Di balik resah para penambang kapur bukit karst Gombong
Merdeka.com - Siang itu, sebuah pedati tertatih melintas di jalan perhutani Desa Kalisari Kecamatan Rowokele Kabupaten Kebumen Jawa Tengah. Seekor kuda coklat yang menarik pedati, seperti tak bertenaga menyusuri jalan tak beraspal dengan muatan ratusan kilogram batu kapur yang baru saja dibelah penambang kapur.
"Di sini ada sekitar 10 gerobak yang masih menggunakan kuda untuk mengangkut batu kapur. Kalau dulu lebih banyak lagi, tetapi sekarang para pengepul lebih memilih menggunakan truk," ujar warga Desa Kalisari RT 001/RW 01 Kecamatan Rowokele, Muhroni (37).
Muhroni sendiri bekerja sebagai penambang kapur di desanya. Menurut Muhroni, hampir seluruh masyarakat di desanya berprofesi sebagai penambang kapur yang menggunakan cara tradisional dalam prosesnya. Mereka kerap melakukan penambangan di bukit Kalisari yang sudah menjadi milik pribadi.
"Tanah di sini harganya per ubin (14 meter persegi), bisa mencapai Rp 2 juta. Sedangkan untuk menyewa lahan perbukitan untuk ditambang dihargai Rp 20 juta per tahun," katanya beberapa waktu lalu.
Penambangan di Bukit Kalisari pertama kali dimulai sekitar tahun 1975. Saat itu, jelas Muhroni, bukit tersebut berada di dekat batas jalan. Namun, saat ini bukit tersebut berada sekitar 500 meter dari jalan perhutani. "Dulu bukitnya berada di dekat jalan, tetapi sekarang sudah mundur terus. Tetapi, ini masih jauh dari tanah batas milik Perhutani. Kurang lebihnya, masih ada sekitar 2 kilometer lagi," ucapnya.
Bukit Kalisari merupakan bukit kapur yang berketinggian sekitar 45 meter. Menurut Muhroni, di puncak Bukit Kalisari terdapat gua kapur yang dikenal masyarakat sekitar dengan nama Gua Landak. Gua Landak ini, menurutnya, tidak diketahui bagian ujungnya karena belum ada yang menyusuri gua tersebut. Selain keberadaan gua kapur di Bukit Kalisari juga menjadi tempat biaknya hewan yang dilindungi, elang.
"Di sini setiap pagi pasti ada elang yang berputar-putar, kadang juga ada anak elang melintas dekat bukit. Orang sini dilarang untuk mengambil atau menembaknya," katanya sambil menunjuk Elang Jawa yang berada di ketinggian mengitari.
Meski hidup di dekat bukit kapur, masyarakat sekitar kerap dihadapi problem kesulitan air menahun. Persoalan tersebut sebenarnya sudah dipecahkan dengan mengalirkan air dari sumber yang berada di gua sebelah timur desa ke bak penampungan sementara di sekitar tempat tinggal mereka. Namun, saat musim hujan mulai datang seperti sekarang, Muhroni mengaku masih kesulitan mendapat air.
"Sekarang walau sudah mulai hujan, airnya masih sedikit. Mau nggak mau harus mengangkat air dari desa tetangga yang jaraknya sekitar 1 kilometer. Kalau di sini, terus terang tidak ada air bersih," jelasnya.
Kesulitan penambang sebenarnya bukan hanya persoalan minimnya air bersih. Mereka juga mempertanyakan rencana pendirian pabrik semen di Desa Negoroji Kecamatan Buayan. Pendirian pabrik semen PT Semen Gombong tersebut mendapat reaksi dari Mujito (40) warga Desa Kalisari. Diakuinya, selama ini memang pernah mendengar adanya rencana pembangunan pabrik semen.
"Sebenarnya saya bingung, pemerintah kok bisa menyetujui rencana pembangunan pabrik semen yang jelas-jelas akan mengeruk kapur lebih besar. Padahal, kami selama ini malah dianggap illegal oleh pemerintah," jelasnya.
Mujito merasa ada ketidakadilan dalam persoalan persetujuan pendirian pabrik semen yang diberikan pemerintah. Bahkan, ia sendiri tidak pernah mengetahui adanya sosialisasi pendirian pabrik semen tersebut. "Sampai sekarang kami tidak tahu ada rencana itu," ucapnya.
Ia meminta pemerintah untuk memperhatikan para penambang rakyat. Selama ini, kata dia, mereka menggantungkan mata pencaharian sebagai penambang dengan penghasilan Rp 130 ribu per hari.
Kepala Seksi Perizinan Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal Kabupaten Kebumen, Karyanto mengatakan, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) kompleks pabrik sudah didapat PT Semen Gombong. "Pendirian pabrik masih menunggu keluarnya Amdal," katanya.
Dari data yang dimiliki Dinas Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya Mineral (SDA ESDM) Kebumen menyebutkan, luas sebaran batu gamping di wilayah pegunungan karst Gombong selatan seluas 5.083,5 hektare. Jumlah tersebut setara dengan 389,25 juta metrik ton. "Jika ditambang selama 100 tahun, jumlah tersebut tidak akan habis," kata Karyanto.
Menurut, Site Manager PT Semen Gombong, Tineke Sunarni Amdal sebenarnya sudah mereka miliki di tahun 1996. Ketika krisis moneter melanda, pembangunan pabrik ikut tertunda hingga saat ini. Kini, PT Semen Gombong yang merupakan anak perusahaan PT Medco milik Arifin Panigoro ini harus membuat Amdal baru untuk memulai pembangunan pabrik.
PT Medco sendiri mengeluarkan investasi senilai USD 300-350 juta untuk penambangan tersebut, termasuk infrastruktur. Pembangunan pabrik rencananya akan dibangun di lahan seluas 50 hektare dan area perbukitan kapur yang ditambang seluas 271 hektare serta 231 hektare untuk tambang tanah liat sebagai campuran bahan semen. Lahan tersebut berada di Kecamatan Buayan dan Rowokele, sedangkan lokasi pabrik di Desa Nogoraji Kecamatan Buayan.
Geologist PT Semen Gombong, I Wayan Tirka Laksana memastikan, pabrik itu tidak akan merusak lingkungan. Perusahaannya akan menggunakan teknologi Jerman yang ramah lingkungan. "Tidak akan ada debu dan air bersih justru akan melimpah. Kami juga memastikan tidak ada gua di wilayah yang kami tambang," katanya (mdk/hhw)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya