini