Denpasar Kite Festival IX 2025: Lestarikan Tradisi Melayangan, Ternyata Layangan Tradisional Wajib Kain Corak Bali!
Denpasar Kite Festival IX 2025 kembali digelar, menjadi ajang pelestarian tradisi melayangan yang unik. Simak bagaimana festival ini sukses menarik ribuan peserta dan mendukung pariwisata budaya!
Denpasar Kite Festival IX 2025 kembali digelar di Kawasan Pantai Mertasari, Sanur, Denpasar, Minggu, sebagai wujud nyata pelestarian kesenian tradisi melayangan. Acara ini diselenggarakan oleh Persatuan Pelayang Indonesia (Pelangi) Kota Denpasar. Festival tahunan ini bertujuan untuk menjaga warisan budaya lokal sekaligus menjadi daya tarik pariwisata.
Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, secara pribadi dan sebagai kepala daerah, menegaskan komitmennya dalam melestarikan tradisi melayangan. Beliau menyatakan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar hiburan, melainkan juga sebuah atraksi budaya yang mendukung keberlangsungan pariwisata di Bali, khususnya Kota Denpasar. Ini adalah upaya penting dalam mempertahankan identitas budaya.
Pembukaan festival ditandai dengan penarikan layang-layang Maskot Pelangi Kota Denpasar, menandakan dimulainya serangkaian lomba. Setelah membuka acara, Wali Kota Jaya Negara turut menyaksikan langsung jalannya kompetisi. Lomba dimulai dengan seri Layangan Tradisional Pecukan Plastik, dilanjutkan dengan Layangan Tradisional Bebean Plastik, serta Layangan Tradisional Janggan Buntut Plastik.
Komitmen Pelestarian Tradisi Melayangan dan Dukungan Pariwisata
Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara secara konsisten mendukung penuh pelaksanaan Denpasar Kite Festival. Beliau mengapresiasi kegiatan ini sebagai wahana ekspresi dan kreativitas budaya bagi para pelayang, yang akrab disapa rare angon. Festival ini menjadi platform vital untuk menunjukkan keunikan budaya lokal.
Menurut Jaya Negara, layang-layang tradisional merupakan potensi budaya masyarakat yang memiliki ciri dan keunikan tersendiri. Keberadaan festival ini mendorong munculnya kreativitas serta inovasi baru di kalangan pelayang. Muaranya adalah kelestarian budaya dan kemajuan pariwisata berbasis budaya di Denpasar.
Pelaksanaan acara rutin tahunan oleh Pelangi Kota Denpasar ini diharapkan mampu terus mendukung pelestarian kesenian tradisi melayangan. Inisiatif ini tidak hanya mempertahankan praktik budaya, tetapi juga memperkenalkannya kepada generasi muda dan wisatawan. Dengan demikian, tradisi ini dapat terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Kategori Lomba dan Antusiasme Peserta Denpasar Kite Festival
Ketua Pelangi Kota Denpasar, I Wayan Mariyana Wandhira, menjelaskan bahwa Denpasar Kite Festival IX Tahun 2025 mengusung tema "Ambeking Paramartha". Tema ini memiliki makna mendalam, yaitu Tuhan sebagai angin yang memberikan kekuatan. Pemilihan tema ini bertujuan untuk memaknai semangat kebersamaan di antara para pelayang dan masyarakat luas dalam menjalankan aktivitas.
Wandhira menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi wahana penting untuk memberikan ruang gerak bagi para pelayang agar bermain layangan dengan penuh rasa tanggung jawab. Selain itu, festival ini juga meningkatkan rasa kebersamaan di antara generasi muda dan komunitas pelayang. Semangat persatuan sangat terasa dalam setiap sesi lomba.
Lomba tahun ini menghadirkan beragam kategori untuk remaja dan dewasa, meliputi jenis layangan tradisional dan kreasi baru. Layangan tradisional diwajibkan menggunakan kain dengan corak warna khas Bali, yaitu merah, kuning, hitam, dan putih. Ketentuan ini menambah nilai estetika dan keaslian budaya pada setiap layangan yang terbang.
Partisipasi dalam festival ini sangat tinggi, dengan lebih dari 1.410 layangan dari sekaa/klub dan peserta pribadi. Selain lomba layang-layang utama, Denpasar Kite Festival juga menyelenggarakan Lomba Kober dan Lomba Pindekan. Lomba Pindekan diikuti oleh 43 peserta, sementara Lomba Kober diikuti oleh 6 peserta, menunjukkan variasi atraksi budaya yang ditawarkan.
Kategori layangan yang dilombakan meliputi:
Sumber: AntaraNews