Cerita Masjid Suciati Saliman, dibangun dengan modal hanya lima ekor ayam

Kamis, 31 Mei 2018 12:28 Reporter : Indra Cahya
Cerita Masjid Suciati Saliman, dibangun dengan modal hanya lima ekor ayam Penjual ayam di Yogya bangun masjid. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Di pinggir jalan Gito-Gati, Grojogan, Pandowoharjo, Sleman, terdapat sebuah bangunan Masjid yang nampak mencolok jika dibandingkan dengan deretan bangunan lain yang ada di sana. Masjid ini terlihat bertambah kemegahannya karena berada di pemukiman biasa di jalanan yang tak seberapa lebar.

Itulah Masjid Suciati Saliman, demikian nama tempat ibadah yang baru diresmikan pada Minggu, 13 Mei lalu. Masjid yang diberi nama sesuai dengan nama orang yang membangunnya ini berlokasi di jalur alternatif Kota Yogyakarta dan beberapa tempat wisata di DIY.

Masjid ini beroperasi 24 jam dan dilengkapi dengan pendingin ruangan. Selain kemegahannya, arsitektur masjid ini cukup unik.

Sebuah masjid berdiri kokoh di tepi Jalan Gito-Gati, Grojogan, Pandowoharjo, Sleman. Bangunan itu tampak mencolok jika dibandingkan dengan rumah atau bangunan lain di sekitarnya. Ruas jalan yang tidak terlalu lebar, juga membuat masjid yang dibangun di lahan seluas 1.600 meter persegi terlihat megah.

Masjid Suciati Saliman, demikian nama tempat ibadah yang baru diresmikan pada Minggu, 13 Mei lalu. Masjid yang diberi nama sesuai dengan nama orang yang membangunnya ini berlokasi di jalur alternatif Kota Yogyakarta dan beberapa tempat wisata di DIY.

Masjid ini beroperasi 24 jam dan dilengkapi dengan pendingin ruangan. Selain kemegahannya, arsitektur masjid ini cukup unik.

Menangis Saat Azan Pertama

Saliman mengaku pertama kali mendengar adzan berkumandang dari masjidnya. Kala itu, azan Maghrib tepat satu minggu sebelum peresmian masjid berlangsung.

"Merasa sangat terharu, ini impian saya sejak masih SMP, bisa bangun masjid," ucapnya.

Meskipun belum sepenuhnya rampung, masjid ini sudah dimanfaatkan oleh banyak orang. Selama bulan Ramadan, Suciati menyediakan menu sahur dan buka bersama bagi warga sekitar.

Kegiatan tausiah juga dilakukan menjelang berbuka puasa dengan mengundang beragam penceramah.

Ia tidak menampik, perizinan dan pembebasan tanah untuk pembangunan masjid tidak mudah. Sebab, di kawasan itu sudah berdiri sejumlah masjid.

"Namun, sasaran masjid ini adalah musafir dan karyawan saya," ucapnya.

Saliman juga berencana untuk menetap di masjidnya. Ada satu ruangan yang masih direnovasi dan kelak menjadi tempat tinggalnya.

Berawal dari Lima Ekor ayam

Masjid megah dan mewah ini ternyata buah kerja keras perempuan kelahiran 66 tahun silam sejak 1966. Suciati bekerja di Pasar Terban menjual lima ekor ayam setiap hari sewaktu duduk di bangku SMP.

Ia diberi modal Rp 175 oleh sang ibu pada 1966.

"Terus seperti itu sampai saya selesai sekolah," kata Suciati.

Sebelum pergi ke sekolah ia menjual ayam dan jika belum habis, maka dititipkan ke perumahan dosen di Bulaksumur.

Ketekunan membuat usaha nenek dari empat cucu ini berkembang. Kini, ia tercatat sebagai pemilik PT Sera Food Indonesia yang memproduksi makanan beku. Pasarnya tersebar di seluruh Indonesia.

Ia juga memiliki dua pabrik di Yogyakarta dan Jombang yang menjual 100 ton daging ayam per hari.

Saliman meyakini bisnisnya berkembang pesat karena perwujudan dari falsafah atau pandangan hidupnya.

"Urip iku urip artinya hidup harus memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain," tuturnya.

Melalui Saliman Grup dirinya mempekerjakan hingga ribuan pegawai. Setelah pembangunan masjid tersebut tuntas, ia sudah memiliki niatan untuk mendirikan pondok pesantren, rumah hafiz, serta taman religi.

Sumber: Liputan6.com [idc]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini