Bupati Lampung Selatan Lepas 1.350 Santri Menuju Lirboyo: Perjalanan Menjemput Ilmu dan Tanggung Jawab Daerah

Bupati Lampung Selatan melepas 1.350 santri menuju Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Ini bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan langkah mulia menjemput ilmu dan membawa nama baik daerah, menandai komitmen daerah pada Pelepasan Santri Lirboyo.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Bupati Lampung Selatan Lepas 1.350 Santri Menuju Lirboyo: Perjalanan Menjemput Ilmu dan Tanggung Jawab Daerah
Bupati Lampung Selatan melepas 1.350 santri menuju Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Ini bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan langkah mulia menjemput ilmu dan membawa nama baik daerah, menandai komitmen daerah pada Pelepasan Santri Lirboyo. (AntaraNews)

Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, secara resmi melepas keberangkatan 1.350 santri asal wilayah setempat pada Sabtu. Para santri ini akan menempuh perjalanan jauh menuju Pondok Pesantren Lirboyo yang berlokasi di Kediri, Jawa Timur. Acara pelepasan santri Lirboyo yang penuh makna ini berlangsung di Kalianda, menandai dimulainya babak baru bagi ribuan calon ulama tersebut.

Sebanyak 27 armada bus telah disiapkan secara khusus untuk mengantarkan para santri. Mereka tergabung dalam Rombongan Mangkat Santri Lampung (Romansa), sebuah inisiatif yang memfasilitasi perjalanan pendidikan agama. Keberangkatan ini merupakan langkah awal yang krusial dalam mengasah keilmuan serta membentuk karakter luhur para santri.

Radityo Egi Pratama menegaskan bahwa perjalanan ini bukan sekadar bepergian semata. "Ini bukan sekadar perjalanan biasa. Ini adalah langkah mulia untuk menjemput cahaya ilmu," kata Bupati. Beliau juga menambahkan bahwa keberangkatan para santri ini adalah perjalanan spiritual yang sarat akan makna dan harapan besar.

Dalam sambutannya, Bupati Radityo Egi Pratama menyoroti peran strategis para santri sebagai aset spiritual daerah. Beliau berharap mereka dapat menjaga cahaya iman di Lampung Selatan melalui pendidikan yang akan mereka tempuh. Keberadaan santri di Pondok Pesantren Lirboyo diharapkan membawa dampak positif bagi kemajuan agama dan masyarakat.

Status sebagai santri di Pondok Pesantren Lirboyo bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi. Lebih dari itu, status ini juga membawa tanggung jawab besar untuk menjaga nama baik daerah asal. "Menjadi santri di sana berarti membawa nama Lampung Selatan. Saya titipkan nama daerah ini, belajarlah dengan tekun dan sungguh-sungguh," tegas Bupati. Pesan ini menjadi pengingat penting bagi setiap santri yang menempuh pendidikan di Lirboyo.

Proses belajar yang akan dijalani para santri harus dimaknai sebagai bekal pengabdian yang tulus. "Belajarlah dengan hati, pulanglah dengan bakti. Jadikan ilmu sebagai cahaya yang bermanfaat," ujar Radityo Egi Pratama. Ilmu yang diperoleh diharapkan tidak hanya berguna bagi diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan seluruh lapisan masyarakat.

Tradisi pelepasan santri seperti ini memiliki nilai filosofis yang sangat kuat di tengah masyarakat. Bupati Radityo Egi Pratama menjelaskan bahwa para santri tidak dilepas sendirian dalam perjalanan mereka. Sebaliknya, mereka diiringi oleh doa, dukungan moral, dan harapan besar dari berbagai pihak.

Dukungan tersebut datang dari orang tua, masyarakat luas, hingga pemerintah daerah Lampung Selatan. "Ini adalah kekuatan moral bagi mereka. Ada doa yang menyertai setiap langkah mereka," ucap Bupati. Kehadiran dukungan ini menjadi motivasi berharga bagi para santri untuk fokus menimba ilmu. Pelepasan santri Lirboyo ini menunjukkan komitmen daerah terhadap pendidikan agama.

Pemerintah daerah melalui Bupati Radityo Egi Pratama menunjukkan komitmennya dalam mendukung pendidikan keagamaan. Penyediaan 27 armada bus merupakan bukti nyata perhatian pemerintah. Ini memastikan bahwa 1.350 santri dapat berangkat dengan aman dan nyaman menuju tempat pendidikan mereka di Kediri.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi