Dari awal hingga akhir, Panji dan Candrakirana masih saja dipisahkan
Merdeka.com - Meski kisah Panji berakhir bahagia yakni setelah dalam pengembaraan dan penyamaran mereka dipertemukan hingga akhirnya menikah. Namun cerita tentang kutukan dewata itu ternyata belum berakhir.
Lydia Kieven peneliti Panji asal Jerman menuliskan dengan judul Arca Yang Terpisah. Yakni ada sebuah arca tiga dimensi yang menggambarkan Panji berasal dari Candi Selokelir di lereng Gunung Penanggungan.
Arca Panji itu kini disimpan di gedung perpustakaan seni rupa, ITB Bandung. Sementara itu di museum Nasional Jakarta, ada arca perempuan yang diyakni oleh Lydua Kieven perwujudan Candrakirana.
"Dua (pasangan) arca tadi nampaknya perlu waktu guna melewati dan mengatasi halangan untuk bersatu," tulisnya.
Dua arca tadi memiliki padmasana, yaitu bentuk padma (teratai) yang biasannya merupakan ciri khas untuk arca dewa. Panji dan Candrakirana bukan dewa, tetapi mereka dahulu mereka dipuja seperti dewa.
Cerita Panji berkembang melalui berbagai aspek kehidupan dan bentuk seni seperti seni tari, sastra, teater, wayang, seni lukis, dan seni pahat. Cerita Panji Meski terdiri dari berbagai versi, inti cerita Panji selalu bercerita tentang kehidupan tokoh Raden Panji (Panji Asmorobangun) dari Kerajaan Jenggala dan Putri Candrakirana (Dewi Sekartaji) dari Kerajaan Daha atau Kediri.
Raden Panji dianggap sebagai titisan Dewa Wisnu, sedang Dewi Sekartaji sebagai titisan dari Dewi Sri. Penyatuan Panji dan Sekartaji, sebagai bentuk penyatuan pria dan wanita yang menghasilkan kesuburan atau keturunan, dijadikan simbol kesuburan padi.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya