Cerita Seorang Siswa Saat Disuruh Membaca Jam Analog: Enggak Paham, Bu

Anak-anak kini sangat bergantung pada jam digital yang ada di ponsel, tablet, atau smartwatch, sehingga jam analog semakin jarang digunakan.

Supriatin
Oleh Supriatin - Reporter
Cerita Seorang Siswa Saat Disuruh Membaca Jam Analog: Enggak Paham, Bu
Ilustrasi jam dinding, waktu berjalan. (Foto oleh Shawn Stutzman: https://www.pexels.com/id-id/foto/jam-dinding-analog-bulat-hitam-1010480/) (© 2025 Liputan6.com)

F masih ingat betul bagaimana rasa 'malu' ketika gurunya meminta ia membaca jam dinding analog di depan kelas. Jarum panjang dan jarum pendek yang terus bergerak justru membuatnya bingung. Ia hanya bisa menatap, senyum kaku, lalu berbisik pelan,

“Nggak paham, Bu.”

Kisah itu diceritakan F kepada Liputan6.com sebagai salah satu pengalaman memalukan yang baru saja ia alami beberapa minggu lalu. F adalah seorang siswa sekolah negeri di Bogor, Jawa Barat, yang tumbuh di era serba digital.

Sejak kecil, pemahamannya tentang waktu lebih banyak ia peroleh dari jam digital di ponsel dan jam tangan modern. Semua serba angka, jelas, tanpa perlu menghitung posisi jarum. “Di rumah nggak ada jam dinding analog. Bapak sama ibu juga lebih sering lihat waktu di HP,” katanya.

Padahal, ia pernah belajar cara membaca jam analog saat duduk di bangku SD. Namun, pelajaran itu pelan-pelan hilang dari ingatan.

“Kalau lihat jarum jam malah bingung. Ini jarum yang mana, harus hitung dulu. Kalau jam digital tinggal lihat angka, selesai,” ujarnya sambil tertawa kecil.

F sadar, ia tidak sendirian. Beberapa teman sekelasnya pun mengalami hal serupa. “Banyak kok yang nggak bisa baca jam analog. Jadi bukan cuma aku aja,” tambahnya.

Tidak hanya anak-anak, orang dewasa juga sering kali mengalami kesulitan dalam membaca jam analog. Salah satu contohnya adalah Fitra (27), seorang karyawan swasta, yang meskipun sudah berkeluarga, masih merasa kesulitan saat harus membaca jam dengan jarum.

Hal yang menarik, suaminya sempat mengira bahwa Fitra hanya bercanda mengenai hal ini.

"Di awal-awal nikah, suami kira saya becanda, padahal saya beneran nggak bisa," ungkap Fitra sambil tertawa.

Fitra mengaku bahwa dia pernah belajar cara membaca jam analog saat masih di sekolah dasar. Namun, sejak kecil, ia merasa bahwa konsep jarum pendek dan jarum panjang terlalu sulit dipahami. Banyaknya angka yang tertera dalam satu lingkaran justru membuatnya bingung.

"Lihat jarum sama banyak angka enggak kebaca aja sama otakku. Langsung kosong gitu otak pas baca jam," jelasnya.

Oleh karena itu, Fitra lebih memilih menggunakan jam digital. Ia lebih suka mengandalkan ponsel atau jam tangan digital untuk mengetahui waktu.

Menurutnya, angka yang langsung terlihat jauh lebih mudah dibandingkan harus menebak posisi jarum.

"Simple. Langsung kelihatan jam berapa, enggak pakai mikir," tuturnya.

Rina, seorang ibu berusia 38 tahun yang tinggal di Depok, mengungkapkan kekhawatirannya mengenai putranya, Dika, yang belum mampu membaca jam analog meskipun sudah berada di kelas 8 SMP.

Suatu ketika, Rina menceritakan bahwa Dika diminta oleh ayahnya untuk melihat jam dinding yang berupa jam analog biasa, lengkap dengan jarum pendek dan panjang.

Namun, Dika hanya memandang jam tersebut dan kemudian bertanya, "Ini jam berapa, Yah?" Rina sempat mengira bahwa Dika hanya bercanda, tetapi ternyata putranya serius dan tidak tahu cara membaca jam analog.

Kejadian ini membuat Rina merasa kaget dan bingung. Menurutnya, belajar membaca jam seharusnya menjadi pelajaran dasar yang diajarkan di sekolah dasar.

Namun, saat ini, anak-anak tampaknya sangat bergantung pada jam digital yang ada di ponsel, tablet, atau smartwatch. Rina bahkan merasa perlu untuk bertanya kepada guru Dika, khawatir jika anaknya menjadi satu-satunya yang tertinggal dalam hal ini.

Ternyata, ia menemukan bahwa banyak siswa lainnya juga mengalami masalah yang sama. "Mungkin karena semua serba digital, mereka jadi nggak pernah terpapar jam analog," ungkapnya.

Sebagai orang tua, Rina merasakan campuran antara kesedihan dan tantangan. Dia pun bertekad untuk mulai mengajarkan Dika cara membaca jam analog secara perlahan.

"Kadang frustrasi juga sih, tapi saya sadar ini bukan salah anak sepenuhnya. Zaman sudah beda, tugas kita orang tua yang harus ikutan menyesuaikan cara mendidik," tuturnya.

Melalui pengalaman ini, Rina berharap dapat membantu Dika memahami konsep waktu dengan cara yang lebih tradisional.

Rendahnya kemampuan siswa dalam membaca jam analog telah diungkapkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti.

Dia menyatakan bahwa kondisi ini terlihat jelas dari hasil skor Programme for International Student Assessment (PISA).

"Saya menengarai, sebagian anak-anak kita itu tidak mampu membaca jam analog. Membaca jam digital itu bisa karena ada angkanya. Tetapi ketika sudah jam analog, ada jarum panjang, ada jarum pendek, tidak semuanya bisa membaca," ungkap Mu'ti saat meluncurkan Gerakan Numerasi Nasional di SDN 04 Meruya, Jakarta Barat, pada Selasa (19/8).

Mu'ti menegaskan bahwa kemampuan membaca jam analog bukan hanya sekadar mengenal waktu, tetapi juga melatih anak-anak untuk memahami sudut, posisi, serta keterampilan berhitung dalam kehidupan sehari-hari.

"Padahal dari situ, anak tidak hanya tahu jam berapa, tapi juga bisa memahami sudut-sudut pergerakan jarum jam. Itu juga numerasi," tambahnya.

Dia menjelaskan bahwa lemahnya kemampuan numerasi berdampak langsung pada rendahnya skor PISA Indonesia. Bahkan, masih banyak anak yang terbiasa menggunakan kalkulator untuk melakukan perhitungan sederhana.

"Jangan sampai ketika ada pertanyaan 4x4 sama dengan 16, harus pakai kalkulator. Kebiasaan-kebiasaan numerasi sederhana ini harus dibangun kembali," katanya.

Mu'ti juga menekankan pentingnya mengubah pandangan bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit dan menakutkan. Matematika seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang menyenangkan dalam dunia pendidikan.

"Dulu matematika sering disebut mati-matian, gurunya juga mengajarkan dengan cara yang bikin mumet. Akhirnya jadi momok. Kita harus ubah itu. Matematika harus diajarkan dengan cara yang menyenangkan, joyfull, bahkan lewat cerita dan narasi," jelasnya.

Selain itu, penggunaan numerasi dalam kehidupan sehari-hari dianggap dapat mengurangi ketergantungan anak-anak terhadap teknologi yang instan.

"Kebiasaan sederhana seperti membaca peta, menghitung waktu perjalanan, sampai memahami arah kiblat, semuanya bagian dari numerasi yang dekat dengan kehidupan kita," ujarnya.

Mu'ti berharap bahwa gerakan numerasi ini dapat membangkitkan semangat anak-anak untuk lebih mencintai matematika sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.

Rekomendasi