CdM Indonesia Soroti Pelanggaran Regulasi ASEAN Para Games 2025, Berdampak pada Medali

Chef de Mission Indonesia menyoroti dugaan pelanggaran regulasi di ASEAN Para Games 2025 Thailand yang merugikan kontingen, temuan ini dilaporkan resmi demi sportivitas.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
CdM Indonesia Soroti Pelanggaran Regulasi ASEAN Para Games 2025, Berdampak pada Medali
Tim Nasional Para Panahan Indonesia berhasil meraih dua medali emas di ASEAN Para Games (APG) 2025 Thailand, mengincar **Prestasi Para Panahan Indonesia APG 2025** yang melampaui capaian sebelumnya. (AntaraNews)

Chef de Mission (CdM) Indonesia untuk ASEAN Para Games 2025 Thailand, Reda Manthovani, mengungkapkan temuan pelanggaran regulasi pertandingan. Temuan ini dinilai tidak sejalan dengan standar internasional dan berpotensi merugikan perolehan medali kontingen Indonesia. Pelanggaran regulasi ASEAN Para Games 2025 ini menjadi sorotan utama.

Dalam konferensi pers daring di Jakarta pada Sabtu, Reda Manthovani menegaskan bahwa temuan ini telah dilaporkan secara resmi. Laporan tersebut disampaikan kepada ASEAN Para Sports Federation (APSF) untuk menjunjung tinggi prinsip fair play. Hal ini juga bertujuan memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.

Pelanggaran ini teridentifikasi di beberapa cabang olahraga penting selama perhelatan ASEAN Para Games 2025. Dampak langsung terlihat pada peluang atlet Indonesia meraih medali. CdM berharap ada perbaikan signifikan di masa mendatang.

Reda Manthovani menyoroti kasus di cabang para tenis meja yang melibatkan atlet Thailand. Seorang atlet Thailand yang memiliki klasifikasi resmi internasional di TT4 justru dipertandingkan pada kategori TT5. Ini merupakan pelanggaran regulasi yang jelas.

Menurut aturan internasional, atlet wajib bertanding sesuai klasifikasi awal dan resmi yang telah ditetapkan. Ketidaksesuaian klasifikasi ini secara langsung mengurangi peluang atlet Indonesia. Situasi ini menciptakan ketidakadilan dalam kompetisi.

Pelanggaran regulasi ASEAN Para Games 2025 ini sangat disayangkan. Hal ini berpotensi mengubah dinamika perolehan medali. Tim Indonesia berharap APSF dapat meninjau kembali kasus ini.

Temuan serupa juga terjadi pada cabang para cycling, khususnya di nomor individual time trial dan road race putra. Regulasi menyatakan bahwa nomor individu layak dipertandingkan jika diikuti minimal empat atlet dari setidaknya dua negara. Namun, kondisi di lapangan berbeda.

Pada dua nomor tersebut, pertandingan tetap dilangsungkan meskipun hanya diikuti oleh tiga atlet. Lebih lanjut, seluruh peserta berasal dari satu negara, yaitu Thailand. Ini jelas menyalahi aturan yang telah disepakati.

Pelanggaran regulasi ASEAN Para Games 2025 ini menimbulkan pertanyaan besar. Integritas kompetisi menjadi taruhan. CdM Indonesia menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi demi keadilan.

Selain para tenis meja dan para cycling, Reda juga mengungkapkan masalah di cabang para atletik. Sejumlah nomor individu tetap dipertandingkan meskipun hanya diikuti dua hingga tiga atlet. Seluruh peserta dalam nomor-nomor ini juga berasal dari Thailand.

Situasi ini berdampak signifikan pada distribusi dan perolehan medali. Ketika hanya ada sedikit peserta dari satu negara, peluang medali menjadi sangat terbatas. Ini mengurangi esensi kompetisi yang sehat.

Pelanggaran regulasi ASEAN Para Games 2025 semacam ini harus menjadi perhatian serius. Tujuannya adalah untuk menjaga kredibilitas ajang olahraga disabilitas regional ini. Indonesia berkomitmen untuk terus menyuarakan sportivitas.

Seluruh catatan pelanggaran ini telah disampaikan secara resmi oleh CdM Indonesia kepada ASEAN Para Sports Federation (APSF). Langkah ini diambil untuk menjunjung tinggi sportivitas. Selain itu, ini juga demi meningkatkan kualitas penyelenggaraan Para Games di masa mendatang.

Penyampaian catatan ini bukan tanpa alasan, melainkan demi perbaikan kualitas kompetisi secara menyeluruh. Hal ini juga untuk melindungi hak-hak atlet yang telah berlatih keras. Kredibilitas ASEAN Para Games sebagai ajang regional harus tetap terjaga.

Per 23 Januari 2026, kontingen Indonesia telah mengumpulkan 69 emas, 76 perak, dan 69 perunggu. Pertandingan masih menyisakan dua hari lagi menjelang penutupan. Sebanyak 205 nomor pertandingan masih akan diikuti oleh atlet Indonesia.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi